Ketika Cinta Berbicara - Mencintai Dengan Sederhana

Post Top Ad

Responsive Ads Here

11 Mar 2012

Ketika Cinta Berbicara



Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna dari penciptaan makhluk yang lain. Atas kesempurnaan ciptaan itu, manusia kemudian diberi amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Manusia, dengan segala kelebihanan kekurangannya, baik yang tampak atau lahir maupun yang tersembunyi di dalam dadanya, juga diberi anugerah untuk mencintai dan membenci terhadap apa-apa yang diperhadapkan kepada mereka dari kehidupannya di dunia.

Salah satu anugerah yang tidak dapat dipungkiri dari seorang manusia karena melekat erat dalam kehidupannya adalah rasa cinta. Siapapun orangnya, pasti memiliki perasaan cinta, baik kepada keluraganya, istri atau suaminya, anak-anaknya, bahkan cinta kepada dirinya sendiri. Banyak kisah tentang cinta yang telah kita saksikan dalam kehidupan ini. Ahkan bila lebih jeli, semua episode kehidupan yang sedang kita jalani ini adalah realisasi dari rasa cinta. Maka betapa seyogyanya manusia itu menjadi orang-orang yang bersyukur atas anugerah cinta yang besar itu.

Islam, sebagai agama yang mulia juga mendidik umat ini untuk mencintai. Rasa cinta yang dilandasi oleh agama, yakni mencintai sesuatu karena Allah merupakan sikap yang perlu diperbaharui. Bahkan, manusia dituntut untuk membenci sesuatu pun harus atas dasar karena Allah, sehingga pondasi benci dan cintanya lebih jelas dan lebih terukur karena Allah. Betapa banyak kisah cinta yang berakhir dengan perseteruan, perselisihan, perceraian, permusuhan, bahkan tidak jarang berakhir dengan kematian yang tidak seharusnya. Itu semua karena pondasi cintanya bukan karena perintah agama, yakni karena Allah.

Menarik berbicara tentang cinta. Saya, Anda, bahkan manusia seluruhnya memiliki kisah cinta berbeda. Namun yang perlu dicatat bahwa rasa cinta kepada makhluk atau apapun itu tidak akan pernah kekal bila tidak dilandasi oleh keikhlasan mencintai atau membeci karena Allah. Demikianlah akhlak Rasulullah yang mulia. Beliau mencintai umat ini karena Allah.

Beliau mencintai keluarganya karena Allah. Beliau mencintai para sahabatnya karena Allah. Beliau mencintai para pengikut ajarannya karena Allah. Beliau bahkan membenci seseorang atau sesuatu bilamana pelanggaran yang dilakukannya itu adalah pelanggaran terhadapperintah atau larangan Allah, yang demikian juga timbul karena ketaatan dan kepatuhan kepada Allah, dan landasannya ialah cinta kepada Allah. Rasulullah bahkan tidak pernah murka kepada seseorang bila yang dilanggar adalah haknya. Namun, ketika seseorang melanggar hak Allah, maka kemurkaan beliau lebih dari kemurkaan para makhluk Allah. Subhanallah, betapa tulus beliau mencintai Allah.

Begitu panjang kisah cinta karena Allah ini. Ada banyak riwayat dalam hadits-hadits yang shahih perihal bagaimana orang-orang shalih terdahulu saling mencintai karena Allah. Bahkan akibat cintanya yang tulus itu sehingga mereka mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Tidak dapat dipungkiri, bila kita yakin hakikat cinta karena Allah, maka cinta tersebut akan memuliakan para pelakunya baik disadari ataupun dipungkiri. Lebih jauh lagi bila kita memahami sebuah riwayat ketika seorang sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau, apakah seseorang itu akan bersama orang-orang yang dicintainya sekalipun ia belum pernah berjumpa dengannya? Rasulullah kemudian membenarkan pertanyaan sekaligus pernyataan sahabat tersebut.

Hal ini berlandaskan cinta para pengikut Rasulullah yang akan datang setelah masa beliau, yang belum pernah berjumpa dengan Rasulullah, namun mereka beriman kepadanya, kepada ajarannya atas dasar takwa kepada Allah. Mereka itulah orang-orang yang dikumpulkan kelak di akhirat di tempat terbaik bersama dengan orang-orang yang dicintainya karena Allah, termasuk bila mereka mencintai Rasulullah.

Lalu, bagaimana fenomena cinta yang menyelimuti kehidupan kita sekarang ini? Bagaimana kisah cinta dan mencintai di kalangan remaja, pemuda, dan setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya? Benarkah kisah cinta mereka itu murni karena Allah? Ataukah justru sebaliknya, cinta yang mereka bangun atas dasar hawa nafsu, atas obsesi popularitas, atas landasan perniagaan kehidupan dunia yang tidak kekal dan mengekalkan?

Bagaimana dengan pemuda-pemudi yang menyatakan dengan kesungguhannya bahwa berpacaran itu adalah karena Allah? Benarkah cinta mereka itu karena Allah? Benarkah cinta karena Allah itu dibalut dengan maksiat; bergandengan tangan dengan yang bukan mahram, berdua-duaan memadu kasih di tempat bersepi-sepi, meluapkan hasrat cinta dengan kalimat-kalimat mengandung syahwat, memandang dengan hawa nafsu kepada para “pasangan” yang tidak syar’i, dan benarkah perjuangan mereka itu atas dasar ilmu agama yang benar? Maka, alangkah dangkal apa yang mereka peruangkan itu sekalipun para orang tua mereka mempertaruhkan nyawa untuk mendukungnya.

Cinta yang benar tidak dibalut dengan maksiat. Cinta yang tulus bersumber dari iman yang tulus. Cinta yang ikhlas bersumber dari hati dan lisan yang ikhlas. Cinta yang mengekalkan adalah cinta yang dengannya seseorang akan semakin dekat kepada Tuhannya. Dan sebenar-benarnya cinta adalah cinta kepada Allah dengan segala “konsekuensinya”. Mari kita belajar mencintai sesuatu karena Allah karena sebab mencintai apapun itu karena Allah, maka Allah akan mengmpulkannya bersama-sama dalam keridhaan-Nya.

Saya bersyukur dan berterima kasih kepada kepada seorang sahabat, yang karenanya tulisan ini mewujud. Yakni ketika dia mengirimkan sebuah pesan singkat melalui ponsel dengan mengutip hadits shahih berbunyi: “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri” cinta tersebut adalah cinta karena Allah. Ada banyak hadits yang shahih tentang keutamaan mencintai seseorang karena Allah. Di antaranya adalah kisah peperangan Uhud ketika kaum Muslimin mengalami kekalahan dan kehilangan (baca: syahid) 70 sahabat. Di antara mereka terdapat Hamzah, paman Nabi sekaligus saudara sepersusuannya.

Rasulullah kemudian memberikan instruksi agar setiap dua Sahabat yang syahid dikubur dalam satu liang lahat saja. Saat kaum Muslimin mulai menggali makm untuk para syuhada tersebut, tiba-tiba Rasulullah menghentikan mereka.

Para sahabat bertanya, “Ada apa, ya Rasulullah?

Rasulullah menjawab, “”Carilah dua orang di antara korban peperangan ini, Amru bin Jamuh dan Abdullah ibn Haram.”

“Mengapa mereka berdua, ya Rasulullah?” Tanya para Sahabat lagi.

Rasulullah menjawab, “Kuburlah mereka berdua di dalam satu lubang karena mereka berdua ketika di dunia saling mengasihi dan menyayangi karena Allah.” Cukuplah sejarah yang gemilang ini memberikan pelajaran dan pengajaran kepada kita semua untuk membangun cinta kepada keluarga, sahabat, kerabat, dan kepada siapapun yang kita sukai murni karena cinta kita kepada Allah dan karena Allah sehingga dampak dari cinta itu bukan kemaksiatan melainkan kemaslahatan. Tentu dilandasi dengan ilmu yang baik dan lurus berdasarkan Al Qur’an dan Assunnah yang tidak disimpangkan makna dan pengertiannya.

Kepada seorang sahabat yang mengirimkan hadits tersebut di atas, semoga Allah merahmatimu dan menghiasi kehidupanmu dengan cahaya kemuliaan karena cinta kepada Allah. Saya mencintaimu karena Allah sebagaimana saya mencintai diri saya sendiri. Semoga kita semua bisa mengamalkan hakikat cinta yang benar tersebut.

Sumber:Aswar M Djulaifah/kompasiana.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here