Select Menu

Puisi

Kisah Inspiratif

Jodoh

Artikel Doa

Cinta Karena Allah

Dunia Muslimah

Seputar Remaja

Dunia Putri

Tanya Jawab

» » Merenungi Pelajar Berharga dari Bunga Mawar


Mas Owi Jumat, Maret 02, 2012 0



Mawar selalu menjadi bunga kesukaanku. Aku selalu terkesan dengan betapa sempurnanya mereka – untuk sesaat. Tetapi pada saat ini dan saat-saat berikutnya, aku membawa Mawar sebagai sebuah pelajaran berharga. Dan maksudku bukan sebuah pelajaran Botani dan Holtikultura. Maksudku adalah, sebuah pelajaran hidup.

Apa yang terjadi pada kelopak sempurna dari Mawar, hanya beberapa hari setelah mekar? Apakah akan menjadi merah terang, sebuah mawar yang indah menakjubkan hati? Kelopak ini akan lay dan kering. Warna Merah terangnya akan menjadi kuning atau coklat. Mawar yang dulunya penuh dengan keindahan dan kehidupan, berubah menjadi helai-helai kering yang akan jatuh dan rapuh bila disentuh sedikit saja. Dan tak peduli sesulit apa kita berusaha, tak peduli sesering apa kita menyiramkan air pada Mawar, kita tidak dapat melindunginya dari saat layu mereka.

Proses ini, jika kalian berpikir tentang yang terjadi ini, bukan tanpa alasan. danAllah berfirman di dalam Al-Quran dengan jelas tentang sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari tanaman.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadiid (57): 20)

Maka kelayuan atau keringnya sebuah mawar adalah salah satu tanda kekuasaan Allah untuk kita. Ini adalah salah satu yang paling penting bagi kita, Namun yang paling sulit adalah untuk mengajarkan realitas kehidupan: Tidak ada yang selamanya. Segala sesuatu akan hancur kecuali Allah.

Di Televisi, terlihat para bintang film atau aktris atau model cantik kemanapun kita pergia, gambar mereka menghiasi sampul majalah, koran, papan iklan, dll. Mereka mengoceh tentang kecantikan keindahan tubuh dan kecantikan ‘sempurna’ mereka. Tetapi apa yang terjadi dengan wajah-wajah mereka setelah 10, 20. 30 tahun kemudian? Mereka menjadi keriput, kecantikan mereka memudar, mereka mati. Apa yang terjadi dengan akal yang sehat dan cerdik, mungkin 50 tahun kemudian seseorang yang memiliki akal sehat dan cerdik sedang membuat terobosan baru? Mungkin mereka sedang mengingat-ingat nama mereka di rumah.

Dan realitas tersebut untuk membuat kita tertekan dan untuk menjatuhkan kita ke dalam kecerobohan? Tidak, realitas tersebut adalah untuk menyadarkan kita. itu hanyalah kehidupan duniawi yang tak berarti karena tak dilandasi dengan petunjuk Allah.

Contoh dari Mawar yang melayu, dan dengan rapuhnya buga hingga menjadi hancur, Allah mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di alam semesta ini akan hancur pada saatnya. Allah mengingatkan kita bahwa tidak ada yang kekal, kecuali Allah. Realitas ini tidak seharusnya membuat kita sedih atau tertekan, tetapi jadikanlah sebuah kesadaran dan pengingat bahwa loyalitas atau kecintaan terbesar kita tidak seharusnya diberikan kepada hal-hal yang fana (urusan duniawi).

Allah juga mengingatkan kita di dalam Al-Quran:

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (A-Qashash (28): 88)

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rahman (55): 26-27)

Pernyataan yang mendalam yang dimaksudkan untuk menyadarkan manusia. Dan dalam sebuah surat yang pendek Allah mengingatkan kita tentang masa (waktu) kehidupan:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (A-‘Ashr: 1-3)

Tetapi pertanyaannya: Manusia dalam kerugian? Kerugian apa yang dimaksud?

(dikutip dari Tafsir Al-Azhar)

Allah telah bersumpah atas nama waktu. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya waktu. Dunia terus berputar dan berlalulah masa demi masa, suka dan duka, masa muda dan masa tua. Ada masa hidup, kemudian mati dan tinggallah kenang-kenangan ke masa lalu. Setelah itu kita pun akan pergi ke alam kubur dan habislah masa yang kita pakai dan yang telah lalu tidaklah dapat diulang lagi, dan masa itu akan terus dipakai oleh manusia yang tinggal, silih berganti, ada yang datang dan ada yang pergi.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.” (ayat 2). Di dalam masa yang dilalui itu manusia hanyalah merugi. Dalam hidup tidak ada keuntungan sama-sekali. Hanya rugi yang didapati, Sehari mulai lahir ke dunia, di hari itu pula usia sudah berkurang satu hari. Setiap hari dilalui, sampai hitungan bulan dan tahun, dari muda ke tua, hanya kerugian jua yang didapat. Di waktu kecil senanglah hati dalam pangkuan ibu, itu pun merugi karena belum merasakan arti hidup dan hanya menjadi beban bagi orang lain. Setelah beranjak dewasa menjadi mandiri dan berkeluarga. Namun kerugian pun datang lagi. Sebab hidup mulai banyak tanggung jawab. Dan tanggung jawab akan lebih besar lagi bila anak telah terlahir yang harus dididik dan diasuh sampai sang anak mandiri.

Di waktu badan masih muda dan gagah perkasa harapan tergantung diatas langit. Tetapi bilamana usia mulai lanjut barulah kita sadar bahwa tidaklah semua yang kita angankan di waktu muda bisa tercapai. Banyak pengalaman di masa muda telah menjadi kekayaan jiwa setelah tua. Kita berkata dalam hati supaya beginilah yang seharusnya dikerjakan, begini mengurusnya, begitu melakukannya, dsb. Pengalaman di masa muda adalah sangat berharga.

Tetapi kita tidak ada kekuatan lagi buat mengerjakannya. Dan yang bisa kita lakukan hanyalah menceriterakan pengalaman itu kepada yang muda agar bisa lebih baik dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Sesudah itu kita bertambah lemah, bertambah letih, bahkan mungkin menjadi beban bagi anak dan cucu. Sesudah itu kita pun mati! Itu kalau umur panjang. Kalau usia pendek kerugian itu akan lebih besar lagi. Belum ada apa-apa kita pun sudah pergi. Kerugian dan kerugian yang ada pada hidup.

Kecuali orang yang beriman.” (awal ayat 3). Yang tidak akan merasakan kerugian dalam masa hanyalah orang-orang yang beriman. Orang-orang yang mempunyai kepercayaan bahwa hidupnya ini adalah atas kehendak Yang Maha Kuasa.

Manusia datang ke dunia ini sementara waktu, namun masa yang sementara itu dapat diisi dengan baik karena ada kepercayaan, ada tempat berlindung. Iman menyebabkan manusia sadar dari mana datangnya. Iman menimbulkan kesadaran apa arti dia hidup di dunia ini, yaitu hanyalah untuk beribadah kepada Maha Pencipta. Iman menimbulkan keyakinan bahwasanya sesudah kehidupan ini da kehidupan lagi. Itulah hidup yang sebenarnya, hidup yang kekal. Disana kelak segala sesuatu yang kita lakukan selama masa hidup di dunia ini akan diberi nilainya oleh Allah. “Dan beramal yang shalih,” bekerja yang baik dan berfaedah. Sebab hidup itu adalah suatu kenyataan dan mati pun kenyataan pula, dan manusia yang di sekeliling kita pun suatu kenyataan pula. Yang baik adalah terpuji dan yang buruk adalah merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Cahaya Iman yang telah tumbuh dalam jiwa telah menjadi keyakinan, dengan sendirinya akan menimbulkan perbuatan yang baik. Dalam kandungan perut ibu tubuh kita bergerak. Untuk lahir ke dunia kita pun bergerak. Maka hidup itu sendiri pun adalah gerak. Gerak itu adalah gerak maju! Berhenti sama dengan mati. Mengapa kita berdiam diri? Mengapa kita berpangku tangan? Tubuh kita mempunyai kecenderungan untuk bergerak, maka kita pun haruslah aktif bergerak. Bekerja hanyalah satu dari contoh, kerja baik atau kerja jahat.

Setelah kita meninggal dunia kita menghadapi dua kenyataan. Kenyataan pertama adalah, kenang-kenangan terhadap orang yang kita tinggalkan. Amal kita semasa hidup, akan menjadi kenangan bagi orang-orang yang kita tinggalkan. Kenangan itu hidup lebih lama daripada masa hidup kita sendiri. kenyataan yang kedua ialah bahwa kita kembali ke hadirat Allah.

Dan sebagai Mu’min kita percaya bahwa di sisi Allah lah amalan yang kita kerjakan itulah menjadi pembela atau beban kita dihadapan Allah. Dan beruntunglah orang-orang yang menghiasi hidupnya dengan amal yang shalih sehingga hidupnya tiada merugi. “Dan berpesan-pesanan dengan Kebenaran”. Karena bahwa hidup itu adalah hidup bermasyarakat. Kita merupakan makhluk sosial. Maka hubungkanlah tali silaturahmi dengan sesama manusia, saling memberi peringatan tentang kebenaran. Supaya yang benar itu dapat dijunjung tinggi bersama. Saling mengingatkan pula mana yang salah, supaya yang salah itu sama-sama dijauhi.

Dengan demikian beruntunglah masa hidup. Tidak akan pernah merasa rugi. Karena setiap personal merasakan bahwa dirinya tidaklah terlepas dari orang lain. Dan rugilah orang yang menyendiri, yang menganggap kebenaran hanya untuk dirinya sendiri. “Dan berpesan-pesanan dengan Kesabaran”. Tidaklah cukup kalau hanya saling berpesan tentang Kebenaran. Sebab hidup di dunia itu tidaklah datar saja. sering kaki ini terantuk duri, tersandung batu. Berbagai halangan merintangi hidup kita ini. Kesusahan dan kemudahan datang silih berganti.

Banyak orang yang merugi karena dia tidak tahan menempuh rintangan dan halangan dalam hidup. Dia rugi sebab dia mundur, atau dia rugi sebab dia tidak berani maju. Dia berhenti di tengah perjalanan. Padahal berhenti sama artinya dengan mundur. Sedangkan umur berkurang juga.
Maka kerugianlah yang akan menyertai masa hidup ini. Bila tanpa disertai dengan yang empat ini:
(1) Iman, (2) Amal shalih, (3) Ingat-mengingat tentang Kebenaran, (4) Ingat-mengingat tentang Kesabaran.

Ibnul Qayyim di dalam kitabnya “Miftahu Daris-Sa’adah” menerangkan; “Kalau keempat martabat telah tercapai oleh manusia, maka hasilnya adalah kesempurnaan hidup. Pertama: Mengetahui Kebenaran. Kedua: Mengamalkan Kebenaran itu. Ketiga: Mengajarkannya kepada orang yang belum tau. Keempat: Sabar di dalam mengingatkan dalam menghadapi cobaan. Jelaslah susunan yang empat itu di dalam Surat ini.

Dalam Surat ini Allah menerangkan martabat manusia. Dan Allah bersumpah, demi masa, bahwasanya tiap-tiap orang merugi dalam hidupnya kecuali orang yang beriman. Yaitu orang yang mengetahui kebenaran lalu mengakuinya. Itulah martabat pertama. Beramal yang shalih, yaitu setelah kebenaran itu diketahui lalu diamalkan; itulah martabat yang kedua. Berpesan-pesanan dengan Kebenaran itu, tunjuk menunjuki jalan ke sana. Itulah martabat ketiga. Berpesan-pesanan, nasihat-menasihati, supaya sabar menegakkan kebenaran dan teguh hati jangan bergoncang. Itulah martabat keempat. Dengan demikian tercapailah kesempurnaan.

Sebab kesempumaan itu ialah sempurna pada diri sendiri dan menyempumakan pula bagi orang lain. Kesempurnaan itu dicapai dengan kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Dan menyempumakan orang lain ialah dengan mengajarkannya kepada mereka dan mengajaknya bersabar dalam berilmu dan beramal.

Imam asy-Syafi’i berkata: “Kalau seluruh manusia di muka bumi ini mau merenungkan Surat ini, sudah cukuplah itu baginya.”

Maka segala puji bagi Allah yang telah membuat Surat ini, meskipun pendek namun isinya mengumpulkan kebajikan dengan segala cabang rantingnya. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kitabnya menjadi petunjuk bagi setiap aspek kehidupan, pengobat dari segala macam penyakit dan penunjuk bagi segala jalan kebenaran.”

Wallahu’alam bishshawwab.

Bunga-bunga mekar yang indah merona
Akan layu dan gugur
Yang membuat kita jatuh cinta pada awalnya
Namun besok adalah musim gugur
Hanya Allah yang kekal
Sedangkan kita akan hancur


ref: – Forum Muslima, -Tafsir Al-Ahzar surat Al-’Ashar

(zafara/muslimahzone.com)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply