Select Menu

Puisi

Kisah Inspiratif

Jodoh

Artikel Doa

Cinta Karena Allah

Dunia Muslimah

Seputar Remaja

Dunia Putri

Tanya Jawab

» » Menjadi Hamba yang Bersyukur


Mas Owi Rabu, Februari 20, 2013 0

SYUKURI NIKMAT ALLAH Alhamdulillah. Bagi setiap orang yang diberi kekayaan oleh Allah SWT.Alhamdulillah. Bagi yang hidup dalam kondisi penuh kesederhanaan.Alhamdulillah. Bagi yang merasakan kesusahan dan penderitaan hidup.
Wahai, hebatnya sungguh.
Lihatlah bagaimana Allah SWT membagi nikmat. Tidak ada sedikit pun nikmat yang diberikanNya terlebih atau terkurang. Semuanya menurut perkiraan yang tepat sesuai dengan kondisi saat makhluk-makhluk.Terkadang Allah menyempitkan, agar hamba-Nya tidak hanyut dibuai kesenangan arus dunia. Terkadang Allah melapangkan, agar hamba-Nya tidak selalu dalam kesempitan. Dan terkadang pula Allah melepaskan dari keduanya dan diberikan kesederhanaan, agar hamba-Nya tidak tergantung pada sesuatu selain semata-mata.TUJUKAN pandanganmu KE BAWAHSabda Rasulullah SAW: "Lihatlah kepada orang yang di bawah kamu dan jangan lihat orang yang di atas kamu. Itu lebih baik agar kamu tidak memandang remeh nikmat Allah atas kamu. "- HR Muslim, no. 7619.Bila memandang akan dunia, sesekali lihatlah ke bawah, untuk sadar akan nikmat Allah yang melimpah ruah. Maka hitung-hitunglah sebanyak sudah lafaz syukur diucapkan dan sebanyak pula ia diterjemahkan dengan amalan lahir.

Kadang-kadang, ketika manusia selalu berada di 'zona nyaman', pasti perasaan lupa dan alpa hinggap menerjang diri sehingga terbuai-buai hanyut dibelenggu lingkup kehidupan tanpa langsung menyadari bahwa semua kenyamanan itu hanyalah bersifat sementara dan adalah tes dari Allah pemilik dunia dan seluruh isinya!
Tes, untuk membedakan siapakah hamba yang mengingat di kala dilimpahkan segala perbendaharaan dan kemewahan dunia kepadanya.
Tes, untuk membedakan siapa yang syukur, siapa yang kufur.
Justru ingatlah, sebagai hamba pasti akan selalu diuji. Pandanglah ke bawah, supaya tidak leka dan lalai.
KISAH ORANG KAYA DAN ANAKNYAAda seorang kaya, yang pada suatu hari mengajak anaknya yang masih berumur tujuh tahun untuk berkunjung dan menginap selama beberapa hari di sebuah desa. Dato 'Hassan - begitu nama orang kaya tersebut, dan di desa itulah dia menghabiskan masa kecilnya sehingga kedua orang tuanya meninggal.Desa itu tersangatlah terpencil, jauh dari hiruk pikuk keramaian ibu kota. Penduduk di sana memang terlihat seperti orang miskin.Ya, selain ingin memindai kenangan masa kecilnya, orang kaya yang terkenal sangat suka melontarkan kata-kata penuh inspirasi itu juga ingin memberi pelajaran kepada anaknya tentang kehidupan. Ada satu pemahaman yang ingin ditanam ke dalam diri anaknya.Selama beberapa hari, Dato 'Hassan dan anaknya tinggal di rumah temannya. Rumah itu adalah milik Paman Amat, teman juga sahabat kecilnya. Rumah orang miskin itu sangat sederhana, berdinding papan, dan tidak memiliki pagar. Sekitar 10 meter di belakang rumah itu ada sungai kecil yang sangat jernih airnya. Sungai yang sama yang digunakan oleh mereka bermain air dan berenang bersama teman-teman, 30 tahun yang lalu. Di depan rumah tersebut terdapat tanah lapang, tempat anak-anak petani menggembala ternak. Juga tempat mereka sering bermain layang-layang dengan girangnya.Tanpa terasa sedikit pun, 5 hari telah berlalu, dan Dato 'Hassan merasakan bahwa sudah waktunya untuk kembali ke ibu kota. Di dalam mobilnya, Dato 'Hassan melontarkan pertanyaan penting bayi mereka, "Bagaimana, nak? Apa yang kamu lihat di sana? "Dato 'Hassan berharap anaknya sudah bisa memahami perbedaan antara dua sisi kehidupan.
"Waah ... sungguh menakjubkan, Abah!" Jawab anak itu. "Kita selalu mengubah kolam yang mahal di belakang rumah, sedangkan mereka kolam renangnya paanjaaaaang sekali." Anak itu melanjutkan lagi, "Halaman rumah kita sempit dan tidak dapat melihat apa-apa karena ada tembok, sedangkan halaman rumah mereka luaaaas sekali, sejauh mata memandang, bahkan bisa digunakan untuk bermain layang-layang! Kita ada taman di tepi rumah, sedangkan mereka memiliki taman yang besaaar sekali! Kita selalu berbelanja di supermarket setiap kali ingin menyediakan makanan, sedangkan mereka hanya ambil saja di kebun! Tak payah bayar! "
 Sambil mengusap mulutnya, anak itu berkata lagi, "Kita ke luar negeri untuk membeli lampu taman, sedangkan lampu taman mereka baanyaaak sekali, berserakan dan berkedip di angkasa! Setiap hari Abah pergi kerja dari pagi sampai malam, sedangkan Pakcik Amat? Waaah .. setiap sore dia berkejar-kejaran dengan anak-anaknya! Kita ke equesterian bila ingin menunggang kuda, kalau mereka? Setiap hari mau naik apapun pun bisa, ada kuda, ada kerbau, bahkan ada burung unta! Tak payah bayar! Wah, ternyata kita adalah orang miskin Abah ..... kita kalah dengan mereka, Abah ... "

Tidak ada jawaban, motivasi, ataupun kata-kata inspirasi yang bisa keluar dari mulut Dato 'Hassan sampai mereka sampai di rumah. Hatinya cukup berbunga karena tujuannya untuk melihat anaknya, memandang kehidupan dari dua sudut yang berbeda, tercapai jua!

RAHASIA KELAPANGAN DAN KEMURAHAN REZEKIIslam menyuruh penganutnya memandang kepada yang lebih rendah dari segi harta dan kekayaan. Hal ini demikian agar setiap yang bergelar hamba kepada Yang Maha Esa, sadar akan betapa banyaknya nikmat yang telah dirasakan sampai hari ini dan tidak memperlekeh-lekehkan nikmat tersebut.Namun, Islam bukanlah agama yang menghalangi umatnya untuk mencapai keberhasilan. Bahkan setiap dari kita wajib berusaha memperbaiki kehidupan ke arah yang lebih baik sebagaimana firman Allah SWT:

"... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri ..." - Ar-Ra'du ayat 11.
Maka berusaha dan bertawakkal kepada Allah adalah jalan yang terbaik!Ada satu kisah tentang kelapangan dan kemurahan rezeki.Ada rahasia yang tersirat di sebaliknya.Kisah tentang seorang pedagang pria, yang suatu hari bermimpi didatangi oleh Nabi Khidir as Dalam mimpi, pedagang diperintahkan untuk bersedekah uang sebanyak 1000 dinar. Tiga kali mimpi tersebut berulang, lalu memicu ilham kepada pedagang tersebut bahwa mimpi itu adalah benar.Lantas, pedagang itu pun bersedekah sebanyak 1000 dinar, menurut perintah Nabi Khidir as Selang beberapa saat kemudian, pedagang tersebut sekali lagi bermimpi bertemu dengan Nabi Khidir. Kali ini, Nabi Khidir mengajarkan kepada pedagang tersebut ayat 2-3 At-Talaq:


Maka, beramallah pedagang tersebut dengan ayat tersebut.Sampai suatu hari yang tenang, pedagang tersebut pergi berdagang ke suatu tempat yang lain melalui jalan laut, yaitu dengan naik kapal. Di tengah perjalanan, tiba-tiba angin topan yang dahsyat melanda kapal tersebut beserta seluruh isinya.Ketergantungan si pedagang hanya tinggal pada Allah SWT semata. Dibacanya ayat yang diajarkan oleh Nabi Khidir as dengan terus-terusan, sambil bertawakkal kepada Allah.Tanpa dapat diselamatkan, kapal yang ia naiki akhirnya pecah dipukul ombak badai yang bergelora. Semua isi kapal hanyut dibawa arus yang tidak tertandingi oleh kodrat manusia. Ketika angin telah reda, pedagang tersebut menemukan dirinya terdampar di tepi pantai sebuah negeri bersama barang dagangannya yang tidak rusak walau sedikit pun. Segera menadah tangan mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa, sadar dan insaf akan kebesaran ayat yang diamalkannya itu, lalu pedagang tersebut berkeputusan untuk tinggal di negeri itu.Maka, tinggallah si pedagang di negeri yang baru, berdagang dan berbisnis, di samping terus mengamalkan ayat 2-3 At-Talaq, sehingga ia diangkat menjadi raja di negeri tersebut (rezeki yang tidak disangka-sangka).KESIMPULAN

Yakinlah bahwa Allah itu Maha Adil. Bukankah Dia telah berjanji dalam Surah Al-Maidah (5) ayat 3: "... Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan bagimu nikmat, dan telah kuredhai Islam itu menjadi agama bagimu ..."
Justru, kita sebagai hamba-Nya, wajib beriman dengan sepenuhnya kepada Allah dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan larangan serta bersangka baik dengan nikmat ketentuanNya!Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Jika sekiranya kamu menghitung nikmat Allah, pasti kamu tidak akan dapat mengiranya." - Surat Ibrahim, ayat 34.Maka nikmat yang mana mau kamu dustakan (tidak mensyukuri)?

Oleh: Hafiz Ramli

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama