Select Menu

Puisi

Kisah Inspiratif

Jodoh

Artikel Doa

Cinta Karena Allah

Dunia Muslimah

Seputar Remaja

Dunia Putri

Tanya Jawab

» » » Menjadi Kerabat Terbaik


Mas Owi Kamis, Mei 16, 2013 0


Seorang muslim tidaklah hidup sendiri. Seorang muslim hidup di dunia ini dikelilingi oleh banyak manusia, baik yang dekat maupun jauh. Oleh karena itulah seorang muslim hendaknya tidak menutup diri, mata dan telinga dari keadaan manusia di sekitarnya.


Bahkan, Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – telah menyatakan,
الْمُسْلِمُ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُسْلِمِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
Al-Muslimu Iidza Kana Mukhalithana Al-N'nasa Wayashbiru Aala Adzahum Khayrun Min Al-Muslimi Al-'-adzi La Yukhalithu Al-N'nasa Wala Yashbiru Aala Adzahum
“Seorang muslim jika dia mau bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, maka itu lebih baik dari seorang muslim yang tidak mau bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (Riwayat at-Tirmidzi, lihat ash-Shahihah, no. 939)
Manusia yang ada di sekelilingnya itu tentu memiliki kedudukan dan hak yang berbeda-beda. Semakin dekat keberadaan mereka maka hak pun menjadi semakin lebih besar.
Kedudukan Kerabat dalam Islam

Yang dimaksud dengan kerabat di sini adalah orang-orang yang memiliki kedekatan pada seseorang dari sisi kekeluargaan atau nasab keturunan baik dari pihak bapak atau ibu, seperti misalnya saudara, paman, bibi, sepupu, dan lainnya yang memiliki hubungan nasab. Dalam Islam, mereka mendapatkan kedudukan yang harus dijaga hak-haknya, sebagaimana Allah berfirman,
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ
Waaati Dza Al-Qurba Haq'qahu

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya.” (al-Isra: 26)

Allah juga berfirman,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ
Wa'budua Al-L'laha Wala Tusyrikua Bihi Syayiana ۖ Wabialwalidayni Iihsanana Wabidzi Al-Qurbaٰ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat…” (an-Nisa: 36)

Maka Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya semata, tidak melakukan kesyirikan dalam ibadah, kemudian Dia memerintahkan mereka untuk menunaikan hak-hak hamba, dengan memperhatikan mana yang paling dekat terlebih dahulu. Maka semakin dekat hubungan kekerabatan seseorang, semakin besar hak yang harus ditunaikan kepadanya.
Hak Kekerabatan
  • Jika demikian kedudukan kerabat dalam Islam, dan kita memiliki kewajiban untuk menunaikan hak-hak mereka, tentu kita pun harus mengetahui apa saja yang menjadi hak-hak mereka atas diri kita. Di antara hak-hak kerabat yang perlu diperhatikan:
1- Menyambung hubungan kekerabatan.

Inilah yang sering dikenal dengan istilah silaturrahim, menyambung hubungan dengan siapa-siapa saja yang memiliki hubungan kekerabatan. Dan dalam hadits telah diterangkan bahwa maksud menyambung hubungan ini bukanlah sekadar membalas kebaikan kerabat, atau menyambung hubungan dengan orang yang mau berhubungan. Bahkan silaturrahim itu adalah menyambung hubungan dengan orang-orang yang memutuskan hubungan.

Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
Laysa Al-Washilu Bialmukafiii Walakin Al-Washilu Al-'-adzi Iidza Quthi'at Rohimuhu Washolaha

“Orang yang menyambung hubungan (silaturrahim) bukanlah orang yang membalas (hubungan orang lain). Akan tetapi orang yang bersilaturrahim adalah orang yang jika hubungan rahim (kekerabatannya) diputus, maka dialah yang menyambungnya.” (Riwayat al-Bukhari)

Silaturrahim ini bisa diwujudkan dengan berbagai cara, seperti memberi manfaat kepada kerabat baik berupa manfaat materiil maupun non materiil, mengunjungi kerabat, memberi hadiah, menanyakan keadaan, memberikan salam dan lain sebagainya. Bahkan bisa dikatakan, seluruh bentuk kebaikan yang kita lakukan kepada kerabat, baik dalam urusan dunia maupun agama, maka termasuk bagian dari silaturrahim.

2- Dakwah dan mengajak kerabat kepada jalan yang lurus.
Sebagaimana dahulu Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – diperintahkan untuk memberikan peringatan kepada kerabat-kerabat beliau, melalui firman Allah l,
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Waandzir Aasyiyrotaka Al-Aqrobiyna

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (asy-Syu’ara: 214)
Syekh as-Sa’di – rahimahullah – berkata, “Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – melaksanakan perintah Allah ini. Beliau pun mengundang seluruh keturunan Quraisy, secara umum maupun khusus. Beliau memberikan peringatan dan nasihat kepada mereka. Dan beliau tidak menyisakan sedikit pun dari apa yang beliau mampui melainkan beliau lakukan, seperti menasihati dan memberi petunjuk kepada mereka. Maka sebagian mereka mengikuti petunjuk, dan sebagian yang lain berpaling darinya.”
Dan kita sebagai umat beliau, juga hendaknya meneladani beliau dalam dakwah ini. Usahakan orang terdekat kita, keluarga kita, kerabat kita sebagai orang-orang yang juga merasakan nikmatnya mendapat petunjuk. Dan tidak sempurna keimanan seseorang sampai dia senang saudaranya mendapatkan kebaikan sebagaimana dirinya mendapatkan kebaikan.
Kala Kerabat Terjerat Maksiat

Berusahalah menjadi kerabat terbaik, dengan menunaikan hak-hak kerabat yang telah dijelaskan dalam syariat ini. Ketika kerabat dalam keadaan susah, berikan pertolongan. Jika dia meminta sesuatu, maka berikanlah apa yang diminta jika tidak memberatkan kita. Jika dia terzhalimi, maka tolonglah dia. Dan ketika dia berbuat zhalim, tolonglah dia untuk terhenti dari kezhalimannya. Inilah kerabat terbaik.

Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ
مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

Anshur Akhaka Dhalimana Au Madhlumana Faqala Rojulun Ya Rosula Al-L'lahi Anshuruhu Iidza Kana Madhlumana Afaroayta Iidza Kana Dhalimana Kayfa Anshuruhu Qala Tahjuzuhu Au Tamna'uhu Min Al-Dh'hulmi Faiin'na Dzalika Nashruhu
“Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zhalim atau ketika dia dizhalimi.” Seseorang berkata, Wahai Rasulullah, saya bisa menolongnya jika dia dizhalimi, lalu bagaimana jika dia berbuat zhalim, bagaimana saya menolongnya? Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – berkata, “Engkau cegah atau halangi dia dari berbuat zhalim, maka itulah cara menolongnya.” (Riwayat al-Bukhari)
Sedangkan kezhaliman mencakup semua hal yang bertentangan dengan syariat. Karena kezhaliman itu ada tiga macam, kezhaliman terhadap hak Allah, kezhaliman terhadap diri sendiri dan kezhaliman terhadap orang lain. Oleh karena itu, ketika seorang muslim mengetahui salah satu kerabatnya melakukan maksiat, hendaknya dia mencegahnya sebelum dilakukan kemaksiatan itu, atau menasihatinya untuk berhenti dan bertaubat jika dia telah terlanjur terjerumus dalam kubang kemaksiatan.

Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
الظُّلْمُ ثَلاثَةٌ، فَظُلْمٌ لا يَتْرُكُهُ الله، وَظُلْمٌ يَغْفِرُ، وَظُلْمٌ لا يَغْفِرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لا يَغْفِرُهُ الله فَالشِّرْكُ لا يَغْفِرُهُ الله وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يَغْفِرُهُ
فَظُلْمُ العَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لا يَتْرُكُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ فَيَقْتَصُّ اللهُ بَعْضَهِمْ مِنْ بَعْضٍ
Al-Dh'hulmu Tsalatsatun, Fadhulmun La Yatrukuhu Al-Lh, Wadhulmun Yaghfiru, Wadhulmun La Yaghfiru, Faam'ma Al-Dh'hulmu Al-'-adzi La Yaghfiruhu Al-Lh Falsy'yirku La Yaghfiruhu Al-Lh Waam'ma Al-Dh'hulmu Al-'-adzi Yaghfiruhu Fadhulmu Al-Abdi Fiyma Baynahu Wabayna Rob'bihi Waam'ma Al-Dh'hulmu Al-'-adzi La Yatruku Fadhulmu Al-Ibadi Fayaqtash'hu Al-Lhu Ba'dlahim Min Ba'dlin
“Kezhaliman itu ada tiga; kezhaliman yang tidak akan Allah biarkan, kezhaliman yang akan dia ampuni, dan kezhaliman yang tidak akan dia ampuni. Adapun kezhaliman yang tidak Allah ampuni, maka kesyirikan tidak akan Allah ampuni. Adapun kezhaliman yang akan diampuni adalah kezhaliman hamba (terhadap dirinya sendiri) dalam perkara yang ada antara dirinya dan Rabb-nya. Adapun kezhaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah kezhaliman sesama hamba sehingga Alah akan mengqishah yang satu dengan yang lain.” (Riwayat ath-Thayalisi dalam Musnadnya, lihat ash-Shahihah karya al-Albani – rahimahullah -, no. 1927)
Dan tentu saja kerabat yang baik tidak akan menjadikan kemaksiatan kerabatnya sebagai bahan untuk mencela. Bahkan dia akan merasa sedih dan sangat ingin membantunya terlepas dari kemaksiatan. Dia akan berusaha dengan cara-cara yang mungkin dia tempuh dengan seefektif mungkin untuk membebaskan kerabatnya dari kubangan maksiat.
  • Suatu ketika Abu Darda – radhiyallahu ‘anhu – pernah melewati seseorang yang telah berbuat dosa, namun disekitarnya ada orang-orang yang mencelanya. Maka Abu Darda – radhiyallahu ‘anhu – pun berkata kepada orang-orang yang mencelanya itu, “Bagaimana menurut kalian, jika kalian mendapati dia berada di dalam jurang yang sangat dalam, apakah kalian akan menyelamatkannya?” Mereka menjawab, ‘Tentu!’ Lalu beliau berkata, “Maka pujilah Allah yang telah menyelamatkan kalian, namun janganlah kalian mencela saudara kalian.”
Benarlah ucapan beliau – radhiyallahu ‘anhu -. Kita tidak layak mencelanya, bahkan kita layak untuk memuji Allah yang telah menyelamatkan kita dari kemaksiatan seperti yang dilakukannya, disamping kita juga terus berusaha untuk mengajaknya kembali bertaubat kepada Allah sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Dan dalam usaha ini, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat dan hidayah Allah. Jangan sampai kita menganggap bahwa kerabat kita yang bermaksiat itu sudah tidak bisa lagi diperbaiki sehingga seolah-olah kita menganggapnya pasti akan masuk ke dalam neraka, wal ‘iyadzu billah. Dan cukuplah Nabi kita – shallallahu ‘alaihi wa sallam – sebagai teladan dalam mendakwahi kerabat, ketika paman beliau, Abu Thalib akan meninggal dunia, Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – terus menerus mengajaknya untuk mengucapkan kalimat tauhid. Meski akhirnya Abu Thalib mati kafir, namun ini menunjukkan bahwa Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – tidak pernah putus asa dalam mendakwahi dan menasihati umatnya terutama kerabat beliau sendiri. Wallahu a’lam.

SUMBER: Rubrik Lentera, Majalah Sakinah Vol. 11 No. 4

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply