Kahwin Muda : Jangan Ingat Mudah - Mencintai Dengan Sederhana

Post Top Ad

Responsive Ads Here

16 Mei 2013

Kahwin Muda : Jangan Ingat Mudah

Sejak akhir-akhir ini banyak yang menikah pada awal waktu, ketika masih belajar atau ketika umur masih muda .. Alhamdulillah ..

Meskipun diri ini juga tergolong dalam kelompok "kahwin awal" yaitu ketika tahun ke 2 di universitas, namun ada beberapa pesan singkat untuk renungan bersama, agar Sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW ini tidak berakhir dengan Fitnah!!

Apakah kepada mereka yang "mendukung" kahwin awal atau sangat "melawan" kahwin awal, apa yang perlu dipahami bahwa setiap individu memiliki situasi / masalah yg berbeda dan berbagai; ada yg perlu kahwin awal, ada yang merasakan tidak perlu menikah selagi belum habis belajar dan macam-macam lagi. Jangan mengharapkan orang lain sama pikiran dengan kita, meskipun rambut sama hitam, belum tentu hati dan perasaan itu memiliki persamaan.

Anjuran perkawinan oleh Nabi SAW melalui sabda beliau:
"Hai pemuda-pemuda: Siapa di antara kamu yang mampu nikah (disebut dalam syarah makna hadis ini," Nikah "berarti jima ', nafkah dan mahar)", maka Menikahlah, sesungguhnya ia (menikah) lebih menundukkan pandangan, lebih menjaga kemaluan. Dan jika dia tidak mampu, maka (dianjurkan) berpuasa; itu adalah penjagaan baginya. "
(Hadis Sahih Riwayat Al-Bukhari 1905, Muslim 1400)
Ada ulama hadis menyatakan bahwa istilah "pemuda-pemuda" di situ ditekankan sebagai promosi agar supaya pernikahan pada umur yang masih muda (ada ulama yang menyatakan sebelum umur 40 tahun, dan ada yang mengatakan 25 tahun dan berbagai lagi interpretasi ulama).
  • Di sini, dinyatakan beberapa situasi yang perlu diingat, sebelum membuat keputusan, tanpa menuding orang lain, tepuk dada, tanya hati dan iman!
Pertama: Mereka yang tidak mengalami gejolak jiwa, dan mampu menahannya (apakah dengan berpuasa, ataupun bisa mengontrol pikirannya dengan sebaik mungkin), maka golongan ini dianjurkan terus fokus pada apa yang dilakukan seperti belajar, bekerjaya dan sebagainya. Dalam waktu yang sama selalu bermohon kepada Allah agar segala urusan dipermudahkan di dunia dan di akhirat.

Kedua: Mereka yang "merasa" dirinya dapat menahan semua itu, tetapi dalam waktu yang sama sibuk melakukan berbagai maksiat (berhubungan bebas dengan bukan mahram), kelompok ini seharusnya mencari jalan keluar dari hal ini, apakah menghalalkan hubungan dengan pernikahan atau memutuskan hubungan agar hidup lebih diberkati. Lakukan ini karena taqwa kepada Allah insyaAllah pasti ada jalannya.

Ketiga: Mereka yang tidak dapat lagi menahan diri, mereka telah mencoba, tetapi hati mereka tetap tidak tenang, fokus hilang, hanya terasa ingin menikah saja, tetapi masih mampu mencegah diri dari maksiat-maksiat, maka golongan ini juga disarankan agar menemukan jalan terbaik dan mohon petunjuk Istikharah dari Allah, mengadu selalu kepada Allah, jika telah ada calon yang cocok, bergegaslah untuk halalkan dengan cara terbaik, canangkan dalam diri bahwa "aku lakukan ini karena Taqwa", tingkatkan prestasi diri melalui persiapan dari segenap segi, semoga jalan yang dipilih itu paling diberkati!

Firman Allah
"Siapa yang bertaqwa kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan larangan), niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (dari segala hal yang menyusahkannya).
(At-Talaq ayat 2
Melalui tiga situasi ini, dipahami bahwa masing-masing ada akal untuk menilai diri sendiri, di situasi dimana dirinya berada! dan jika perlu berbincanglah sebaiknya dengan mereka yang lebih tua (hormati pandangan mereka), atau siapa saja yang berpengalaman (yang dapat dipercaya). Apa saja pilihan kita, janganlah sampai keliru menilai seseorang melalui sudut kacamata diri kita (itu merupakan satu kesalahan besar), lantas menghukum org itu, lebih parah maka terkeluarlah kata-kata yang tidak sepatutnya kepada saudara kita sesama muslim.

"Gatal sangat dah ke, sampai harus kawin masa belajar!!",
"Belajarlah untuk selesai dahulu!!",
"Aku bisa fokus, takkan dia tak bisa, saja je tu nak kawin awal!" dan macam-macam lagi.

Seharusnya, adalah lebih baik kita mencoba memandang dari sudut kacamata orang tersebut, mungkin ada kejernihannya, dan berbagai kata yang menyakitkan hati itu mungkin tidak akan keluar, Memadailah pesanan Rasulullah SAW sebagai peringatan:
"Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam selamat dari lisannya (kata-kata vulgar / mengumpat) dan tangannya (kedholimannya)".
(HR al-Bukhariy: 6484)
Secara kesimpulannya, pegangan utama kita adalah Taqwa kepada Allah, jika kita mampu menghindari maksiat, dan mampu menahan diri, bahkan bisa fokus tanpa memikirkan hal-hal kahwin saat belajar, maka teruskanlah, dan jangan lupa berdoa untuk mendapat fasilitas / keberhasilan dunia dan akhirat ( termasuk hal-hal jodoh).

Sedangkan jika kita tidak mampu mencegah diri, telah menggeluti hubungan bukan mahram (terutama yang telah memiliki seseorang yang istimewa), persiapkan diri (dari segala segi), cari jalan untuk segera menghalalkannya, ataupun pilih jalan untuk menjauh dulu dari semua itu.

Ingatlah! Bagi mereka yg sedang dalam lamunan dan hanyut ombak, pikir-pikirkan utk menghalalkannya, dan jika masih belum siap, jangan sesekali bermain "api".

Dan untuk yang belum ada dan masih dalam proses mencari atau masih belum memikirkan, maka Sentiasalah berdoa ada diketemukan yang terbaik dari sisiNYA, dan setiap TaqdirNya itu dikaitkan dengan keredaannya semata-mata ..

  • Satu analogi untuk seseorg yang bersedia ke arah cinta halal atau yg sedang berambisi ke arah itu ..
"Untuk menjadi nahkoda, apa yang penting pada mulanya adalah persiapan sebuah bahtera yang lengkap dan berusaha sekuat mungkin untuk melihat dari segala penjuru pada kondisi bahtera tersbut, berikutnya, nahkoda juga perlu menyiapkan diri dengan ilmu-ilmu penanganan bahtera, serta ilmu-ilmu teknikel yang terkait, agar dengan membawa anak-anak kapal ke dalam bahtera berikutnya berlayar, dapat menjamin kenyamanan mereka semua dan yang pasti setiap bahtera memungkinkan nahkoda dan memungkinkan lautan menjanjikan berbagai peristiwa / dugaan yg bakal ditempuh, dan ini semua diatasi dengan ilmu-ilmu yang telah dilengkapi sebelum ini .. "
"Jika hanya mendayung sampan, jangan sesekali menduga lautan dalam, jika hanya persediaan terlalu sedikit, masih belum tetap pendirian dan keyakinan, jangan sekali-kali mencoba untuk memasuki pernikahan yang menanti dengan 1001 warna kehidupan yang mana impian fantasi belum tentu menjadi kenyataan .. "

Wallahu Anta A'lam

Sumber:iluvislam.com
diedit ulang oleh Admin :d:

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here