Select Menu

Puisi

Kisah Inspiratif

Jodoh

Artikel Doa

Cinta Karena Allah

Dunia Muslimah

Seputar Remaja

Dunia Putri

Tanya Jawab

» » Aisyah dan Dugaan yang keliru


Mas Owi Selasa, Februari 14, 2012 0



Penduduk Madinah gempar. Betapa tidak, di atas untanya Shafwan ibnul Mu’atthal, lelaki yang tegap dan tampan itu ada Aisyah RA, istrinya baginda Rasulullah. Terang saja beragam sangka menghampiri penduduk Madinah. Bagaimana mungkin istri Rasulullah yang mulia itu, bisa berada di atas untanya Shafwan. Apa yang sebenarnya terjadi?


Penduduk Madinah pun terpecah. Kondisi ini dimanfaat Abdullah bin Ubay, seorang lelaki munafik untuk memperkeruh suasana. Akibatnya, dua suku terbesar Madinah, Suku Aus dan Khazraj saling duga. Suku Aus yakin benar bahwa tak mungkin istri Rasulullah itu melakukan penyelewengan. Mereka yakin bahwa Aisyah itu masih terjaga kesuciannya. Sementara suku Khazraj yang telah termakan asut, membela Abdullah bin Ubay karena alasan bahwa ia berasal dari golongan mereka.



Melihat kondisi demikian, Rasulullah pun cepat bertindak. Beliau berupaya menengahi pertikaian dua suku yang sebelumnya sudah menjadi musuh bebuyutan ini. Agar semua menjadi terang, Rasullullah ber-tabayyun (mengecek) kabar itu langsung pada Aisyah.

Di puncak kegalauan itu, dari atas langit Allah menurunkan ayat-ayat yang membebaskan Aisyah dari segala tuduhan yang disebarkan oleh orang-orang munafik. Aisyah, wanita mulia yang dicemburui langit itu, mendapatkan pembebasan Allah. Ayat Allah turun dalam Surat An-Nuur ayat 11 beserta sembilan ayat berikutnya.

Ya. Pada akhirnya cerita itu menjadi jelas. Bahwa sungguh Aisyah adalah istri yang terpuji. Ia berada di kudanya shafwan karena tertinggal rombongan Rasulullah. Aisyah tertinggal saat mengikuti Rasulullah dalam ekspedisi menaklukkan Bani Mustahiq. Ia keluar dari tandunya karena menyadari bahwa kalungnya tertinggal.

Namun, para pengawalnya tidak menyadari. Apalagi saat itu kondisinya malam hari. Sehingga mereka berangkat dengan membawa tandu itu tanpa ada Aisyah di dalamnya. Lalu Shafwan yang juga tertinggal, mendapati Aisyah tengah berselimut kainnya. Ia pun mempersilahkan istri Rasululah itu naik ke untanya untuk mengejar rombongan.

Cerita ini sempat mengguncang interigitas Madinah yang telah lama terbangun. Tapi perhatikanlah, bagaimana Rasulullah kala itu mengatasi masalah tersebut. Rasulullah tidak menerima kabar tersebut begitu saja, apalagi mengambil keputusan yang baru sekedar dugaan. Maka, Rasulullah menanyakan langsung kepada Aisyah agar semuanya benar-benar jelas.

Inilah keteladanan yang ditunjukkan Rasulullah kepada kita semua. Bahwa sebaris apapun kabar yang menghampiri. Kita tidak bisa menerimanya begitu saja. Perlu ikhtiar serius untuk memastikan berita itu benar atau tidak adanya. Apalagi nantinya ini menyangkut hajat hidup orang lain. Ini menjadi penting agar kita tidak menyesal di kemudian hari.

”Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu’ (Q. S. Al-Hujuraat: 6).

Firman Allah yang turun setelah setelah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) ini, mengajarkan kepada kita semua, agar teliti menerima sebuah kabar. Ya, sebab sebuah kabar, apapun itu nantinya akan mempengaruhi kita dalam mengambil keputusan, dan bahkan entitas dari keputusan itu sendiri.

Lihatlah, betapa banyak sudah orang yang berlaku zalim, karena tergesa-tergesa memutuskan suatu perkara tanpa terlebih dahulu mencari kebenarannya. Dan, betapa banyak pula orang yang telah menjadi teraniaya karena kekeliruan itu. Kita tentu tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang berlaku zalim tersebut. Oleh karenanya, marilah menjadi pribadi yang cerdas, yaitu pribadi yang teliti dalam menerima informasi.

sumber:Oleh Kang Ibnu

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply