Aku MenDamba Perkawinan Yang Menyempurnakan Agamaku - Mencintai Dengan Sederhana

Post Top Ad

Responsive Ads Here

9 Mar 2012

Aku MenDamba Perkawinan Yang Menyempurnakan Agamaku



Berkawinan bukan semata-mata karena cinta tetapi untuk menyempurnakan agama.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang hamba menikah, maka telah sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah pada setengah yang lain.”

Seperti mana sebuah cinta yang mendalam boleh pudar begitulah jua cinta yang tiada kan bisa dipupuk. Cuba kembali ke zaman dahulu di waktu nenek dan kakek kita bertemu dan bersatu. Kebanyakan dari mereka ditentu jodoh oleh ibu bapa. Tanpa bantahan tanpa bicara, perkawinan di setuju asalkan calon menantu seorang yang baik dan beriman.

Statistic penceraian yang terjadi di waktu itu tidak lah menghampakan seperti sekarang. Walau mereka bersatu bukan atas dasar cinta tetapi lama-kelamaan rasa itu bisa dirasa. Disitulah hikmahnya sebuah restu orang tua.

Tetapi coba kita buka mata dan melihat dunia hari ini. Penceraian demi penceraian sering kita kedengaran. Hampir saja perkara tersebut di anggap biasa dan kini kita sudah tidak terkejut mendengar penceraian yang berlaku di mana-mana pun.

Entah apa puncanya. Berkahwin karena cinta sama cinta pun masih banyak masalah melanda. Bercinta hampir beberapa contoh 5 tahun, berkahwin tak sampai 5 bulan. Mengapa terjadinya kejadian-kejadian yang terlalu mengecewakan ini?

Daripada Abu Hurairah daripada Nabi SAW, Baginda bersabda:


“Perempuan itu dinikahi kerana empat perkara, kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan kerana agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama nescaya kamu bahagia.”

Perkawinan sebenarnya sangat suci dan merupakan ikatan dua hati. Disitu kan teruji sebuah kesabaran, kesetiaan, ketaatan dan keyakinan. Berkawinlah dengan niat untuk menyempurnakan agama. Makanya, pasangan yang dipilih jangan karena nilai material yang ada padanya. Jika berkawin semata-mata hanya karena cinta, suatu masa nanti cinta akan pudar jika tidak di baja atau pun tatkala hati bertemu dengan insan yang lebih sempurna.

Berkahwin karena kesempurnaan dan kecantikan, suatu masa nanti tatkala kau jumpa kelemahannya, kau akan mula berasa hampa dan tidak berguna.

Oleh itu, berkahwinlah karena agama. Perbetulkan niat karena Allah yang lebih utama. Bukan berharap pada kesempurnaan dia semata-mata, tetapi tekadlah untuk sama-sama melengkapi kekurangan diri. Sama-sama membimbing ke jalan yang diredai.

Kehidupan ini tidak lama, kematian akan membawa kepada sebuah alam yang kekal. Di alam sana kita mau bersama keluarga kita kembali, berkumpul dan bersatu lagi. Tetapi jika kita tidak bentuk diri menjadi insan yang bertaqwa, bagaimana kita akan menemukan insan yang bertaqwa dan bagaimana nanti kita akan memimpin pasangan kita untuk bersama-sama dunia akhirat?


Allah S.W.T berfirman, “Perempuan yang jahat untuk lelaki yang jahat dan lelaki yang jahat untuk perempuan yang jahat, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik.” (an-Nur’:26)

Tidak mengapalah jika pasangan kita kurang rupa, asalkan dia orang yang kuat agama. Kecantikan dunia tidak akan kekal lama. Meningkat usia rupa sudah hilang mudanya. Dan perhatikan pula jika berlaku kemalangan yang menjejaskan rupa, mencacatkan anggota dan menghilangkan keupayaan kita, hilang ranap segala yang kita banggakan itu. Itulah kecantikan yang ada di dunia.

Tetapi, di alam syurga, semua manusia akan jelita dan kacak bergaya. Itu akan kekal abadi, dan mata tidak akan pernah jemu-jemu menatapnya. Subhanallah!

Jangan hampa jika pasangan kita tidak kaya, asal hatinya kaya dengan zikir-zikir mengingati yang Esa. Harta dunia cuma tipu daya. Kemiskinan satu ujian dan kekayaan jua suatu ujian. Malah jika iman menipis di dada, kekayaan yang melimpah ruah itu sememangnya sukar dijaga. Dan di akhirat nanti setiap perbuatan yang kita ada akan dipertanggungjawabkan dan dipersoalkan.

Cukuplah sekedarnya kita punya, asalkan kita masih mampu menjalani kehidupan dengan mudah dan sempurna. Asalkan kita mampu mencari rezeki yang halal yang tidak bergelumang hutang piutang, itu sudah memadai. Berdoalah kepada Allah memohon perlindungan dan kekuatan dari nafsu yang tidak jemu merayu.

Di alam syurga yang kekal sana, tiada lagi manusia yang miskin, segala apa yang dihajati akan sampai hatta dengan sekali niat sahaja. Rumah-rumah bersalut kemewahan, kenderaan yang jauh lebih hebat dan tidak mampu di bayangkan. Subhanallah,cukup besar anugerah Allah kepada mereka yang tidak melupakanNya.

Dari Abu Musa Al Asy’ari dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam beliau bersabda, “Sesungguhnya bagi orang-orang mukmin di dalam syurga disediakan rumah yang terbuat dari mutiara yang besar dan berlubang, panjangnya 60 mil, di dalamnya tinggal keluarganya, di sekelilingnya tinggal pula orang mukmin lainnya namun mereka tidak saling melihat satu sama lain.

Allah berfirman yang maksudnya:

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada yang beriman dan berbuat baik, bahawa bagi mereka disediakan syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai didalamnya”. (QS al-Baqarah : 25)

Bentuklah keluarga menjadi keluarga yang bahagia. Bahagia bukan hanya mendamba meterialistik semata-mata. Tetapi bahagia akan hadir dalam ridha Dia. Kukuhkan iman dalam ketaqwaan, biar derita menjadi ujian, asal penghujungnya sebuah keindahan yang berkekalan.

1 komentar:

  1. Menikah untuk menyempurnakan separuh agama, cukupkah?

    ”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (H.R. Baihaqi)

    Hadist di atas sangat masyhur di kalangan muslim. Tapi sayang, yang banyak dibicarakan sekedar menikah itu menyempurnakan separuh agamanya. Padahal kan nggak berhenti di situ. Coba kita amati lagi hadist tersebut. Di bagian belakang hadist tersebut ada kata-kata "...maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya".

    Ini yang mungkin kurang dibahas. Bahwa menyempurnakan agama itu nggak cukup hanya separuh saja (dengan jalan menikah). Tapi mustinya ada ghirah, ada semangat untuk menyempurnakan agamanya secara utuh. Nggak lucu dong kita menyempurnakan tapi separuhnya doang. Ibarat kita bangun rumah tapi temboknya cuma setengah tingginya trus nggak ada atapnya. Mana bisa dipakai buat berteduh, ya nggak?

    Terus bagaimana tuh caranya? Nggak ada cara lain, ya dengan bertakwa kepada Allah supaya agamanya sempurna, utuh.

    Nah, di sinilah pernikahan itu akan menjadi barokah, akan menjadi manfaat ketika pernikahan itu dipakai sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Jadi mustinya pernikahan itu membuat ketakwaan atau paling tidak semangat seseorang untuk memperbaiki ketakwaannya kepada Allah meningkat. Ibadahnya makin rajin, shodaqohnya makin bagus, yang jadi suami lebih rajin, lebih semangat nyari nafkah, dll.

    Jadi lucu kalau ada orang yang setelah nikah justru ibadahnya melorot. Musti ada yang dikoreksi dalam dirinya. Apa nih kira-kira yang salah?

    Lalu ada pertanyaan begini: kan nggak ada ukuran baku buat menilai ketakwaan seseorang naik apa nggak, gimana cara ngukurnya?

    Kita mah nggak perlu menilai orang lain ya. Cukup kita nilai diri kita sendiri. Setelah nikah, shalat kita gimana? Shadaqah kita gimana? Ngaji kita gimana? Intinya, seberapa baik kita menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Ada perbaikan, tetep segitu aja, atau malah merosot?

    Yuk, yang udah pada nikah kita introspeksi diri lagi, muhasabah lagi. Tapi nggak cuma yang udah nikah aja. Yang belum nikah juga kudu introspeksi, kudu muhasabah. Mempersiapkan diri dan mengingatkan diri sendiri supaya kalau nanti udah nikah tambah baik lagi.

    Jadi sekarang kita punya goal nih, punya target yang amat sangat penting buat kita raih.
    Targetnya: MENYEMPURNAKAN AGAMA SECARA UTUH, NGGAK CUMA SETENGAH.

    BalasHapus

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here