Select Menu

Puisi

Kisah Inspiratif

Jodoh

Artikel Doa

Cinta Karena Allah

Dunia Muslimah

Seputar Remaja

Dunia Putri

Tanya Jawab


Bismillah,
“Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia) dan mereka berpaling (dari akhirat)”- (Surah Al-Anbiya’: Ayat 1 )
DIA (ALLAH) berfirman, kamu tinggal di bumi hanya sebentar sahaja, jika kamu benar-benar mengetahui (Surah Al-Mu’minun: Ayat 114)

Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sungguh syaitan itu musuh bagimu (Surah Al- Fatir: Ayat 5-6)

Ya Allah,
Andai kaki ini melangkah, jadikan setiap langkahan itu, langkahan ke tempat kebaikan, tempat yang Engkau redha.

Ya Allah,
Andai mulut ini berkata, jadikanlah setiap perkataan yang keluar itu ialah perkataan yang penuh hikmah dan bermanfaat, perkataan yang lembut, dan mendekatkan hati ini dan orang lain pada-Mu,

Ya Allah,
Andai fikiran ini berfikir, jadikanlah fikiran ini berfikir mengenai-Mu, berfikir mengenai kematian, berfikir mengenai dosa-dosa lalu, berfikir mengenai kebaikan orang lain padaku, berfikir mengenai nikmat yang telah kau berikan padaku, dan berfikir mengenai usaha-usaha/ wasilah apa lagi yang boleh aku lakukan untuk mendekatkan diri pada-Mu.

Ya Allah,
Andai disaat tidak ada perkara yang bermanfaat ingin diperkatakan, andai tidak ada topic ingin dibicarakan, jadikanlah lidah ini lancar dan terus-menerus berzikir kepada-Mu, Jauhkan lidah ini daripada mengeluarkan kata yang menyakiti hati orang lain,

Ya Allah,
Andai mata ini melihat hingga ke hari ini dan hari seterusnya, jadikanlah mata ini celik, jauhkan mata ini dari melihat yang bukan hak, permudahkan kedua mataku ini untuk menjaga pandangan, jadikanlah mata ini mata yang sentiasa menangis kerana-Mu, menangis mengingati dosa-dosa lalu.

Ketahuilah bahawa, ‘Dia Mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada’- (Surah Al-Ghafir: Ayat 19)

Ya Allah,
Andai telinga ini masih mampu mendengar, jadikanlah ia mendengar dan menapis perkataan itu, jadikanlah kedua telinga ku mendengar yang baik-baik sahaja, andai ada saat-saat di mana aku mendengar yang kurang baik, jadikan ianya berlalu seperti angin.

Ya Allah,
Andai hati ini berniat ataupun bermonolog dalaman, jadikankanlah hati ini sentiasa berniat untuk melakukan kebaikan sahaja, jadikan juga monolog hati itu monolog yang baik-baik sahaja.

Ya Allah,
Jika tangan ini bergerak, Jadikanlah tangan ini bergerak dan menulis kebaikan sahaja, bergerak untuk melaksanakan hal-hal kebaikan, jauhkan tangan ini daripada memukul, menampar dan mengambil hak orang lain.

Wahai Tuhan yang telah terlalu banyak memberi, jadikan aku orang yang bersyukur dengan nikmat mata, mulut, telinga, hati, tangan, otak (pemikiran), lidah dan nikmat yang lainnya. Sungguh semua nikmat yang KAU berikan ini, akan menjadi saksi di akhirat kelak. Semuanya akan diminta pertanggungjawabkan.

Ketahuilah kita semua bahawa:
“Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur”- (Surah Al-Mu’minun: Ayat 78)
‘Dan Tuhan-mu tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan’- (Surah Naml: Ayat 93)
Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang -(Surah Al- Qasas: Ayat 16)
( http://akuislam.com)
Amira Mayorga, lahir dari keluarga Kristen Protestan yang taat. Kakek dan neneknya seorang pastor, sementara Amira sendiri mengajar sekolah minggu untuk anak-anak. Doktrin Trinitas begitu melekat dalam kehidupan keseharian Amira.

Tak heran kalau Amira agak sulit menerima informasi tentang ajaran Islam, ketika ia bertemu dengan teman-temannya yang Muslim dan berdiskusi tentang Islam, saat ia berkesempatan berkunjung ke Washington DC empat tahun yang lalu.

Ketika itu kata Amira, teman-teman Muslimnya selalu berkata, “Saya tidak memaksa kamu untuk menjadi seorang Muslim, saya hanya menjelaskan tentang Islam.” Amira sendiri tidak terlalu menaruh perhatian pada penjelasan teman-teman Muslimnya tentang Islam, Amira bahkan berpikir bahwa teman-teman Muslimnya-lah yang salah dan ia tetap menganut agamanya, Kristen Protestan.

Suatu ketika, saat berkunjung ke Guatemala, Amira bertemu dengan seseorang asal Aljazair lewat forum chatting di internet. Keduanya kemudian menjadi sahabat baik dan banyak berdiskusi tentang Islam, terutama tentang konsep ketuhanan dalam ajaran Kristen.

Amira mengakui, ia kehabisan argumen untuk mendukung konsep ketuhanan dalam Kristen. Dan itu mendorongnya menjelajahi dunia maya guna menggali banyak informasi tentang ajaran Islam.
“Saya banyak membaca tentang keindahan Islam dan mulai menyadari bahwa Yesus tidak pernah menyuruh umatnya untuk menyembah dirinya, tapi Yesus menyerukan umatnya untuk menyembah Tuhan yang Esa.
Amira makin tertarik dengan Islam dan pada Ramadhan, ia mulai ikut berpuasa meski puasanya masih belum sempurna.

Selanjutnya, Amira banyak mengikuti kelompok-kelompok diskusi Islam di internet, mulai dari kelompok milis Amr Diab (nama seorang penyanyi asal Mesir) sampai kelompok Allah Alone. Dari dunia maya, Amira banyak bertemu Muslim dari berbagai negara, yang menjadi tempatnya untuk bertanya segala hal tentang Islam.

Amira mulai memilih nama Muslim yang akan digunakannya, tapi ia belum berani untuk mengucap syahadat. Alasannya, sebagai seorang keturunan latin Amerika, ia belum bisa meninggalkan tradisi masyarakat Latin yang tidak jauh dari pesta, minuman beralkohol dan dansa-dansi.
“Saya tidak mau masuk Islam, tapi saya masih melakukan aktivitas seperti itu. Saya berkata pada diri saya sendiri, kalau saya sudah mampu meninggalkan itu semua, saya ingin menjadi seorang Muslim,” ujar Amira.
Amira mulai membaca al-Quran yang dibelinya. Suatu saat ketika minum kopi bersama seorang temannya, Amira mengatakan bahwa ia merasakan kedamaian mengikuti “filosofi” yang ada dalam ajaran Islam dan mengungkapkan keinginannya untuk masuk Islam. Tapi teman baiknya malah menjawab, ” You are crazy.”

Mimpi Aneh

Namun Amira tetap mempelajari Islam. Hingga suatu malam ia mimpi aneh. Dalam mimpi itu, Amira dan sahabatnya tadi berada dalam sebuah gedung yang sangat luas dan ia duduk di lantai yang sangat tinggi. Di hadapannya ada seberkas sinar yang menembus kaca jendela, dan Amira mengajak sahabatnya untuk keluar dan melihat sinar apakah itu. Sahabatnya takut, namun Amira terus membujuknya.

Sahabat Amira itu akhirnya mau keluar dan mereka menyaksikan sebuah kota yang kosong, gedung-gedung di kota itu nampak tua dan kotor. Keduanya lalu melihat seorang laki-laki datang dengan membawa cemeti. Amira dan temannya ketakutan dan pada saat itu, laki-laki dalam mimpi Amira berkata,”Kamu mengatakan bahwa kamu sudah mengetahui kebenaran, mintalah pertolongan pada Tuhan-mu dari semua ini.”
Sebelum sempat menjawab, Amira terbangun dari tidurnya dan merasa tubuhnya sangat lemah, ia bahkan merasa lumpuh dan tak bisa bergerak sedikitpun. Ia menceritakan mimpinya pada salah seorang sahabat Muslimnya. Sahabatnya itu menyarakan agar Amira segera masuk Islam. Teman Amira lainnya yang beragama Katolik menganggap Amira sedang bingung dan menyarankannya untuk meminta pertolongan “Tuhan” (Yesus) untuk menemukan kedamaian sejati.
Amira masih belum tergerak hatinya untuk memeluk Islam dan kembali melakukan riset di internet tentang Islam dan bertemu dengan seorang Muslimah bernama Dina Stova yang mengirimkannya email-ermail tentang Islam. Amira masih juga mencari-cari alasan ketika Dina menanyakan mengapa ia belum juga mengucap syahadat, hingga sahabatnya itu mengatakan, “Islam adalah agama yang mengajarkan toleransi, cobalah setahap demi setahap.”

Mendengar perkataan Dina, Amira akhirnya menyatakan ingin masuk Islam dan langsung mengucapkan dua kalimat syahadat. “Setelah mengucapkan kalimat syahadat, tiba-tiba saja saya merasakan kedamaian itu. Kedamaian hati yang selama ini saya cari dalam hidup saya. Rasanya sudah jelas, jawabannya adalah Islam. Sekarang dan selamanya, saya adalah seorang Muslimah,” tukas Amira.

Namun Amira harus menghadapi tantangan berat dari keluarganya. Saudara laki-lakinya, sempat setahun tidak mengajaknya bicara setelah tahu ia memeluk Islam. Tapi Allah Maha Besar, pada 16 Oktober 2007 saudara laki-lakinya itu malah ikut masuk Islam dan mengucap dua kalimat syahadat.

Saat ini, Amira terus melakukan pendekatan pada keluarganya, agar seluruh keluarganya juga mau masuk Islam dan menerima pesan-pesan Islam yang disampaikannya. Sebuah perjuangan yang tidak ringan bagi seorang mualaf seperti Amira. (eramuslim)

Zina merupakan perbuatan yang sangat buruk dan tercela. Namun banyak kaum muda mudi dan pria hidung belang menghalalkan zina, kini istilah cabe-cabean menjadi istilah baru prostitusi remaja.

Fenomena Cabe-cabean yang kependekan makna dari 'Cewe Alay Bahan Exxxan' memang sangatt memprihatinkan.

Sebenarnya ini menjadi peringatan bagi para orangtua agar mengawasi anak-anaknya dengan ketat seperti yang pernah diungkapkan Psikolog Lembaga Terapan Psikologi UI Muhammad Rizal Psi

"Kalau tahu anak keluar malam, awasi dia. Kenapa diperbolehkan? Kalau concern anak kita anak perempuan, harusnya lebih dijaga" imbuhnya.
Padahal dari dulu hingga kini zina merupakan perbuatan yang sangat buruk dan tercela.

Sebagaimana Allah Azza wa jalla berfirman :

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا (٣٢)

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. [al-Isrâ’/17: 32]

Dalam ayat lain, Allah Azza wa jalla berfirman :

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨)

يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩)

Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, [al-Furqân/ 25:68-69]

Dalam ayat ini, Allah Azza wa jalla menyebutkan perbuatan zina setelah perbuatan syirik dan setelah pembunuhan terhadap jiwa yang diharamkan Allah Azza wa jalla. Ini menunjukkan betapa perbuatan zina itu sangatlah buruk.

Dalam ayat lain, Allah Azza wa jallamenyebutkan sanksi bagi pelaku perbuatan nista ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢)

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [an-Nûr/24:2]

Para ulama mengatakan : “ini sanksi bagi perempuan dan lelaki yang berzina apabila keduanya belum menikah. Sedangkan bila telah bersuami atau pernah menikah maka keduanya dirajam (dilempari) dengan batu hingga mati.

Dalam hadits yang shahih dinyatakan

لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهْوَ مُؤْمِنٌ

Tidaklah orang yang berzina itu beriman saat dia melakukan perbuatan zina [HR al-Bukhâri dan Muslim]

Dalam hadits lain dinyatakan:

مَنْ زَنَى وَشَرِبَ الْخَمْرَ نَزَعَ اللَّهُ مِنْهُ الإِيمَانَ كَمَا يَخْلَعُ الإِنْسَانُ الْقَمِيصَ مِنْ رَأْسِهِ .

Siapa yang berzina atau minum khamr maka Allah mencabut keimanan dari orang itu sebagaimana seorang manusia melepas bajunya dari arah kepalanya. [HR al-Hâkim dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan as-Suyûthi memberi symbol sahih]

Zina yang terburuk adalah menzinahi ibunya sendiri, putrinya, saudari atau mahramnya yang lain. Dalam hadits dinyatakan:

مَنْ وَقَعَ عَلَى ذَاتِ مَحْرَمٍ فَاقْتُلُوهُ

Siapa yang menzinahi mahramnya maka bunuhlah! [HR al-Hâkim dan beliau shahihkan]

Berikut 27 Dampak Negatif Perbuatan Zina & Cabe-cabean:

1. Zina mengurangi agama seseorang
2. Zina menghilangkan sifat wara’
3. Zina merusak kehormatan dan harga diri

4. Zina mengurangi sifat cemburu
5. Pezina mendapatkan murka Allah Azza wa jalla.
6. Zina menghitamkan wajah dan menjadikannya gelap

7. Zina menggelapkan hati dan menghilang cahayanya
8. Zina mengakibatkan kefakiran yang terus menerus.
9. Zina menghilangkan kesucian pelakunya dan menjatuh nilainya dihadapan Rabbnya dan dihadapan manusia.

10. Zina mencopot sifat dan julukan terpuji seperti ‘iffah, baik, adil, amanah dari pelakunya serta menyematkan sifat cela seperti fajir, pengkhianat, fasiq dan pezina.
11. Pezina menyeburkan diri pada adzab di sebuah tungku api neraka yang bagian atasnya sempit dan bawahnya luas. Sebuah tempat yang pernah disaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyiksa para pezina. [HR al-Bukhâri dalam shahihnya dari sahabat Samurah bin Jundab Radhiyallahu anhu].
12. Zina menghilangkan nama baik dan menggantinya dengan al khabîts, sebuah gelar yang sematkan buat para pezina

13. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kegelisahan hati buat para pezina
14. Zina menghilangkan kewibawaan. Wibawanya akan di cabut dari hati keluarga, teman-temannya dan yang lain
15. Manusia memandangnya sebagai pengkhianat. Tidak ada seorangpun yang bisa mempercayainya mengurusi anak dan istrinya

16. Allah Azza wa jallamemberikan rasa sumpek dan susah dihati pezina
17. Pezina telah menghilangkan kesempatan dirinya untuk mendapatkan kenikmatan bersama bidadari di tempat tinggal indah di syurga
18. Perbuatan zina mendorong pelakunya berani durhaka kepada kedua orang tua, memutus kekerabatan, bisnis haram, menzhalimi orang lain dan menelantarkan istri dan keluarga

19. Perbuatan zina dikelilingi oleh perbuatan maksiat lainnya. Jadi perbuatan nista ini tidak akan terealisasi kecuali dengan didahului, dibarengi dan diiringi beragam maksiat lainnya. Perbuatan keji menyebabkan keburukan dunia dan akherat
20. Pelaku zina wajib diberi sanksi; pezina yang belum menikah didera seratus kali dan diasingkan selama setahun dari daerahnya sedangkan pelaku yang pernah menikah atau masih berkeluarga dirajam (dilempari) batu sampai mati
21. Zina merusak nasab

22. Zina menghancurkan kehormatan dan harga diri orang
23. Zina menyebabkan tersebarnya waba penyakit berbahaya, tha’un (lepra) dan tersebarnya penyakit kelamin yang umumnya sulit diobati, minimal penyakit syphilis
24. Perbuatan zina membuka peluang bagi keluarganya untuk terjerumus dalam perbuatan serupa. Dalam pepatah dikatakan :

كَمَا تَدِيْنُ تُدَانُ

Engkau akan dibalas sesuai dengan perbuatanmu

25. Zina menyebab balasan amalan shalihnya hilang sehingga ia bangkrut pada hari kiamat.
26. Dihari kiamat pelaku zina akan dihadapkan pada orang yang istrinya dizinai untuk diambil pahala kebaikannya sesuka sang suami sehingga tidak tersisa kebaikan sedikitpun
27. Anggota tubuh seperti tangan, kaki, kulit, telinga, mata dan lisan akan memberikan persaksian yang menyakitkan. Allah Azza wa jalla berfirman :

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٢٤)

Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. [an-Nûr/ 24:24].

Itulah diantara sekian banyak efek negatif dari perbuatan zina. Semua ini memberikan gambaran betapa buruk dampak perbuatan nista ini dan alangkah rendah moralitas pelakunya. Efek negatif perbuatan tak senonoh ini tidak hanya akan dirasakan oleh si pelaku tapi juga oleh sang anak yang tidak tahu-menahu. semoga Allah Azza wa jallamelindungi kami dan seluruh kaum muslimin dari perbuatan keji ini.

(Diterjemahkan dari kutaib Khatarul Jarîmah al khuluqiyah, karya Syaikh Abdullah bin Jârullah bin Ibrâhîm al jârullâh & Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XII/Dzulhijjah 1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta) [jabir/voa-islam.com]


Barakah bintu Tsa’labah adalah seorang shahabiyah yang kehidupannya penuh berkah. Ia hidup sepanjang masa kenabian sehingga ia menyaksikan peristiwa-peristiwa pada periode tersebut.

Kun-yahnya adalah “Ummu Aiman”, dan ia lebih dikenal dengannya; menjadi pengasuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak beliau masa kecil. Ia wafat sesudah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ummu Aiman adalah isteri Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Zaid, ia mendapatkan seorang anak yang menjadi mujahid yang sangat hebat, yang sangat disayangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Usamah bin Zaid. Dari suaminya yang pertama, ia memiliki seorang anak yang gugur sebagai syuhada (yaitu Aiman bin Ubaid Al-Khazraji).

Merawat Muhammad yang masih kecil
Ummu Aiman mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak beliau kecil sampai diutus menjadi seorang nabi. Dia menemani Aminah binti Wahab, ibunda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berangkat ke Madinah bersama putra kesayangannya untuk mengunjungi Bani Najjar yang merupakan keluarga Abdul Muthalib. Di dalam perjalanan pulang kembali ke Mekkah, Aminah menderita sakit di perjalanan. Akhirnya beliau wafat di Abwa (tempat antara Mekkah dan Madinah). Karena itulah, Ummu Aiman menjadi satu-satunya pendamping Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam – yang saat itu masih anak-anak – menuju kota Mekkah.
Sang kakek, Abdul Muthalib, menjadi pengasuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mencintai sang cucu sepenuh hati. Adapun Ummu Aiman, ia tetap berada di sisi Rasulullah, mengurusnya dengan penuh cinta kasih, menjaganya dengan seluruh kemampuan diri, seakan ia menjadi penganti sang ibu yang telah pergi, sebagaimana Abdul Muthalib hadir sebagai kakek sekaligus “bapaknya”. Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kecil pun tumbuh di antara orang-orang yang selalu mencurahkan kehangatan cinta dan kelembutan kasih sayang.

Wujud rasa sayang Abdul Muthalib kepada sang cucu membuatnya sangat banyak berwasiat kepada Ummu Aiman. Di salah satu wasiatnya ia berkata, “Wahai Barakah, janganlah engkau melalaikan anakku. Aku mendapatkannya bersama anak-anak kecil dekat dengan pohon bidara. Ketahuilah bahwa orang-orang dari Ahlul Kitab menyangka bahwa anakku ini akan menjadi nabi umat ini.”

Ketika Abdul Muthalib meninggal dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan kesedihan yang sangat. Ummu Aiman menceritakan kejadian itu; ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hari itu menangis di belakang tempat tidur Abdul Muthalib.” (Ath-Thabaqatul Kubra, 8:224)

Dua pernikahan

Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tumbuh dewasa, beliau sangat menghargai dan menghormati Ummu Aiman; Ummu Aiman yang mengurus perkara dan urusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menjaganya dengan sebaik-baik penjagaan.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Khadijah radhiyallahu ‘anha, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerdekakan Ummu Aiman. Kemudian beliau menikahkannya dengan Ubaid bin Zaid Al-Khazraji. Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang putra yang diberi nama “Aiman”. Aiman radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang berhijrah dan berjihad, serta mati syahid pada perang Hunain.
Khadijah Ummul Mukminin memiliki seorang budak bernama Zaid bin Haritsah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Khadijah agar Zaid dihadiahkan baginya. Khadijah memenuhi permintaan sang suami tercinta.

Zaid menjadi anak angkat Rasulullah dan orang yang sangat dicintainya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerdekakannya dan menikahkannya dengan Ummu Aiman, setelah suaminya yang pertama meninggal dunia. Seorang anak lelaki terlahir dari pernikahan itu. Namanya adalah Usamah. Zaid kemudian berkun-yah dengan nama “Abu Usamah”.

Turut berjihad di barisan kaum muslimin

Ketika usia Ummu Aiman semakin bertambah, beliau sangat senang untuk turut serta berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada perang Uhud, Ummu Aiman berangkat bersama para wanita. Peran yang ia utamakan adalah mengobati orang-orang yang terluka dan memperhatikan mereka, serta memberi minum para mujahidin yang kehausan.

Pada perang Khaibar, Ummu Aiman bersama dua puluh orang wanita berangkat menuju medan perang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukan kaum muslimin. Adapun anaknya, Aiman, tidak ikut dalam perang ini karena kudanya sakit. Meski memiliki alasan, ibunya menyifatinya sebagai pengecut.

Pada perang Mu’tah, suaminya (Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu) wafat sebagai syuhada. Ummu Aiman menerima berita tersebut dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah. Pada perang Hunain, anaknya (Aiman) juga mati sebagai syuhada. Kembali beliau bersabar dan mengharap pahala dari Allah dengan kematian anaknya. Beliau hanya mengharapkan keridhaan Allah dan keridhaan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kesulitan dalam mengucap makhraj dengan benar
Ummu Aiman adalah seseorang yang dihormati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu tidak menghalangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegurnya saat ia salah. Ummu Aiman terkadang salah dalam mengucapkan kata. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkannya atau memerintahkannya untuk banyak diam.
Diriwayatkan bahwa Ummu Aiman bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata,

سلام لا عليكم
“Keselamatan dan kesejahteraan tidaklah untukmu.”
Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada beliau untuk mengucapkan “السلام” saja. (Ath-Thabaqatul Kubra, 8:224)

Serta dari Abu Huwairits, bahwasanya Ummu Aiman berkata pada saat perang Hunain,

سبت الله أقدامكم

(yang benar seharusnya:

ثبت الله أقدامكم

[semoga Allah mengokohkan kaki kalian],

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata kepadanya, “Diamlah, karena engkau sulit mengucapkan makhraj (huruf) dengan benar.” (Ath-Thabaqatul Kubra, 8:225)

Tutup usia

Hari pun berlalu dengan cepat; wafatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berita kematian pun tersebar, kota Madinah terasa gelap gulita dari barat maupun timur. Hati manusia diliputi duka. Ummu Aiman menangis sedih atas perpisahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu; ia berkata,
“Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Mari kita pergi mengunjungi Ummu Aiman sebagaimana Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi beliau semasa hidupnya.’

Tatkala kami menemuinya, beliau menangis. Kami pun bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis? Apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.’


Ummu Aiman berkata, ‘Aku bukan menangisi beliau, karena aku tahu apa yang di sisi Allah itu lebih baik baginya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit.’

Maka mereka berdua pun ikut menangis.” (Ath-Thabaqatul Kubra, 2:332–333)
Akhirnya seorang shahabiyah, yang mengasuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak kecil dan bersama dengan beliau menyaksikan masa nubuwwah, kembali ke sisi Rabb-Nya. Setelah mencurahkan kebaikan bagi Nabi-Nya dan bagi agamanya, Ummu Aiman radhiyallahu ‘anha wafat lima bulan – atau dalam riwayat lain: enam bulan – setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim, no. 2454)
* Diterjemahkan dari kitab “Shuwar min Hayah Ash-Shahabiyat” karya Abdul Hamid bin Abdurrahman As-Saibani; dengan sedikit perubahan.

Artikel Muslimah.Or.Id

Penerjemah : Annisaa Kumanireng (Ummu ‘Abdillah)
Murajaah: Ustadz Sanusin Muhammad Yusuf, M.A.
Masih menjadi suatu hal yang tabu, jika seorang istri yang memiliki suatu kelebihan dalam ilmu, dan kemudian membagikan ilmu yang ia miliki pada suaminya. Namun ternyata, ada suatu kisah, contoh dari keteladanan salah seorang shahabiyah, yaitu putri dari Sa’id bin al-Musayyib. Yang mana, ia telah mengajari suaminya mengenai ilmu agama yang ia miliki. Berikut adalah keteladanan beliau, cucu dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah ra.

Abu Hurairah menikahkan puterinya dengan Sa’id bin al-Musayyib. Dari perkawinan yang diberkahi ini, Sa’id bin Musayyib dikaruniai seorang puteri yang shalihah dan cerdas.
Ketika tiba waktunya untuk menikahkan puterinya, Sa’id bin al-Musayyib memilihkan baginya salah seorang muridnya bernama Abdullah. Abdullah dipilih dari yang lainnya karena keikhlasannya dalam menuntut ilmu sangat jelas.
Kecintaan Abdullah terhadap ilmu dapat dilihat keesokan harinya setelah menikah dengan puteri Sa’id bin al-Musaayib, ia mengenakan pakaiannya hendak keluar, lalu isteri yang baru dinikahinya bertanya: “Hendak kemana engkau?” Dia menjawab: “Hendak menghadiri majelis Sa’id bin al- Musayyib untuk belajar.” Isterinya berkata, “Duduklah, saya akan mengajarimu ilmu Sa’id bin al-Musayyib.” Kemudian puteri Sa’id bin al-Musayyib mengajarinya ilmu.

Selama satu bulan Abdullah tidak menghadiri halaqah Sa’id bin al-Musayyib karena ilmu yang telah dipelajari wanita muda yang cantik ini melalui ayahnya (yang kemudian disampaikan kepadanya) telah memadai.

Sangat penting untuk bertanya kepada diri kita sendiri – jika para wanita Muslimah benar-benar memiliki ilmu ini melebihi suaminya pada masa sekarang ini, apakah hal tersebut akan menambah penghormatan dan ketaatan mereka terhadap suaminya, ataukah ilmu ini akan menjadi sumber banyak persoalan rumah tangga? Keutamaan para wanita ini adalah ilmu yang mereka miliki hanya menambah bagi mereka ketaatan dan penghargaan kepada suami mereka.

Perkataan berikut dari suami, dari ulama wanita ini cukup untuk memahami betapa cinta yang dimiliki sang suami kepadanya karena ilmu dan ketaatannya:
“Dia lah termasuk wanita yang paling cantik dan paling hafal Kitabullah, dan paling mengetahui tentang Sunnah Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wasalam, dan yang paling tahu hak-hak suaminya.”
Semoga Allah menjadikan para ibu, saudari, dan putri-putri (Muslimah) mendapatkan posisi yang demikian di mata suami-suami mereka, dengan ilmu, ketaatan dan kecintaan mereka terhadap agama ini.

Wallahua’lam bishshowab

Sumber : Wanita Muslimah yang Mengajari Suaminya, Bintus Sabil
(esqiel/al-mustaqbal.net/muslimahzone.com)
Sore itu, sepulang dari agenda di salah satu sekolah islam di Surakarta ku lewati jalan Slamet Riyadhi yang tak pernah sepi dari pengendara.

Suasana hiruk pikuk kendaraan di tengah hujan deras yang mengguyur menemani perjalanan pulangku. Waktu menunjukan pukul empat sore, langit belum begitu gelap dan udara terasa dingin.

Sambil berkendara kutatap jalan di depan dan sekitarnya. Saat itu pandanganku

mengarah ke seorang ibu yang terlihat begitu cantik dan anggun sedang berdiri di depan sebuah toko.

Sekilas ibu itu terlihat menggenakan jubah dan jilbab lebar. Tapi setelah lebih dekat ku tengok, ternyata sang ibu hanya menggunakan sebuah jas hujan panjang yang menjuntai ke tanah.

Seketika itu juga terlintas dipikiranku, “Betapa cantiknya muslimah itu bila ia mengenakan penutup aurat syar’i yang tidak lain dan tidak bukan adalah jilbab syar’i.”

Selepas melihat ibu tadi kulanjutkan perjalananku. Pikiran tentang jilbab masih menggelitik di benakku. Beberapa saat aku berhenti di lampu merah. Ku tengok sebelah kanan, terlihat gadis kecil yang begitu cantik, polos dan lucu mengenakan jas hujan berwarna pink. Ia duduk di sebuah motor dan memandang ke arahku.

Setelah itu pandangannku mulai menyebar, ke kiri dan kebelakang, ku lihat hampir semua pengendara mengenakan jas hujan, termasuk para muslimah yang tidak berjilbab ataupun mereka yang hanya mengenakan “pembungkus aurat”.

Pemandangan langka yang mungkin tak kutemui di jalan raya selain saat hujan.

Ya.. para muslimah itu terlihat cantik dengan jas hujan yg menutupi auratnya. Bilamana mereka mau menggunakan penutup aurat syar’i setiap hari. Tentulah kecantikan sejati mereka kian terpancar.

“Wahai saudariku, kau lindungi dirimu dari hujan tapi mengapa tak kau lindungi dirimu (aurat) dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu?”

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ

شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا

يُؤْمَرُون


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai (perintah ) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”, Q.S. A-Tahrim/66: 6

Belum sampaikah kepadamu perintah berjilbab saudariku? Atau memang nafsumu yang mengingkarinya?

َا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ

الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ

أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا

رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab:59)

Wahai saudariku, Jilbab syar’i itu tidak memudarkan kecantikanmu sedikitpun, justru ia semakin memperkuat dan menjaganya.

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda ‘, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim).

Mari saudariku.. mari berhijab syar’i mulai saat ini..
Jangan sampai JILBAB SYAR'I PERTAMA kita adalah JILBAB TERAKHIR kita..
yaitu KAIN KAFAN.. wal’iyadzu billah..

Penulis: Latifah Sab'ah
Sumber:voaislam.com

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Berjalan kaki memakai sandal termasuk sunnah. Begitu juga sesekali nyeker (telanjang kaki) juga sunnah. Hendaknya seseorang menyengaja sesekali tidak memakai sandal saat berjalan untuk menunjukkan bahwa ini termasuk sunnah. Tujuannya, agar orang-orang tidak menilai orang yang tidak pakai sandal sebagai orang jahil dan melakukan kesalahan. Karenanya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan para sahabat untuk sesekali tidak pakai sandal.

Fadhalah bin Ubaid Radhiyallahu 'Anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نَحْتَفِيَ أَحْيَانًا

"Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam terkadang memerintahkan kami untuk bertelanjang kaki.” (HR. Abu Dawud & Ahmad. Dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Dalam hadits Ibnu Umar, sejumlah sahabat yang ikut bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjenguk Sa’ad bin Ubadah maka sebagian mereka tidak beralas kaki dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengingkarinya. (HR. Muslim)

Petunjuk lainnya kita temukan dalam sabda beliau tentang larangan berjalan dengan satu sandal, hendaknya ia pakai semuanya atau lepas semuanya sehingga berjalan tanpa alas kaki.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لَا يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيعًا

“Janganlah salah seorang kalian berjalan dengan satu sandal; hendaknya ia pakai kedua-duanya semuanya atau dia lepas kedua-duanya semuanya.” (Muttafaq ‘alaih)

Syaikh Utsaimin berkata: Maka sunnah, seseorang memakai sandal. Tapi hendaknya sesekali ia berjalan di hadapan orang tanpa alas kaki untuk menunjukkan sunnah ini yang sebagian orang melihat orang yang berjalan telanjang kaki ia mengkritiknya dan mengatakan ini perbuatan orang jahil.

Namun perlu diingat, sunnahnya telanjang kaki saat berjalan ini untuk sesekali saja, bukan sering. Sebab, sering memakai sandal saat berjalan ini bentuk pemuliaan terhadap kaki yang melindunginya dari sesuatu yang menyakiti kaki, seperti duri, pecahan kaca, batu, dan selainnya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga memerintahkan untuk sering bersandal saat berjalan.

اسْتَكْثِرُوا مِنْ النِّعَالِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَا يَزَالُ رَاكِبًا مَا انْتَعَلَ

“Perbanyaklah memakai sandal, karena seseorang senantiasa berkendaraan selama dia memakai sandal.” (HR. Muslim)

Yakni memakai sandal itu diserupakan dengan orang yang berkendaraan dalam ringannya beban, tidak terlalu capek, dan kaki selamat dari gangguan di jalan. Wallahu a’lam. [voa-islam.com]

 Oleh: Badrul Tamam
Pimpinan Majelis Zikir Az-Zikra Ustaz Muhammad Arifin Ilham menyurati Kapolri Jenderal Sutarman soal jilbab Polisi Wanita (Polwan).

Dalam surat terbuka untuk Bapak Kapolri yang dipanggilnya sebagai ayahanda tercinta Jenderal Sutarman tersebut, Ustadz Muhammad Arifin Ilham mengawali isi suratnya dengan iringan doa assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.

”Semoga ayahanda selalu dalam hidayah dan berkah Allah bersama keluarga dan keluarga besar Polri aamiin,” tulis Ustadz Muhammad Arifin Ilham.

Sejak ayahanda membolehkan muslimat polisi berjilbab, tulis Ustadz Muhammad Arifin Ilham lebih lanjut, suka cita, ucapan Alhamdulillah, sujud syukur, pujian dan doa untuk ayahanda dipanjatkan. ”Lalu kenapa dicabut dan ditunda lagi ayahanda?” Tanya Ustadz Muhammad Arifin Ilham.

”Ayah, hidup kita tidak lama di dunia sebentar ini. Jabatan yang Allah SWT amanahkan untuk ayah akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, keputusan ayah membolehkan jilbab adalah keputusan sangat bijak dan tepat,” tulisnya.

”Dan berita gembira untuk ayahanda, bukan hanya sebagai Pelopor Jilbab yang akan dikenang sejarah walaupun ayah sudah wafat tetapi bernilai amal jariyah yang mengalir terus menerus sebanyak muslimat polisi mengenakannya.”

Ustadz Arifin kemudian mengutip firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 85 yang artinya, “Barang siapa memberi keputusan atau kebiasaan yang baik, lalu banyak yang mengikutinya maka sebanyak itu ganjaran mengalir Allah berikan kepadanya, tetapi sebaliknya barang siapa membuat keputusan atau kebiasaan buruk, lalu banyak yang mengikutinya maka sebanyak itu dosa yang ditimpakan kepadanya.”

Ustadz Arifin melanjutkan suratnya, ”Ayah, kalau memang belum dibuat aturan hukum bakunya, jangan diperintahkan untuk menanggalkan jilbab bagi muslimat polisi yang sudah berjilbab, apalagi sampai memecat mereka, terlalu besar resikonya di akhirat kelak.”

”Sayangilah muslimat Polri, ayah. Mereka juga putri-putri ayah. Buatlah sejarah yang indah mengesankan, ayah. Hidup ini sebentar ayah. Ayah, jangan ragu-ragu. Kami sangat mendukung dan mendoakan ayah agar ayah lulus menjaga amanah Allah SWT.”

Menurut Ustadz Arifin Ilham, negeri tercinta ini membutuhkan pemimpin yang sangat takut kepada Allah SWT dan sangat sayang pada rakyatnya.

”Dari nanda Muhammad Arifin Ilham, seorang anak bangsa yang mencintai ayahanda Sutarman. Allahumma ya Allah, berilah hidayah-Mu untuk para pemimpin negeri yang kami cintai ini…aamiin,” tulis Ustadz Muhammad Arifin Ilham mengakhiri surat terbukanya buat Kapolri yang disebutnya sebagai ayahanda.

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Malam itu lunak . Tanpa dikaburkan bait irama yang disangka nan indah . Ditaburkan bersama rasa malu . Puncak akhlak itu kian tinggi , antara dua keping jiwa . Berkorban rasa pinta direnyaikan . Bilakan saat terindah itukan terjaga . Lanjutkan terpelihara , lamanya sampai usai siap siagalah mereka . Dalam hati sang pendoa , selalu rasa terhibur . Pada resah yang bersinggah . Pada kelu sendu , direlungi tetesan air matanya .

Tahajjud malam hari kan mendekatkan yang jauh . Yakin dan tulus . Semakin tunduk dan mendekatlah sayup doa yang sama . Meminta untuk dijauhi . Memohon agar hati tidak sesekali dicemari .

Percaya bisik harap . Selalu ia bersuara . Sering dan selalu pinta dijauhkan . Sebelum waktunya . Sungguh , jiwa - jiwa yang mencintai keridhaan Tuhannya . Tidak sesekali inginkan kalimat indah . Terpacul penuh mudah . Tertulis penuh bait . Ia ingin disimpan . Iakan ingin dihijab . Iakan selalu gamang . Pada gerun takut pada zina . Bukankah terindahnya kerna menjauhi kotor dan keji ? Dan sering hati dan segala anggota meneguk terus , ungkap - ungkap suci dan transparan dari Tuhannya .
" Demikianlah supaya kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian . Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba kami yang terpilih . " ( Yusuf , 24 )
seindah cinta islam demi cinta Allah

Seribu musim pun akan terus berlalu . Saat pikir tidak lagi akan sebuah penantian . Jauh dari dasar hati , ingin iakan muncul di akhirnya . Sungguh , tetapnya hati itu . Kerna tetapnya istikharah yang berdesir . Pada wajah yang tak pernah nampak , pada suara yang tak pernah tertulis .

Menjauhi corong emosi . Bergetar pada sebelahnya nafsu yang maha keji . Menyiratkan malu yang bertemu . Sujud terindah dan tertulislah kedekatan sebuah taqdir . Akan sebuah rindu terindah . Tersiksa kerna berusahanya dari sisi halal . Terperit karena doanya tak pernah menipis . Tersedu sedan kerna memilih simpang yang sulit namun penuh tulus dengan bait keimanan haqiqi . Demi semata - mata meraih RedhaNya . Kerna rasa padaNya adalah yang utama dan pertama ! Lantas , jalan itu dilalui .

Berusaha selalu harus bermuhasabah . Usah sampai segalanya nampak putih dan gebu . Sedang syariat bersuara serak menafi rindu di qalbu . Memilih untuk mencintai . Umpama berkorban tanpa henti . Umpama menanti suatu yang pasti . Bukankah ?

Malam akan selalu mendatang . Bingit menyiksa sampai kapan pun hilang bicara . Menulis rangkap bisa buat hati yang menanti . Bernafasnya DEMI dan HANYA Ilahi . Simpang kanannya bercahaya . Sulit . Pandanglah ke depan .

Kesulitan takkan pernah berubah pada namanya . Ia kan selalu bersifat sulit . Ini berduri . Ini perlu iman tebal di hati . Ini harus redha ayah dan ibu yang dicintai . Ia juga , selalu melukis pada sebuah kanvas hijrah . Kepada kebaikan . Kepada kesempurnaan .

" Dan apabila hamba - hamba - Ku bertanya kepadamu tentang Aku , maka ( jawablah ) , bahwasanya Aku adalah dekat . AKU mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada - Ku , maka hendaklah mereka itu memenuhi ( segala perintah - Ku ) dan hendaklah mereka beriman kepada - Ku , agar mereka selalu berada dalam kebenaran . " ( Baqarah , 186 )


Penulis:Fadhlul Rahman
sumber:iluvislam
Pernikahan mendatangkan pahala, balasan baik, melalui pemenuhan hak-hak isteri dan anak serta menafkahi mereka. Perkawinan merupakan faktor yang mendatangkan kecukupan dan berlimpahnya rizki. Anggapan ini tidak seperti asumsi orang-orang yang berorientasi dunia dan lemah dalam bertawakal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ


Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka mampu dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui. [an Nur/24 : 32].

Dalam hadits disebutkan, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ثَلَاثَةٌ حَقٌ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ : (وَفِيْهِ ): وَالنَاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْعَفَافَ


Tiga golongan; Allah pantas menolong mereka. (Di antaranya), seseorang yang menikah untuk menjaga kehormatan dirinya. [Hadits hasan, Shahihu al Jami', 3050].
Abu Bakar berkata,"Taatilah Allah dalam perintahNya kepada kalian dalam hal pernikahan, niscaya Allah akan memenuhi janji bagi kalian berupa kecukupan."

Ibnu 'Abbas berkata,"Allah menghimbau mereka untuk menikah dan menjanjikan bagi mereka kecukupan. Allah berfirman,'Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka mampu dengan karuniaNya'."
Pernikahan merupakan sarana perbaikan bagi individu dan masyarakat, agama, akhlak, masa sekarang dan masa depan. Selain itu, pernikahan mampu melenyapkan kerusakan-kerusakan yang timbul akibat meninggalkan pernikahan dan sikap acuh tak acuh terhadapnya.
Salah satu hambatan penting untuk melaksanakan pernikahan, yaitu keengganan sebagian pemuda, lelaki dan perempuan untuk menikah. Mereka enggan menikah dengan dalih, pernikahan akan mengganggu pendidikan. Ini adalah argumentasi lemah.
Sesungguhnya, pernikahan tidak menghalangi dalam melanjutkan pendidikan dan kelulusan, dan proses penggalian ilmu. Bahkan pernikahan menjadi pendukung untuk mencapai kesuksesan di dalamnya.

Seorang lelaki yang shalih bila dianugerahi wanita shalihah, dan atmosfir kasih-sayang menaungi mereka, maka masing-masing akan membantu pasangannya dalam pendidikan, dan dalam menghadapi problem kehidupan. Banyak orang yang isterinya mendapatkan naungan taufik dari Allah. Walillahil hamd.

Berapa banyak generasi muda, lelaki dan perempuan, ditakdirkan Allah menjalani pernikahan, sehingga mereka pun mendapatkan ketenangan psikologis, pikiran dan jiwanya menjadi tenang dalam menjalani studi, yang menciptakan iklim kondusif bagi mereka dalam studi.
Maka, kewajiban para pemuda yang terpaku dengan alasan di atas, hendaknya mempertimbangkan kembali untuk sekian kalinya, agar mereka mengoreksi kesalahan (dengan menunda pernikahan karena alasan studi). Bertanyalah kepada kawan-kawan yang telah menikah. Mereka telah mendapatkan kebaikan dan ketenangan melalui pernikahan. Dengan demikian permasalahan di atas menjadi tuntas.
(Adh Dhiya' al Lami' 3/56, Cetakan Jamiah al Islamiyah Madinah, Th. 1423 H).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XI/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
Oleh:Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin Rahimahullah

Perilaku seks bebas di kalangan remaja makin meprihatinkan. Kasus video mesum yang dilakukan pelajar SMP Negeri Jakarta dalam lingkungan sekolah Oktober lalu, menunjukkan secara kasat mata betapa seks bebas telah begitu menggejala di dunia remaja kita. Apalagi peristiwa memilukan dan memalukan bukan pertama kali terjadi. Pertengahan tahun ini, masyarakat juga dibuat terkejut dengan kasus pelajar SMP di Surabaya yang menjadi mucikari untuk kawan-kawannya sendiri. Pelaku menawarkan siswi-siswi, yang merupakan teman sekolahnya, kepada lelaki hidung belang untuk menjadi PSK, jelas sebuah tindakan yang sama sekali bertentangan dengan tujuan pendidikan. Kondisi ini makin menguatkan hasil survei yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2010 yang menyatakan bahwa 32% remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah.

Tingginya angka perilaku seks bebas berimbas pada bertambahnya jumlah pengidap HIV/AIDS di kalangan remaja. Berdasar data resmi Kementerian Kesehatan RI, pada triwulan kedua tahun 2011, secara kumulatif jumlah kasus AIDS tercatat sebanyak 26.483. Dilihat dari kelompok umur, pengidap terbesar pada kelompok umur 20-29, sebanyak 36,4% disusul dengan kelompok umur 30-39 tahun sebesar 34,5%.

Sementara itu, demi mengerem wabah penyebaran virus HIV, pemerintah melalui Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bersama DKT Indonesia dan Kementerian Kesehatan akan menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN) pada 1 Desember hingga 7 Desember mendatang. Disebutkan, akan ada pembagian kondom secara gratis pada acara tersebut. Tindakan ini harus ditentang, karena alih-alih menjadi solusi, program kondomisasi justru akan menyuburkan perilaku seks bebas. Para pelaku seolah justru mendapat pembenaran untuk melakukan perzinaan yang penting dengan menggunakan kondom.

Harus ditegaskan disini, bahwa sesungguhnya maraknya pergaulan bebas adalah bukti rusaknya tata pergaulan di kalangan remaja pada khususnya dan di tengah masyarakat pada umumya karena seks bebas bukan hanya dilakukan oleh kaum remaja tapi juga mereka yang telah berusia lebih tua. Dan rusaknya tata atau sistem pergaulan tidak lain adalah buah langsung dari sistem sekularisme – kapitalisme, serta akibat dari sistem sistem pendidikan yang jauh dari ajaran Islam.

Darinya lahir para pelajar yang bergaya hidup materialis dan hedonis, yang mengagungkan kebebasan. Sementara budaya sekuler liberal sebagaimana tampak pada musik, film, fashion dan lainnya mendorong munculnya berbagai rangsang seksual melalui berbagai media yang dengan mudah bisa diakses oleh para pelajar. Semua itu, ditambah dengan kemudahan akses internet, telah berdampak sangat serius pada kerusakan generasi.

Berkenaan dengan itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan, bahwa pergaulan bebas harus menjadi musuh bersama karena tata pergaulan semacam inilah yang telah menimbulkan kerusakan-kerusakan lainnya pada remaja seperti hamil sebelum nikah, putus sekolah, tingginya pengidap HIV/AIDS di kalangan remaja dan lainnya. Oleh karena itu harus ada upaya serius untuk memerangi gaya hidup gaul bebas.

Hal ini bisa dilakukan dengan membenahi dan menerapkan 3 pilar penopang gaul sehat atau gaul yang Islami, yaitu:
  1. Pilar INDIVIDU. Harus dibangun dan diperkuat keyakinan hidup (iman dan takwa) dan kepribadian di kalangan remaja dan pelajar. Seorang remaja muslim yang beriman kepada Allah SWT dan taat pada segenap aturanNya serta percaya akan adanya hisab dan azab dari sang Pencipta, pastinya akan berusaha bergaul secara sehat, mengikuti batas-batas yang telah ditetapkan oleh syariah Islam dan tidak akan berani melakukan perbuatan dosa, pergaulan bebas, khalwat, ikhtilat apalagi sampai berzina
  2. Pilar MASYARAKAT. Harus didawamkan kebiasaan saling menasihati, beramar ma’ruf nahyi munkar (dakwah Islam) sebagai sebuah kewajiban, khususnya di kalangan remaja dan pelajar, sehingga jika menemui anggota masyarakat yang melakukan kemaksiatan seperti tindak mendekati zina apalagi berzina, tidak dibiarkan tapi dinasihati atau dilaporkan kepada yang berwajib.
  3. Pilar NEGARA. Negara harus menumbuh kembangkan budaya gaul sehat dengan menetapkan aturan yang jelas dan tegas dalam tata pergaulan. Juga harus tegas menindak setiap pergaulan bebas dalam bentuk apapun, menutup berbagai industri dan media berbau pornografi yang memicu pergaulan bebas, dan jangan ragu-ragu pula mengganjar para pelaku pergaulan bebas dengan sanksi yang setimpal.

Karena itu, harus ada upaya bersama secara sungguh-sungguh untuk menghancurkan sistem sekuler yang telah melahirkan kerusakan pergaulan dan menegakkan sistem Islam dalam Khilafah yang akan melindungi moralitas remaja dan bangsa ini serta mengikis dengan tuntas segala bentuk kemaksiatan yang merajalela di tengah masyarakat sehingga keberkahan dari Sang Pencipta niscaya akan didapatkan. Allah swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS al-Anfal [8]: 24)

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto