Select Menu

Puisi

Kisah Inspiratif

Jodoh

Artikel Doa

Cinta Karena Allah

Dunia Muslimah

Seputar Remaja

Dunia Putri

Tanya Jawab

» » » » Monolog Cinta


Mas Owi Kamis, Juni 27, 2013 0



Dia merenung dalam bait tinta yang ditangkap lensa miliknya. Sepasang mata yang bening itu bergerak-gerak kiri ke kanan. Dia mencoba untuk memahami kata-kata itu.
"Cinta bukan tujuan, tapi hanyalah jalan. Cinta itu bukan tujuan, tapi hanyalah alat ... "- Ustaz A.Ubadillah Alias
Dahinya dikerutkan. Keningnya dirapatkan. Tanda dirinya sedang memikirkan sesuatu yang mengusik perasaan.

"Cinta bukan tujuan. Tapi jalan. Cinta bukan tujuan. Tapi alat .. "Bait tinta itu bergema dalam sanubarinya.

"Apa artinya?" Dia bermonolog.

Lama dia merenung. Sesekali, dia mengirim pandangan ke luar jendela. Dia menatap ke arah langit. Cerah. Subhanallah, indah ciptaan-Mu - Burung-burung berkicauan, tanda bertasbih kepada-Nya. Sang unggas bernyanyi riang, tanda memuji kepada-Nya. Segala yang ada di langit maupun di bumi sujud pada keEsaan-Nya. Dalam asyik dia menatap keindahan ciptaan Tuhan, ada sesuatu yang mengusik kalbunya.

Cinta. Ya. Dia tahu dia masih muda remaja. Dia tahu masih banyak tugas yang harus digalasnya. Dia tahu masih banyak impian yang belum diraihnya. Dia tahu, umi dan Abinya mengharapkan sesuatu darinya. Dia tahu perjalanan hidupnya baru dimulai. Dia tahu dia tidak seharusnya asyik dalam cinta dunia. Dia tahu dan dia mengerti semuanya. Namun, entah mengapa setiap kali dia mencoba mengusir satu rasa yang bertamu di dada, tiap kali juga dia kalah melawan perasaannya.

Ya Allah, begitu kuat rasa itu hadir ke dalam kalbunya.

Apa yang harus dia lakukan? Langkah apa yang harus dia aturkan? Strategi apa yang harus dia rencanakan?

Semuanya tampak suram. Semuanya terlihat tidak berjalan. Hatinya kembali rawan. Mengapa dirinya tidak mampu melawan? Mengapa perasaannya seringkali kecundang? Mengapa hatinya seringkali bermusuhan dengan apa yang dia pikirkan? Hati dan akalnya tidak sehaluan.
Dia tidak ingin tenggelam dalam dekapan cinta yang melekakan. Dia hanya ingin tenggelam dalam dekapan cinta Tuhan. Tapi, makin kuat ia mencoba, makin kuat pula dia diduga.

Dia tahu, dia harus kuat menghadapinya. Dia tahu, dia harus melawan rasa cinta yang bertamu dalam hatinya. Dia tahu, dia harus mengusir rasa cinta pada manusia. Mengusir cinta bukan berarti membenci. Tetapi lebih kepada menjaga jarak antara dirinya dan dia. Hatinya cuma ada satu. Dia tahu, sakit rasanya ketika terluka. Pedih rasanya ketika kecewa. Pasti, dia akan berduka. Lalu, amanah yang dipertanggungjawabkan ke atasnya akan terbang dan hilang entah ke mana.

Dia harus memilih. Ya. Memilih apakah dia mau terus berfantasi atau menjejak realitas? Ingin terus berada dalam mimpi atau ingin menjejak bumi? Dia sadar. Cinta manusia itu adalah sesuatu yang tidak pasti. Cinta yang hakiki adalah berporos pada DIA Sang Ilahi.

Dia juga sadar, kehidupan sekarang penuh dengan ujian Ilahi. Jika iman tidak terus diasah, maka dia akan tersungkur rebah. Jika akidah tidak terus dipelihara, maka dia akan terus bergelimang dengan dosa. Jika ilmu-Nya tidak langsung tersentuh, maka dia akan terus terleka dalam arus dunia. Dia juga sadar. Perjalanannya masih jauh. Banyak lagi yang harus ditempuh. Jika tes semacam dia tidak mampu menempuh, apalagi tes lain yang mewajibkan imannya untuk terus teguh.

Dia nekad. Segala rasa cinta yang hadir sebelum waktunya harus segera diusir. Khawatir pula hatinya akan terus terusik. Kini dia memegang pada satu prinsip!
"Cinta itu fitrah. Ilmu itu amanah. Iman itu perlu diasah. Maksiat itu harus dicegah! "
Ashadu Anla Ilahailallah Wa Ash hadu Anna Muhammad Rasulullah. Hanya padaMu Tuhan, aku berserah ...

- Artikel iluvislam.com

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar

Leave a Reply