Select Menu

Puisi

Kisah Inspiratif

Jodoh

Artikel Doa

Cinta Karena Allah

Dunia Muslimah

Seputar Remaja

Dunia Putri

Tanya Jawab

» » » Zabidah; Model Istri Pejabat (Khalifah), Teladan Umat


Mas Owi Senin, April 23, 2012 0



Tolong diam sejenak, lalu simaklah dengan baik! Duhai, apa kiranya suara unik yang bersumber dari istana Amirul Mukminin (khalifah) Harun ar-Rasyid itu. Sungguh, ia adalah suara yang menyerupai dengungan lebah. Mari lebih mendekat lagi ke istana. Ya, inilah suaranya semakin jelas terdengar. Oh! Ternyata mereka adalah para dayang Zabidah, isteri sang khalifah. Mereka rupanya tengah menghafal dan membaca al-Qur`an secara tartil.

Sejak lama, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam terbersit angan-angan nan indah di kepala Zabidah untuk dapat dipersunting oleh sang pemuda gagah itu. Kini, angan-angan yang selama ini hanya mimpi telah menjadi kenyataan.

Putra pamannya, Harun ar-Rasyid itu baru saja kembali bersama ayahnya, khalifah al-Mahdi dari medan perang setelah berhasil menaklukkan pasukan Romawi. Yang pasti, tak berapa lama lagi akan tercetus dua kegembiraan; kegembiraan atas kemenangan melawan musuh, dan kegembiraan karena menikah dengan ar-Rasyid.

Berbagai dekorasi pun telah dihias, sebuah pesta pernikahan (walimah) yang belum pernah disaksikan siapa pun sebelumnya di negeri Arab sebentar lagi akan diadakan. Zabidah berhias dengan aneka perhiasaan, mutiara, kasturi dan ‘anber. Aroma-aroma nan semerbak mewangi menyelimuti seantero pelaminan. Sementara khalayak bersuka cita dengan pernikahan yang diberkahi itu.

Akhirnya, Zabidah menikah dengan Harun ar-Rasyid. Rasa saling mencintai meliputi segenap hati keduanya. Ia dengan kecerdasan dan kelincahannya berhasil menambah rasa cinta sang suami terhadapnya. Ia berhasil membuat sang suami tak tahan untuk berpisah lama-lama dengannya dan tidak jenuh-jenuh mendampinginya serta yang lebih penting lagi, tak pernah menolak setiap permintaannya!

Hari-hari pun berlalu. Zabidah telah dikarunia seorang anak dari hasil perkawinannya dengan Harun ar-Rasyid. Bayi mungil itu diberi nama Muhammad al-Amin. Zabidah begitu menyayangi sang buah hatinya. Ia begitu belas kasih dan lembut terhadapnya. Salah satu buktinya, ia sampai-sampai mengutus budak perempuannya kepada al-Kisa`i, pengajar akhlak dan guru anaknya yang biasanya bersikap terlalu keras terhadap buah hatinya itu. Zabidah melalui pesannya mengatakan kepada sang guru, “Hendaknya kamu bersikap lembut terhadap al-Amin sebab ia adalah buah hati dan penyejuk mataku.”

Tak berapa lama, Harun ar-Rasyid pun diangkat menjadi khalifah. Berkat kepiawaiannya, negeri yang dipimpinnya menjadi semakin baik, kekuasaannya semakin luas sehingga ia sampai-sampai pernah berkata kepada awan mendung ketika melintas di atas kepalanya, “Pergilah, lalu hujanilah di tanah mana saja yang engkau mau, sebab hasil kebaikannya akan datang kepadaku.”


Zabidah, isteri khalifah umat Islam melihat perlunya ia ikut andil dalam menyebarkan kebaikan dan memakmurkan negeri Islam. Ketika berangkat menunaikan ibadah haji ke Baitullah tahun 186 H dan mendapati betapa kesulitan dan kesukaran yang dialami penduduk Mekkah untuk mendapatkan air minum, ia memanggil bendaharanya dan memerintahkannya agar mengumpulkan para insinyur dan pekerja dari seluruh negeri.

Ia menuturkan kepadanya, “Tolong dikejarkan, sekalipun satu pukulan kampak dihargai satu dinar!” Lalu digalilah sumur sehingga penduduk Mekkah dan jemaah haji dapat meminum darinya. Setelah itu, sumur itu dikenal dengan sumur Zabidah.

Zabidah tak cukup hanya berbuat seperti itu. Ia malah banyak membangun sejumlah masjid dan bangunan yang berguna bagi umat Islam. Ia membangun banyak sumur dan rumah di sepanjang jalan menuju Baghdad. Hal itu agar dapat membuat para musafir nyaman beristirahat. Zabidah pun ingin mengangkat putranya, al-Amin sebagai khalifah menggantikan ayahandanya kelak.

Akan tetapi Harun ar-Rasyid melihat al-Ma`mun, yang merupakan putra dari isterinya yang lain lebih berhak menduduki kekhilafahan karena lebih cerdas dan lebih lembut, sekalipun ia lebih muda usianya daripada al-Amin. Atas kebijakannya tersebut, Zabidah menemui suaminya, ar-Rasyid untuk menegur dan menyalahkannya. Lantas ar-Rasyid berkata kepadanya, “Celakalah kamu! Ini adalah urusan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaga orang yang meminta pengayomanku di mana ia diikatkan ke leherku.

Sedangkan kamu sudah mengetahui hubungan antara anakku (dari isteri yang lain, red) dan anakmu (dari hasil perkawinan dengannya, red), wahai Zabidah. Anakmu tidak berkompeten untuk menjadi khalifah. Ia demikian berharga di kedua matamu sebagaimana berharga bagi kedua orang tuanya. Takutlah engkau kepada Allah! Demi Allah, sesungguhnya anakmu itu amat aku cintai. Akan tetapi ini adalah masalah khilafah, yang tidak layak kecuali bagi orang yang benar-benar kompeten. Kita bertanggung jawab terhadap manusia. Tentu kita sangat tidak berharap bertemu dengan Allah sementara kita memikul dosa-dosa mereka, dan kembali kepada-Nya dengan membawa dosa mereka pula. Beri aku kesempatan untuk mempelajari masalah ini.”

Sekalipun demikian, ar-Rasyid akhirnya menyerahkan jabatan putra mahkota (wakil khalifah) kepada putranya, Muhammad al-Amin, kemudian, al-Ma`mun.

Ketika al-Ma`mun memasuki kota Baghdad setelah kematian al-Amin di mana pada waktu itu terjadi perseteruan antara mereka berdua seputar kekhalifahan, Zabidah menemuinya dan berkata kepadanya, “Aku ucapkan selamat atas jabatan khalifah ini di mana hati saya telah lebih dulu memberikan selamat atasnya sebelum aku melihatmu. Sekalipun aku telah kehilangan khalifah untuk selamanya (atas kematian putranya, red.), namun aku telah diberi ganti dengan anak yang bukan aku lahirkan sebagai khalifah.

Tidak akan merugi orang yang memiliki orang sepertimu, dan tidak akan berat bagi seorang ibu yang mengulurkan tangannya kepadamu. Aku memohon kepada Allah pahala atas apa yang telah diambil-Nya, dan pelipur lara dengan apa yang digantikannya untukku.” Maka berkatalah al-Ma`mun, “Sungguh, kaum wanita tidak akan pernah lagi melahirkan wanita seperti ini.

Dengan perkataannya ini, apa lagi yang masih tersisa bagi para ahli balaghah dari kalangan laki-laki?”
Zabidah wafat di Baghdad tahun 216 H setelah kehidupan yang penuh dengan kebaikan dan kebajikan. Semoga Allah merahmatinya, amin.

Sumber:Artikel www.kisahmuslim.com dari www.alsofwah.or.id

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply