Select Menu

Puisi

Kisah Inspiratif

Jodoh

Artikel Doa

Cinta Karena Allah

Dunia Muslimah

Seputar Remaja

Dunia Putri

Tanya Jawab


Ketahuilah Saudaraku, bahwasanya ada suatu penyakit yang apabila tidak diobati dapat merusak iman dan akal sehat penderitanya. Penyakit yang biasanya menimpa kawula muda ini bernama kasmaran.

Mengapa kasmaran dinamakan penyakit yang berbahaya dan harus diobati? Hal ini dikarenakan si penderita lebih sibuk mencintai dan mengingat makhluk sehingga lalai mencintai serta mengingat Allah. Si penderita juga akan merasakan tersiksanya hati karena makhluk yang dicintai. Siapa saja yang mencintai sesuatu selain Allah pasti akan tersiksa karenanya. Hidup orang yang kasmaran seperti halnya tawanan yang terikat. Sebaliknya, hidup orang yang terbebas pikirannya dari mabuk cinta adalah lepas dan merdeka. Seperti dikatakan penya’ir:
Ia bebas dalam pandangan mata, padahal sebenarnya tawanan
Yang sakit dan mengelilingi pusat kebinasaan
Ia adalah mayat yang terlihat hidup dan berjalan
Yang tidak akan bangkit meski tiba hari Kebangkitan
Hatinya hilang dalam gemuruh kesengsaraan
Yang tidak tersadarkan hingga kematian menjemput

Jika kasmaran kuat dan kokoh di hati penderita, niscaya ia akan merusak pikiran dan lalai dari kemaslahatan agama dan dunianya. Semakin hati itu dekat dengan cinta semu, ia pun akan semakin menjauh dari Allah sehingga syaiton pun mudah menguasai dirinya.

Dengan demikian, penyakit kasmaran perlu untuk diobati. Rasulullah bersabda,
Artinya: “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah.” (HR.Muslim)
Berikut beberapa trik mengatasi kasmaran:

Langkah pertama, Obat penyakit yang fatal ini dimulai dari kesadaran penderita bahwa cobaan yang menimpanya merupakan lawan dari tauhid. Hal ini terjadi karena kebodohan dan kelalaian hatinya kepada Allah. Oleh sebab itu, wajib baginya mengetahui hakikat tauhid kepada Allah, sunnah-sunnahNya, dan ayat-ayatNya.

Selanjutnya, dia harus melaksanakan seluruh ibadah baik lahir maupun batin supaya hatinya sibuk sehingga tidak berpikir tentang kasmarannya. Ia juga harus memperbanyak ketundukan hati dan bersandar kepadaNya untuk memalingkan perasaan cinta tersebut dengan mengembalikan hatinya kepada Allah. Tidak ada obat yang lebih bermanfaat daripada ikhlas kepada Allah. Inilah obat yang disebutkan dalam kitabNya sebagaimana firman-Nya :

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Artinya: “… Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.” (QS Yusuf: 24)

Hendaklah si penderita kasmaran berusaha dengan gigih untuk mengobati penyakit kasmarannya, karena kasmaran hanya manis pada awalnya tetapi pada pertengahannya menyebabkan kesulitan, kesibukan hati, bahkan penyakit jiwa lalu akhirnya adalah ‘kebinasaan dan pembunuhan’. Na’udzubillah.

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita agar kita senantiasa melakukan amalan ketaatan dan meninggalkan amalan yang sia-sia. (www.muslimah.or.id)

Penyusun: Dwi Pertiwi
Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Referensi : “Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’”. Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah
Kisah aneh baru saja terjadi di Yaman. Dalam acara lamaran, gadis yang sedang dilamar malah meminta dinikahi oleh ayah calon suaminya sendiri.

Seperti diberitakan El-Watan News, Selasa (14/10/2014) hari ini, seorang pemuda Yaman bercerita bahwa ayahnya (40 tahun) menawarinya menikah dengan seorang gadis (18 tahun). Pemuda itu belum mengenal sang gadis, tapi dia langsung menyetujui tawaran sang ayah.

Maka tibalah hari saat sang ayah berkunjung ke rumah gadis itu bersama ibu dan bibinya. Kunjungan itu adalah untuk menyerahkan mahar yang telah disepakati sebesar satu juga Riyal (sekitar Rp. 50 juta).

Pemuda itu melanjutkan ceritanya, “Ketika pulang, ibu mengatakan bahwa gadis itu menolak menikah denganku. Tapi dia malah meminta menikah dengan ayahku. Awalnya ibu mengira gadis itu sedang bercanda. Tapi gadis itu kemudian bersumpah bahwa dia tidak sedang bercanda.”

Seperti diceritakan sang ibu kepada anaknya yang gagal menikah ini, sang ibu berkata kepada gadis itu, “Kamu tidak tahu malu, ingin menikah dengan suamiku di depan mataku sendiri.” Gadis itu menjawab, “Aku ingin menikahinya sesuai dengan syariat dan atas persetujuanmu.”

Tidak hanya itu, bahkan sang gadis menurunkan nilai maharnya setengah, sehingga menjadi 500 ribu Riyal saja, bila menikah dengan ayah calon suaminya itu. (msa/dakwatuna)


Di antara sebab takutnya para mulia terdahulu terhadap gelar-gelar yang disematkan pada nama mereka adalah Quran Surat Ad Dukhaan ayat 49.

ذُقْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ

“Rasakanlah; sesungguhnya engkau orang yang perkasa lagi mulia!” {QS Ad Dukhaan [44]:49}. Ayat ini tertuju kepada Abu Jahal kelak ketika ia disiksa.

‘Adzab itu; zaqqum menggelegak di perut bagai didihan termulut menganga haus melampaui kepala dituangi air panas dan neraka menyala.

Adalah dulu ia mencengkram Nabi dan berkata, “Apa kau mengancamku Muhammad? Sungguh aku ini Al ‘Azizul Karim, sang perkasa lagi mulia!”

Dalam riwayat lain ia berkata; “Aku Al ‘Azizul Karim; sang perkasa lagi mulia; tiada di antara gunung-gunung Makkah nan melampauiku!”

Maka selain ‘adzab pedih yang menderanya; Allah tambahkan siksa lain; berupa penghinaan. Allah menghinanya dengan gelar yang dibanggakannya.

“Rasakan; sesungguhnya kau SANG PERKASA LAGI MULIA!” {QS: 44:49}. Dalam kalimat ini ada sindiran paling menyesakkan bagi si tersiksa.

Dalam kalimat ini juga ada penistaan yang paling menusuk bagi si terhukum.

Dalam kalimat ini ada tempelak paling menampar bagi pembangga gelar.

Maka, di antara siksaan terpahit di neraka adalah, diungkit-ungkitnya gelar dunia yang disandang hamba oleh Allah untuk menghinanya.

Betapa enggan Abu Bakar dipanggil Khalifah RasuliLlah, betapa tegas Umar menolak dan betapa keras ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz tak hendak.

Betapa galaunya Imam An Nawawi ketika digelari Muhyiddin {yang menghidupkan agama}, sebab beliau takut kelak gelar itu membuatnya ternista.

Amat banyak teladan; betapa khawatir yang benar-benar hebat disebut “hebat”, betapa risih yang betul-betul mulia dipanggil “mulia”.

Sebab selain gelar itu tak menambah hakikat kemuliaan, ia hanya membuat lena; dan dikhawatirkan kelak di akhirat jadi bagian siksa.

Terlebih jika gelar itu bualan tak terbukti; seperti sedihnya diri mendengar yang bergelar miliarder hanya menggaji karyawannya 1/4 UMR.



Tapi semua ceracau ini lebih layak ditudingkan pada diri; yang hatinya masih berbunga mendengar puji dan diam-diam rindu digelari.

Semoga Shalihin dan Shalihat bermurah hati mendoakan kami yang hatinya rapuh, jiwanya rentan dan Allah tampilkan di panggung nan berat ujian.

Semoga Allah selamatkan kita dari syahwat menggagahkan diri dengan gelar dan pujian; sebab betapa sesal dan rugi jika ia jadi siksa nanti.

Doakan guru-guru kita yang dicintai ummat dan disematkan gelar pada mereka; semoga Allah mampukan dan kuatkan untuk memenuhi hak gelarnya. Bagi kita para awam; sungguh Allah Subhanahu Wata’ala menyayangi hamba nan menginsyafi kadar dirinya; tak membebani diri dengan yang tak disanggupinya.

Oleh:Salam Afillah

Abdul Wahid bin Zaid -rahimahullah- mengisahkan:

Kami pernah di perahu, lalu angin menghamparkan kami ke sebuah pulau, maka kami turun ke pulau tersebut. Tiba-tiba di sana ada seorang lelaki menyembah patung. Maka kami menghampirinya, dan bertanya kepadanya: “Wahai lelaki, siapa yg kamu sembah?”. Maka dia menunjuk kepada patung.

Kami katakan: “Di perahu kami ada orang yg bisa membuat benda seperti itu, itu bukan sesembahan yg pantas disembah.

Dia: “Kalau kalian, siapa yg kalian sembah?”.

Kami: “Allah”.

Dia: Siapa Allah itu?

Kami: Dialah yang arsy-Nya ada di langit, kekuasan-Nya ada di bumi, dan keputusan-Nya berlaku bagi yang hidup maupun yang sudah mati.

Dia: Bagaimana kalian mengetahui-Nya?

Kami: Dia yg merupakan Raja yang Agung dan Pencipta yang Mulia ini, mengutus kepada kami seorang Rasul (utusan) yg mulia, dan Rasul itu yg mengabarkan kepada kami tentang-Nya.

Dia: Lalu apa yg dilakukan Rasul tersebut?

Kami: Beliau telah menunaikan amanah risalah (yg diembannya), kemudian Allah mengambilnya kepada-Nya.

Dia: Tidakkah dia meninggalkan tanda bukti untuk kalian?

Kami: Tentu.

Dia: Apa yang dia tinggalkan?

Kami: Beliau meninggalkan untuk kami Kitab dari Raja tersebut.

Dia: Perlihatkan kepadaku Kitab Raja tersebut, tentu Kitabnya Raja itu sangat baik.

Maka kami datangkan mushaf Al Quran kepadanya. Dia mengatakan: “Aku tidak tahu ini”. Maka kami bacakan kepadanya satu surat dari Al Qur’an, kami pun terus membacanya hingga dia menangis, kami membaca lagi dan dia terus menangis, sehingga kami selesaikan satu surat. Dia mengatakan: “Sepantasnya pemilik perkataan ini tidak dimaksiati”.

Kemudian dia masuk Islam, dan kamipun mengajarinya syariat-syariat Islam dan beberapa surat Al Qur’an. Lalu kami mengajaknya bersama kami dalam perahu. Ketika malam menyelimuti kami dan kami beranjak tidur, dia mengatakan: “Wahai kaum, sesembahan ini, yang kalian tunjukkan kepadaku, jika malam datang, apakah Dia tidur?”

Kami menjawab: “Tidak, wahai hamba Allah, Dia itu maha hidup, maha mengatur, dan maha agung, Dia tidak tidur.
Dia: Seburuk-buruk hamba adalah kalian, kalian tidur padahal Pelindung kalian tidak tidur?! Lalu dia mulai dengan ibadahnya, dan membiarkan kami”.

Ketika kami sampai ke negeri kami, kukatakan kepada para sahabatku: “Orang ini baru masuk Islam, dia juga asing di negeri ini”. Maka kami mengumpulkan banyak uang dirham untuknya, dan memberikan kepadanya.

Dia mengatakan: Untuk apa ini?

Kami: Agar kau pergunakan untuk kebutuhan-kebutuhanmu.

Dia mengatakan: La ilaaha illallah… Aku dulu di pulau di tengah laut dan aku menyembah berhala, bukan menyembah-Nya, meski begitu Dia TIDAK MENELANTARKAN aku, apakah Dia akan menelantarkan aku di saat aku mengenal-Nya?!

Kemudian dia pergi mencari nafkah sendiri, dan setelah itu dia menjadi salah seorang yang sangat tinggi kesalehannya, hingga dia wafat. [Kitab Attawwabin, karya: Ibnu Qudamah, hal 179]  (Muslim.Or.Id )

Oleh: Ustadz Musyaffa Ad Darini

Dalam isyarat Nabi tentang Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati.Maka sebagai ibadah, memerlukan kesiapan dan persiapan. Ia untuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.

Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturuntukan kemauan. Persiapan hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”

Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar dan nafkah. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) dan makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh.

Jika kesiapan diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.

Izinkan saya membagi Persiapan dalam 5 ranah:
  1. Ruhiyah,
  2. ‘Ilmiyah,
  3. Jasadiyah (Fisik),
  4. Maaliyah (Finansial),
  5. Ijtima’iyah (Sosial)
Persiapan perlu start awal. Salim menikah usia 20 tahun, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 tahun, maka tak bisa disebut tergesa.Sebaliknya, ada orang yang nikah-nya umur 30 tahun, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 tahun. Itu namanya tergesa-gesa.

Kita mulai dari yang pertama; Persiapan Ruhiyah. Ialah nan paling mendasar. Segala persiapan lainnya berpijak pada yang satu ini. Persiapan Ruhiyah (Spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian dan tanggungjawab hidup nan lebih berlipat, berkelindan. (QS Ali Imran 14): Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup. Begitu berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi. Sebelum Nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan nikmat, ya musibah.

Maka termakna jua dalam Persiapan Ruhiyah terkait adalah kemampuan mengelola sabar dan syukur menghadapi tantangan-tantangan itu. Sabar dan syukur itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih dan kurangnya. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, dan dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu.
Persiapan Ruhiyah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa nan diperoleh, menuju nan apa akan dibaktikan. Jika masih terbayang sebagai berikut: lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa.
Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, dan tukang cuci;) Ber-obsesilah dalam Nikah. “Apa obsesimu?”

Obsesi sebagai Persiapan Ruhiyah semisal: Bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/isteri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu? Usai itu, di antara persiapan Ruhiyah adalah menata ketundukan pada segala ketentuanNya dalam rumah tangga dan masalah-masalahnya.

Lalu persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan) Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dan lain-lain. Bukan Ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal lmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga

Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan krn ada maksud jahat,melainkan maksud baik nan kurang ilmu Nikah. Sungguh harus diilmui bahwa lelaki dan perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami dan bersinergi.

Contoh beda hadapi masalah dan tekanan; Wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi Nikah.

Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi: “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja. Suami pulang dengan masalah berat disambut isteri yang memaksa ingin tahu dan dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri dan bersolusi.

Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dari Hira’ dengan panik dan resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri dan kontemplasi. Sebaliknya, isteri yang sdg ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti.

Isteri: “Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla.”

Suami: “OK, kita cari pembantu. “

Istri: “O, jadi aku dianggap pembantu?!.”

Suami: “Lho?!”

Beda lagi: Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berrangkai-rangkai.

Beda lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami.
Istri: ”Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak!”

Jawab suami: “Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri”

Dijamin para isteri gondok, sebab maksudnya: “Tolong jemput Salma!”

Beda. Bagi suami masalah harus disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail dan keterkaitan sangat penting (Spiral keluar)

Dan banyak lagi beda yang jika tak diilmui potensial jadi masalah serius.

Next: Parenting. Waktu kita sempit; belum puas belajar jadi suami/isteri, tiba-tiba sdh jadi ayah/ibu. Maka segeralah belajar jadi Ortu. Anak adalah karunia yang hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian).

Maka mengilmui hingga detail-detail kecil soal parenting adalah niscaya. Contohnya hadits: renggutan kasar pada bayi membekas di jiwa.

Uji kecil buat calon ibu dan ayah: “Apa yang anda lakukan saat anak lari-larian di depan rumah lalu gabruss, jatuh berdebam?”

Lazim: “Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!” Anak belajar untuk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya.

Lazim: “Iih, batunya nakal ya Nak! Sini Ibu balaskan!” Anak belajar salahkan keadaan sekitar untuk excuse dari kurangnya ikhtiyar.

Lazim: “Hm, nggak apa-apa, nggak sakit, cuma kayak gitu!” Ketakpekaan. Hati-hati dibalas saat kita sdh tua dan sakit-sakitan.

Alangkah bahaya tiap huruf dari lisan bg masa depan anak kita.
Latihlah dia agar lempang (tanpa dusta dan tipu) dalam taqwa (QS 4: 9)

Kita masuk persiapan Jasadiyah (Fisik) untuk. Ini jua perkara penting sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, dan ketenagaan. Awal-awal, periksa dan konsultasilah ke dokter atas termungkinnya segala penyakit tubuh, lebih-lebih nan terkait kesehatan reproduksi

Pernikahan itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi dan rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah jua hal yang utama. Fisik kita dan pasangan bertanggungjawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya dan staminanya sejak sekarang.

Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tg jawab jajan sembarangan jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelahnya.

Jadi, target persiapan fisik itu 3 tingkatan;
  1. primer: sehat dan aman penyakit,
  2. sekunder: bugar dan tangkas,
  3. tersier: beauty dan charm

Selanjutnya, persiapan Maliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui dan membuat ragu sepertinya. Padahal ianya sederhana. Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan dan penegasan kepemimpinan suami. Ingat dan catat: Persiapan finansial sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, dan kendaraan yang harus anda punya.

Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, dan kemampuan kelola sejumlah apapun ia. Maka memulai pernikah-an, BUKAN soal apa anda sudah punya tabungan, rumah, dan kendaraan. Ia soal kompetensi dan kehendak baik menafkahi.

‘Ali ibn Abi Thalib memulai bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dan lain-lain dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.
Maka sesudah kompetensi dan kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: itu buat kaya (QS 24: 32)
Agak malu, Salim juga minus saat nikah; hutang yang terrencanakan terbayar dalam 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu. Tetapi Allah Maha Kaya, dan menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya isteri menjadi penyemangat; hutang itu selesai dalam 2 bulan.

Buatlah proyeksi nafkah secara ilmiah dan executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dalam hitungan, tapi siaplah dengan kejutanNya.

Kemapanan itu tidak abadi. Saya memilih di usia 20 saat belum mapan agar tersiapkan isteri untuk hadapi lapang maupun sempitnya. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta

Ketidakmapanan nan dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung, meningkatkan angka harapan hidup. Karolinska Institute: kemapanan lemahkan daya tahan jantung terhadap serangan. Di Swedia, biasanya yang kena infark langsung wafat PNS

Persiapan yang sering terabai ialah nan kelima ini: Ijtima’iyah (Sosial). Pernikahan adalah peristiwa yang kompleks secara sosial. Sebuah pernikahan yang utuh punya visi dan misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan. Untuk itu, mereka yang akan me hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan.

Membiasakan mengkomunikasikan prinsip-prinsip nan diyakini terkait pernikahan dan kehidupan kepada Orangtua bisa jadi bagian dari latihan.

Prinsip Quran tentang hubungan dengan Ortu ialah ‘persahabatan’, Wa Shaahibhuma (QS Luqman 15). Gunakan itu untuk dewasakan diri. Maka kadang Salim menilai kedewasaan kawan yang ingin menikah dengan keberhasilannya untuk komunikasikan prinsip pada Ortu scr ma’ruf. Persiapan kemasyarakatan: kumpulkan modal sosial sebanyak-banyaknya; bahasa, ilmu sosio-antropologis, kelincahan organisasi, dan lain-lain.

Pernikahan kita harus hadir sbg pengokoh kebajikan masyarakat, bukan beban ataupun pelengkap-penderita. Utama lagi, jadi pelopor. Mulailah dengan perkenalan berkesan pada lingkungan. Saat walimah nanti; tetangga rumah tinggal setelah adalah yang plg berhak diundang. Jika harus pindah tempat tinggal, mulai juga dengan perkenalan.

Para tokoh: datangi silaturrahim. Masyarakat umum: undang tasyakuran.

Setelah itu, target besarnya adalah menjadikan pintu rumah kita sebagai yang paling pertama diketuk saat masyarakat sekitar memerlukan bantuan. Tentu berat menopangnya sendiri. Maka yang harus kita punya bukan hanya ASET, melainkan juga AKSES. Bangun jaringan saling menguatkan.

Ilmuilah bagaimana cara menguruskan jaminan kesehatan miskin, beasiswa tak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis, dan lain-lain demi tetangga kita.

Tampillah sebagai yang penting dan bermanfaat dalam hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga rayaan-rayaan sosial-masyarakat. Tampillah sebagai yang terbaik sejangkau sesuai kemampuan; Imam Masjid, muadzin, Guru TPA, Bendahara RT, Ketua RW, Pendoa jenazah, dan seterusnya.

Tampillah sebagai nan paling besar kontribusi dalam kebaikan-kebaikan sosial: Agustusan, Syawalan, Kerja Bakti, Arisan, Pengajian, dan seterusnya. Ringkas kata untuk persiapan sosial ini adalah bermampu diri untuk menjadi pribadi dan keluarga yang aman, ramah, bermanfaat

Oleh:Salim A Fillah

“Kasihan ya, dia itu nggak laku-laku.”

“Habis, dia terlalu pilih-pilih sih. Jadinya ya gitu, laki-laki takut mau mendekatinya.”

“Perempuan itu nggak bisa memilih, jadi ya terima saja siapa pun laki-laki yang mau sama dia.”

Berbagai ungkapan sejenis yang bernada sama seringkali terlontar ketika masyarakat kita menyikapi perempuan yang belum juga menikah. Bukannya mendoakan, umumnya mereka memilih nyinyir dan berprasangka negatif terhadap perempuan yang masih melajang di usianya yang melewati ambang layak nikah.

Sahabat muslimah, hidup di zaman ketika Islam semakin jauh dari kehidupan itu memang bukan hal yang mudah. Ada saja suara yang berusaha menilai seseorang dari tampilan luarnya saja. Kita tak akan pernah tahu apa yang telah dilewati oleh seseorang lainnya ketika ia memutuskan sesuatu dalam hidupnya. Begitu juga dalam hal jodoh. Masalah jodoh, menurut saya bukan masalah laku atau tidak laku. Kita tidak sedang berjualan kue apem di sini yang bisa dinilai laku bila laris manis. Begitu sebaliknya, dibilang tak laku bila stok yang tersedia masih banyak.
Jodoh adalah masalah hidup dan mati, dunia dan akhirat. Betapa banyak istri yang tersiksa bahkan mati di tangan suami. Mungkin contoh ini terlalu ekstrem. Baiklah sedikit kita ambil contoh tentang betapa banyak istri yang memunyai suami tak pantas disebut imam yang akan menuntunnya ke surga. Suami yang enggan melaksanakan salat lima waktu, tidak memberi nafkah yang layak pada istri dan anak, dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Belum lagi suami yang suka mengucap kata talak atau cerai dengan begitu ringannya tapi masih juga enggak dengan resmi berpisah dari istrinya.
Masyarakat yang memperlakukan laki-laki seolah lebih istimewa daripada perempuan juga menjadikan hal ini lebih runyam. Permakluman selalu ada bagi laki-laki yang suka berganti pasangan, merokok, minum-minuman keras, suka begadang tak jelas, keluyuran ke tempat-tempat maksiat. Orang akan menyebutnya jantan. Memang begitu seharusnya laki-laki. Cap yang berbeda akan diberikan pada perempuan dengan sebutan bejat atau wanita nakal.

Masyarakat berharap perempuan sebagai tiang negara harusnya bersikap sopan, anggun dan baik. Seiring dengan semakin tingginya pendidikan dan kesadaran perempuan terutama muslimah akan agamanya, semakin selektif mereka memilih suami. Persoalan tak lagi terletak pada laku atau tidak, tapi sudah menginjak masalah prinsip. Tidak semua perempuan yang masih bertahan melajang itu karena tidak ada laki-laki yang mau. Sebaliknya, tidak semua perempuan yang menikah itu merasa dirinya bahagia, bersorak hore karena akhirnya ada yang mau. Tidak sesederhana itu.

Akan jauh lebih baik adalah menghormati keputusan seseorang dalam kehidupannya termasuk dalam hal menikah atau belum. Sungguh, secara kodrati tak ada manusia yang suka hidup sendiri. Tapi bila yang datang masih belum memenuhi kriteria dan tak sanggup menghantar ke ridho Ilahi, bukan pilihan yang salah ketika melajang menjadi pilihan diri. Kita tak tahu betapa kondisi ini juga bukan hal yang mudah bagi para muslimah yang masih melajang. Kita tak tahu beban apa yang harus dipikulnya. Tak perlu kita menambah beban tersebut dengan kata-kata yang tak pantas. Cukup doa dan kata-kata baik yang terlontar, itu bisa menjadi bekalnya untuk melewati hari. Apabila kita memang memunyai kenalan laki-laki salih, maka menawarkan untuk memperkenalkan mereka itu jauh lebih baik daripada hanya berkomentar tanpa memberikan solusi.

Wallahu alam.
(fauziya/voa-islam/muslimahzone.com)
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Bapak ustadz yang terhormat, Saya ingin bertanya perihal jilbab. Saya mempunyai seorang teman yang bertanya mengenai jilbab. Ia ingin menggunakan jilbab akan tetapi ia bingung apakah harus siap dan memperbaiki hati terlebih dahulu sebelum memakai jilbab atau langsung aja memakai jilbab dan urusan hati sambil berjalan?
Terima Kasih,
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulilahi Rabbil ‘alamin, wash-shalatu was-salamu ‘alaa Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihihi ajma’in, wa ba’du. Antara hati dan perbuatan sebenarnya sama-sama penting, sehingga tidak perlu dipilih mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Lagi pula, sulit untuk menilai urusan hati atau membuat standarisasinya. Kalau alasan belum mau pakai jilbab karena hatinya ingin diberesi dulu, sebenarnya agak mengada-ada. Sebab siapa yang akan menilai bahwa hati seseorang sudah bersih dan baik? Dan bagaimana cara menilainya? Lalu sampai kapankah hatinya sudah bersih dan siap untuk pakai jilbab?

Sebenarnya kewajiban memakai jilbab tidak pernah mensyaratkan seseorang harus bersih dulu hatinya. Kewajiban itu langsung ada begitu seorang wanita muslimah masuk usia akil baligh. Dan satu-satunya tanda bahwa dia sudah wajib memakai jilbab adalah tepat ketika dia mendapat haidh pertama kalinya. Saat itulah dia dianggap oleh Allah SWT sudah waktunya untuk memakai jilbab. Tidak perlu menunggu ini dan itu, karena kewajiban itu sudah langsung dimulai saat itu juga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada anak wanita Abu Bakar ra, Asma’ binti Abu Bakar ra.
Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Asma’, seorang wanita bila telah haidh maka tidak boleh nampak darinya kecuali ini dan ini. Rasulullah SAW memberi isyarat kepada wajah dan tapak tangannya.”
Rasulullah SAW tidak mengatakan bahwa bila sudah bersih hatinya, atau bila sudah baik perilaku atau hal-hal lain, namun secara tegas beliau mengatakan bila sudah mendapat haidh. Artinya bila sudah masuk usia akil baligh, maka wajiblah setiap wanita yang mengaku beragama Islam untuk menutup auratnya. Dan uaratnya itu adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua tapak tangan.

Ketentuan ini juga diperkuat dengan firman Allah SWT di dalam Al-Quran Al-Kariem tentang kewajiban memakai kerudung yang dapat menutupi kepala, rambut, leher dan dada.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya… (QS. An-Nur : 31)
Namun bukan berarti kalau sudah pakai kerudung, boleh berhati jahat atau buruk. Tentu saja seorang wanita muslimah harus berhati baik, berakhlaq baik dan berperilaku yang mencerminkan nilai keimanan dirinya. Tapi semua itu bukan syarat untuk wajib pakai jilbab. Sebab keduanya adalah kewajiban yang tidak saling tergantung satu dengan yang lainnya.

Wallahu A’lam Bish-shawab
Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Oleh:Ahmad Sarwat, Lc.
Abu Ameenah Bilal Philips bernama asli Dennis Bradley Philips. Dia berdarah Jamaika namun masa kecilnya dihabiskan di Kanada. Perjalanannya mengenal Islam menarik untuk disimak.

Sebelum menjadi muslim, Philips menganut musik dan cinta sebagai agamanya. Dibesarkan dalam kultur musik Jamaika kental membuat ia memilih menjadi gitaris. Di kesengsem Jimi Hendrix dan Bob Marley. Saat berkuliah di Universitas Simon Frasier, Kota Vancouver, Kanada, dia kerap ngamen di klub dan kafe mempertontonkan kemahirannya bermain musik.

Bermain musik memberikan kesempatan pria kelahiran Jamaika, 6 Januari 1946, ini menjelajah ke berbagai negara, termasuk Malaysia dan Indonesia pada 1960-an. Di dua negara berpenduduk mayoritas Islam ini, Philips mulai tertarik mempelajari agama Nabi Muhammad.
Balik ke negaranya pada 1972, lelaki berjanggut ini memutuskan mempelajari Islam secara intensif. Dia kerap berdiskusi dengan para cendekiawan muslim dan mempelajari buku-buku agama rahmatan lil alamin ini. Tak perlu waktu cukup banyak, beberapa bulan kemudian Philips mengucapkan dua kalimat syahadat, tanda sumpah serta pengakuan keesaan Allah dan Rasulullah sebagai utusanNya.
Setelah menjadi muslim, Philips memutuskan berhenti menjadi musikus dan mempelajari agama barunya lebih dalam. Dia mengaku tidak nyaman lagi bermusik. "Menjadi artis rentan terhadap perilaku dilarang Allah seperti obat-obatan, seks bebas, perempuan, dan pergaulan salah. Saya tidak mau seperti itu lagi," ujarnya.

Dia kembali bersekolah dengan mendaftarkan diri ke jurusan studi Islam di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Alasannya, dia ingin belajar Islam dari sumber klasik di kota-kota bersejarah dan bukan budaya prakteknya. "Beda lingkungan akan berbeda menerjemahkan Islam," kata Philips.

Kelar di Universitas Madinah, Philips terus belajar. Kali ini dia mendaftar program master di Universitas Riyadh. Selain berkuliah, dia juga nyambi menjadi pembawa acara Why Islam di Channel Two, stasiun televisi milik pemerintah Saudi. Acara seputar wawancara dengan para muallaf dari berbagai latar

belakang dan ketertarikan mereka mempelajari Islam. Dengan membawa acara itu, Philips mengaku imannya semakin kuat. Tak cuma menjadi presenter, dia juga menulis buku, antara lain Poligami dalam Islam dan Prinsip Dasar Iman dalam Islam.
Kelar kuliah S2 pada 1990-an, Philips bekerja di departemen agama markas besar Angkatan Udara Arab Saudi di Ibu Kota Riyadh. Kala itu Perang Teluk tengah berkecamuk. Irak menginvansi ke Kuwait karena menolak menghapus utang luar negeri negeri Saddam Hussein itu. Posisi Kuwait kewalahan dan meminta bantuan ke Amerika Serikat. Negara adidaya itu mengirimkan pasukannya dan membuat pangkalan di Arab Saudi.
Ketika tentara Amerika bermarkas di Negeri Petro Dollar itu, Philips kebagian memberikan materi tentang Islam kepada mereka. Ini penting untuk mengajarkan pengetahuan benar Islam bukanlah agama menyukai kekerasan. Hasilnya, sekitar tiga ribu serdadu Amerika masuk Islam.

Selepas Perang Teluk, Philips dikirim ke Amerika untuk mendampingi para tentara muallaf itu. Dia mendapat bantuan dari anggota tentara beragama Islam untuk membuat konferensi dan kegiatan. Usahanya ini membuahkan hasil dan militer Amerika akhirnya membangun musala di seluruh pangkalan militer mereka.

Kelar proyek itu, Philips hijrah ke Filipina dan mendirikan pusat informasi di Mindanao serta universitas berbasis Islam di Cotobato City. Pada 1994, Philips mendapat undangan bergabung dengan lembaga amal Dar Al Ber di Dubai, Uni Emirat Arab. Di sana ia membentuk pusat informasi Discover Islam di Kota Karama. Proyeknya kali ini mengundang ulama dari pelbagai negara. Dalam lima tahun, pusat informasi itu telah membuat 15 ribu orang dari seluruh penjuru dunia mengucapkan dua kalimat syahadat.(oungjowo)
Bagaimana caranya menjelaskan tentang rindu pada seseorang

Yang entah siapa dan entah di mana saat ini

Untukmu, yang jauh di sana

Terkadang mata ini begitu iri pada hati,

Karena kamu ada di hatiku namun tidak nampak di mataku

Aku tidak memiliki alasan pasti,

Kenapa sampai saat ini aku masih ingin menunggumu,

Meskipun engkau tidak pernah meminta untuk ditunggu dan diharapkan

Hati ini meyakini dan merasa bahwa engkau ada,

Meski entah di belahan bumi mana

Yang aku tahu, kelak aku akan menyempurnakan hidupku denganmu di sini, di sisiku

Maka di saat hatiku telah mengenal fitrahnya,

Aku akan berusaha mencintaimu dengan cara yang dicintaiNya

Sekalipun kita belum pernah bertemu,

Tapi mungkin saat ini kita tengah melihat langit yang sama

Sambil tersenyum menatap rembulan yang sama

Di sanalah, tatapanmu dan tatapanku bertemu.(tausiyahku.com)
Bulan Sya’ban adalah bulan yang penuh kebaikan. Di bulan tersebut banyak yang lalai untuk beramal sholeh karena yang sangat dinantikan adalah bulan Ramadhan. Mengenai bulan Sya’ban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i no. 2357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan keras agar umatnya tidak beramal tanpa tuntunan. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin sekali umatnya mengikuti ajaran beliau dalam beramal sholeh. Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan tuntunan dalam suatu ajaran, maka tidak perlu seorang pun mengada-ada dalam membuat suatu amalan. Islam sungguh mudah, cuma sekedar ikuti apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan, itu sudah mencukupi.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Bid’ah sendiri didefinisikan oleh Asy Syatibi rahimahullah dalam kitab Al I’tishom,
عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ
“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.”
Amalan yang Ada Tuntunan di Bulan Sya’ban

Amalan yang disunnahkan di bulan Sya’ban adalah banyak-banyak berpuasa. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
Di bulan Sya’ban juga amat dekat dengan bulan Ramadhan, sehingga bagi yang masih memiliki utang puasa, maka ia punya kewajiban untuk segera melunasinya. Jangan sampai ditunda kelewat bulan Ramadhan berikutnya.

Amalan yang Tidak Ada Tuntunan di Bulan Sya’ban

Adapun amalan yang tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak yang tumbuh subur di bulan Sya’ban, atau mendekati atau dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Boleh jadi ajaran tersebut warisan leluhur yang dijadikan ritual. Boleh jadi ajaran tersebut didasarkan pada hadits dho’if (lemah) atau maudhu’ (palsu). Apa saja amalan tersebut? Berikut beberapa di antaranya:

1. Kirim do’a untuk kerabat yang telah meninggal dunia dengan baca yasinan atau tahlilan. Yang dikenal dengan Ruwahan karena Ruwah (sebutan bulan Sya’ban bagi orang Jawa) berasal dari kata arwah sehingga bulan Sya’ban identik dengan kematian. Makanya sering di beberapa daerah masih laris tradisi yasinan atau tahlilan di bulan Sya’ban. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah mencontohkannya.

2. Menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat dan do’a.

Tentang malam Nishfu Sya’ban sendiri ada beberapa kritikan di dalamnya, di antaranya:
a. Tidak ada satu dalil pun yang shahih yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban.
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu dalil pun yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Dan dalil yang ada hanyalah dari beberapa tabi’in yang merupakan fuqoha’ negeri Syam.” (Lathoif Al Ma’arif, 248). Juga yang mengatakan seperti itu adalah Abul ‘Ala Al Mubarakfuri, penulis Tuhfatul Ahwadzi.

Contoh hadits dho’if yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban, yaitu hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Hadits ini munqothi’ (terputus sanadnya).” [Berarti hadits tersebut dho’if/ lemah].
b. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ

“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya untuk shalat. Dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dari hari lainnya untuk berpuasa.” (HR. Muslim no. 1144). Seandainya ada pengkhususan suatu malam tertentu untuk ibadah, tentu malam Jum’at lebih utama dikhususkan daripada malam lainnya. Karena malam Jum’at lebih utama daripada malam-malam lainnya. Dan hari Jum’at adalah hari yang lebih baik dari hari lainnya karena dalam hadits dikatakan, “Hari yang baik saat terbitnya matahari adalah hari Jum’at.” (HR. Muslim). Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan agar jangan mengkhususkan malam Jum’at dari malam lainnya dengan shalat tertentu, hal ini menunjukkan bahwa malam-malam lainnya lebih utama untuk tidak dikhususkan dengan suatu ibadah di dalamnya kecuali jika ada dalil yang mendukungnya. (At Tahdzir minal Bida’, 28).

c. Malam nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam lainnya.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Malam Nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam-malam lainnya. Janganlah malam tersebut dikhususkan dengan shalat tertentu. Jangan pula mengkhususkan puasa tertentu ketika itu. Namun catatan yang perlu diperhatikan, kami sama sekali tidak katakan, “Barangsiapa yang biasa bangun shalat malam, janganlah ia bangun pada malam Nishfu Sya’ban. Atau barangsiapa yang biasa berpuasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15 H), janganlah ia berpuasa pada hari Nishfu Sya’ban (15 Hijriyah).” Ingat, yang kami maksudkan adalah janganlah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat tertentu atau siang harinya dengan puasa tertentu.” (Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 115)

d. Dalam hadits-hadits tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebutkan bahwa Allah akan mendatangi hamba-Nya atau akan turun ke langit dunia.

Perlu diketahui bahwa turunnya Allah di sini tidak hanya pada malam Nishfu Sya’ban. Sebagaimana disebutkan dalam Bukhari-Muslim bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam terakhir, bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja. Oleh karenanya, keutamaan malam Nishfu Sya’ban sebenarnya sudah masuk pada keumuman malam, jadi tidak perlu diistimewakan.
‘Abdullah bin Al Mubarok rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).

Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah masuk pada keumuman malam, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29).

3. Menjelang Ramadhan diyakini sebagai waktu utama untuk ziarah kubur, yaitu mengunjungi kubur orang tua atau kerabat (dikenal dengan “nyadran”). Yang tepat, ziarah kubur itu tidak dikhususkan pada bulan Sya’ban saja. Kita diperintahkan melakukan ziarah kubur setiap saat agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ

“Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).” (HR. Muslim no. 976). Jadi yang masalah adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk ‘nyadran’ atau ‘nyekar’. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

4. Menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar, padusan, atau keramasan. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Puasa tetap sah jika tidak lakukan keramasan, atau padusan ke tempat pemandian atau pantai (seperti ke Parangtritis). Mandi besar itu ada jika memang ada sebab yang menuntut untuk mandi seperti karena junub maka mesti mandi wajib (mandi junub). Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”), ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan (baca: ikhtilath) dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!

Cukup dengan Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam


Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ



“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat amalan yang tidak ada tuntunannya. Karena (ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

Orang yang beramal sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah yang akan merasakan nikmat telaga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak. Sedangkan orang yang melakukan ajaran tanpa tuntunan, itulah yang akan terhalang dari meminum dari telaga yang penuh kenikmatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ


“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui ajaran yang tanpa tuntunan yang mereka buat sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari no. 7049). Sehingga kita patut hati-hati dengan amalan yang tanpa dasar. Beramallah dengan ilmu dan sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Ibnu Taimiyah)
Wallahu waliyyut taufiq.(www.rumaysho.com)
Masa remaja memang masa yang penuh gaya, suka cita, dan hura-hura. Tak jarang mereka bertindak semau gue, hanya memikirkan dirinya, tanpa peduli siapa di sekitarnya dan dari mana ia mendapatkan modal untuk bergaya. Tak sadar, di balik penampilannya ada jerih payah orang tua. Di balik arogansinya ada sebuah harapan besar ibu dan bapaknya untuk masa depannya.


Tetapi apa mau dikata, cita-cita itu seakan sirna ditelan masa karena apa yang menjadi harapan orang tua tampaknya tidak terlaksana. Itulah gambaran remaja yang menjadi korban propaganda musuh-musuh Islam untuk menyesatkan generasi remaja Islam, dengan dalih kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia.



Para remaja lebih memilih kehidupan yang bebas tanpa batas daripada kehidupan yang dinaungi dengan syariat, lebih memilih maksiat daripada shalat, lebih memilih hal-hal yang mubazir daripada berzikir.
Itulah gambaran remaja zaman sekarang, maka janganlah menjadi remaja yang banyak gaya, karena banyak bergaya pasti akan banyak dosa apabila banyak dosa, maka tidak lain neraka adalah tempatnya. Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan bergeser kaki seorang manusia dari sisi Allah, pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya (dimintai pertanggungan jawab) tentang lima (perkara): tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta bagaimana di mengamalkan ilmunya” (HR At-Tirmidzi)

Perlu kita sadari bahwa karena kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan peningkatan keimanan telah merusak moral kaum muslimin terutama oleh sebagian remaja di sekitar kita. Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mestinya menjadi pegangan telah ditinggalkan oleh sebagian besar remaja saat ini, sebagai gantinya mereka rame-rame menghadapkan wajah dan pikirannya kepada orang-orang barat yang pada umumnya mereka adalah orang-orang kafir.

Agama Islam sangat memberikan perhatian besar kepada upaya perbaikan mental para remaja. Karena generasi muda hari ini adalah para pemeran utama di masa mendatang, dan mereka adalah pondasi yang menopang masa depan umat ini. Oleh karena itulah, banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw yang mengingatkan kita untuk senantiasa membina dan mengarahkan para remaja kepada kebaikan. Karena jika mereka baik maka umat ini akan memiliki masa depan yang cerah, dan generasi tua akan digantikan dengan generasi muda yang saleh.
Rasulullah saw bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”.
Hadits yang agung ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi seorang remaja muslim, sekaligus menjelaskan keutamaan besar bagi seorang pemuda yang memiliki sifat yang disebutkan dalam hadits ini.

Maka tak ada waktu lagi selain sekarang untuk mengubah kebiasaan lama yang bergelimang dosa kita ganti dengan kebiasaan yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat serta mengusahakan kebaikan bagi dirinya dan membiasakan diri untuk selalu menetapi amal saleh dan ibadah kepada Allah Ta’ala, agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan keutamaan dan kemuliaan besar dari Allah. Wallahu’alam.(http://www.an-najah.net)
Selain menjual cinta ahlu bait, ada dua hal yang membuat Syi’ah mudah tersebar di kalangan umat Islam. Yaitu Taqiyyahdan Mut’ah. Taqiyyah adalah sebuah prinsip dusta demi meraih tujuan. Sedangkan mut’ah adalah zina terselubung yang dihiasi dalil agar dianggap sebagai ibadah. Mut’ah adalah nikah kontrak, sesuai akad di awal dan mahar yang diberikan kepada wanita bisadi angsur.

Taqiyyah, SenjataKetikaLemah

Kebanyakan muslim tidak pernah mendengarkan bahwa Syi’ah menganggap nashibi (umat Islam Sunni) lebih layak diperangi dari pada Yahudi dan Nasrani. Mungkin, banyak orang tidak tahu bahwa dalam buku-buku Syiah dihalalkan merampas/mencuri harta nashibi.
Dari Abu Abdillah –Ja’far Ash Shadiq- mengatakan: Ambillah harta orang nashibi di mana saja kamu dapatkan, lalu bayar seperlimanya pada kami.
Riwayat ini terdapat dalam kitab Tahdzibul Ahkam jilid 4 hal 122, Al Wafi jilid6 hal43, begitu juga dinukil oleh Al-Bahrani dalam Al-Mahasin An-Nifsaniyah, Al Bahrani mengatakan riwayat ini memiliki banyak jalur.

Banyak juga orang tidak tahu bila tetangganya, guru ngajinya atau saudaranya telah memeluk Syi’ah. Ketidaktahuan itu wajar-wajar saja. Pasalnya dalam ajaran Syi’ah terdapat akidah yang disebut taqiyyah. Yaitu menyembunyikan jati diri atau keyakinan-keyakinan Syi’ah di hadapan orang lain, demi sebuah misi.

Keyakinan ini merupakan Sembilan persepuluh dari seluruh ajaran Syi’ah. Bahkan Taqiyyah syarat menjadi mukmin di mata Syi’ah. Al-Kulaini, dalam bukunya UshululKafi (482-483) meriwayatkan bahwa Abu Abdillah –salah seorang yang diklaim imam Syi’ah- berkata, “Hai Abu Umar, Sembilan persepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, tidak beragama bagi orang yang tidak bertaqiyyah.”

Sehingga banyak orang tertipu dengan Syi’ah. Pasalnya, akidah-akidah busuk Syi’ah sengaja disembunyikan dari umat Islam, agar kebobrokan-kebobrokan akidah mereka tidak tampak dan tidak dijauhi oleh umat.

Abu Abdillah berkata, “Jagahlah agama kalian, tutupi dengan taqiyyah. Tidak dianggap beriman orang yang tidak bertaqiyyah.”
Ibnu Babawih –ulamaSyi’ah- berkata, “Keyakinan kami dalam Taqiyyah adalah wajib. Siapa yang meninggalkannya, maka ia seperti meninggalkan shalat.” (al-I’tiqadats, hlm. 114)

SemakinDusta, Semakin Shaleh

Bisa disimpulkan, seorang yang shaleh atau shalehah di mata orang Syi’ah adalah orang yang paling sering bertaqiyyah. Jadi, semakin banyak berdus tamak aias emakin shaleh di mata Syi’ah.

Dalama kidah Islam memang ada ajaran taqiyyah atau tauriyah. Namun tauriyah dalam akidah Islam adalah sebuah pilihan ketika kondisi terancam nyawa dan bersyarat, bukan sebuah kewajiban atau rukun iman. Tidak boleh dilakukan di sembarang waktu dan tempat.

Ibnu Mundzir, salah seorang ulama Islam berkata, “Para ulama berijma’ bahw siapa saja yang dipaksa untuk berbua kafir dengan ancama nyawa, maka ia diperbolehkan untuk memilih berbohong dengan pura-pura berbuat kafir. Orang ini tidak boleh dikafirkan.” (fathulBaari, 12/314)

Namun memilih untuk matisyahid saat demikian lebih utama. Ibnu Bathal rhm berkata, “Para ulama berijma’ bahwa siapa saja yang dipaksa antara dibunuh dengan kekafiran. Lalu ia memilih untuk dibunuh, maka itu lebih baik dan pahalanya lebih besar di sisi Allah SWT.” (FathulBaari, 12/318)

Mut’ah, Zina Terselubung

Mut’ah bisa dijadikan senjata bagi orang Syi’ah, namun juga menjadi titik lemah Syi’ah. Syi’ah menjadikan nikah sebagai alat untuk merekrut anak-anak muda dan orang-orang yang memiliki kecendrungan lebih kepada wanita.

Banyak dalil dari al-Qur’an dan Hadits yang digunakan oleh Syi’ah untuk menghalalkan mut’ah. Namun semua ayat yang dijadikan hujjah ditafsir sesuai nafsu Syi’ah. Tidak ada petunjuk dari Rasulullah Sholallahu’alaihi Wassalam dan para sahabatnya dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut sebagai kebolehan bermut’ah.

Memang Rasulullah Sholallahu’alaihi Wassalam pernah menghalalkan mut’ah sebanyak dua kali yaitu sebelum perang Khaibar dan diawa lfathu Makkah. Namun pada Fathu Makkah juga Rasulullah Sholallahu’alahi Wassalam mengharamkannya. Bahkan yang meriwayatkan pembatalan bolehnya mut’ah (naskh) adalah salah satu ahlu bait, yaitu Ali bin Abu Thalib dalam riwayat Muslim dan Bukhari.

Dalam bukunya, tahrimul nikahil mut’ah, imam Ibnu Abi Hafidz telah membantah kehalalan mut’ah yang ‘dijual-bebas’ oleh Syi’ah.

Pelacur Yang Shalehah

Dalam ajaran Syi’ah, mut’ah tidak sekedar dianggap sebagai wisata biologis, tetapi lebih dari itu. Yaitu, dianggap sebagai syarat menjadi Syi’ah yang baik. Dalam kitab Syi’ah man la Yahdhuruhul-Faqih, (3/336) disebutkan, al-Shadiq berkata, “Mut’ah adalah agamaku, dan agama nenek moyangku. Maka, siapa yang mengamalkannya, sungguh ia telah mengamalkan agama kami. Siapa yang mengingkarinya, maka ia telah mengingkari agama kami, dan telah memeluk selain agama kami.”

Banyak riwayat gubahan para ulama Syi’ah yang menunjukkan keutamaan nikah mut’ah. Salah satunya dalam buku tafsir minhajusshadiqin, konon Rasulullah Sholallahi’alaihi Wassalam bersabda, “Barang siapa yang melakukan mut’ah sekali, maka ia telah selamat dari murka Allah SWT. Yang melakukannya dua kali, maka ia akan dikumpulkan bersama orang-orang shaleh. Barang siapa yang melakukannya tiga kali, maka akan bersamaku di surga-surga.”

Dari berbagai riwayat yang ada dalam buku-buku induk Syi’ah dapat disimpulkan, bahwa keshalehan wanita dalam pandangan Syi’ah adalah berbanding dengan banyaknya ia melakukan mut’ah. Semakin sering ia melakukan mut’ah maka wanita tadi semakin shalehah dalam ajaran Syi’ah. Artinya, semakin sering lacur, semakin shalehah. Demikian juga laki-lakinya.

Keyakinan Syi’ah erhadap mut’ah bertentangan dengan anjuran Allah SWT untuk menjaga kemaluannya. Allah SWT berfirman,
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki [994]; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (al-Mukminun: 5-7).
Dalam ayat ini Allah mengharamkan persetubuhan dengan wanita kecuali istri sah atau hamba sahaya. Sedangkan wanita mut’ah adalah sewaan, bukan istri yang sah. Sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Syi’ah sendiri bahwa wanita mut’ah-an adalah wanita sewaan, maka boleh memut’ahi lebih dari seribu wanita, mereka tidak mendapatkan warisan, dan tidak perlu dicerai, (al-Furu’ minalKafi, 5/451).* Na’udzubillahimindzalik, (Disalin dari kitab Syi’ah Kawan atau Lawan/an-najah.net)
Oleh: Mush’ab
Manfaat menyehatkan dari minum susu secara rutin merupakan hal yang tidak dapat terbantahkan. Kecuali bagi mereka yang mempunyai intoleransi laktosa, susu bermanfaat bagi semua orang.
Susu mengandung banyak nutrisi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta otak. Karena tingginya manfaat tersebut, maka para ibu hamil pun disarankan untuk rajin meminum susu. Kandungan kalsium, protein, dan vitamin di dalamnya sangat penting untuk kesehatan tubuh ibu hamil dan perkembangan janin yang dikandung mereka.
Bagi Anda yang masih enggan minum susu saat hamil, berikut adalah manfaat menyehatkan dari rajin minum susu selama hamil yang harus Anda ketahui.

Tinggi kalsium
Selama masa kehamilan, kalsium merupakan zat yang harus Anda cukupi di dalam tubuh. Jika Anda kekurangan kalsium, maka akan memberikan dampak yang besar untuk perkembangan dan kesehatan buah hati Anda. Oleh karena itu disarankan bagi Anda untuk minum 3 cangkir susu per hari.

Mencukupi kebutuhan protein
Apabila Anda kekurangan protein selama hamil, maka dapat menyebabkan penurunan berat badan janin yang Anda kandung. Selain itu protein juga baik untuk menguatkan rahim, melancarkan sirkulasi darah, serta menyehatkan payudara.

Sumber vitamin D yang baik
Susu merupakan sumber vitamin D yang penting. Vitamin D sangat diperlukan untuk mencegah rakhitis neonatal dan berat bayi yang rendah. Meminum susu dapat memenuhi kebutuhan vitamin D sekitar 59%.

Meredakan mual
Saat hamil, mual merupakan hal yang biasa ditemui. Namun Anda dapat meredakannya dengan rajin meminum susu dingin yang bermanfaat untuk meringankan mual, maag, dan masalah lambung lainnya.

Menghidrasi tubuh
Susu cairan merupakan cairan yang bermanfaat untuk menghidrasi tubuh dengan baik. Sehingga Anda pun dapat terhindar dari gangguan kekurangan cairan selama hamil.

Susu merupakan minuman yang memberikan banyak manfaat menyehatkan bagi semua orang termasuk ibu hamil. Oleh karena itu jangan ragu untuk rajin minum susu selama hamil.(merdeka.com)
PERTANYAAN

Siapakah yang merupakan mahram kita?

JAWABAN

Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi karena adanya hubungan nasab, susuan, atau perkawinan.[1]

Adapun ketentuan tentang siapa saja yang termasuk dan yang bukan termasuk mahram telah dijelaskan dalam Al-Qur`an surah An-Nisâ` ayat 23,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَٰتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَٰتُكُمْ وَعَمَّٰتُكُمْ وَخَٰلَٰتُكُمْ وَبَنَاتُ ٱلْأَخِ وَبَنَاتُ ٱلْأُخْتِ وَأُمَّهَٰتُكُمُ ٱلَّٰتِىٓ أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَٰتُكُم مِّنَ ٱلرَّضَٰعَةِ وَأُمَّهَٰتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَٰٓئِبُكُمُ ٱلَّٰتِى فِى حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ ٱلَّٰتِى دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُوا۟ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَٰٓئِلُ أَبْنَآئِكُمُ ٱلَّذِينَ مِنْ أَصْلَٰبِكُمْ وَأَن تَجْمَعُوا۟ بَيْنَ ٱلْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Diharamkan atas kalian untuk (mengawini) ibu-ibu kalian, anak-anak perempuan kalian, saudara-saudara perempuan kalian, saudara-saudara perempuan dari ayah kalian, saudara-saudara perempuan dari ibu kalian, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki (kalian), anak-anak perempuan dari saudara perempuan (kalian), ibu-ibu kalian yang menyusui kalian, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu istri kalian (mertua), anak-anak istri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum bercampur dengan istri kalian itu (dan sudah kalian ceraikan), tidaklah berdosa kalian kawini, (dan kalian diharamkan terhadap) istri-istri anak-anak kandung kalian (menantu), dan menghimpun dua perempuan yang bersaudara (dalam perkawinan), kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam ayat ini disebutkan beberapa orang mahram, yaitu:

Pertama, أُمَّهَاتُكُمْ (ibu-ibu kalian). Ibu dalam bahasa arab artinya setiap yang nasab lahirmu kembali kepadanya. Definisi ini mencakup:

Ibu yang melahirkanmu.
Nenekmu dari ayah maupun ibumu.
Nenek ayahmu dari ayah maupun ibunya.
Nenek ibumu dari ayah maupun ibunya.
Nenek buyut ayahmu dari ayah maupun ibunya.
Nenek buyut ibumu dari ayah maupun ibunya.
dan seterusnya ke atas.

Kedua, وَبَنَاتُكُمْ (anak-anak perempuan kalian). Anak perempuan dalam bahasa arab artinya setiap perempuan yang nisbah kelahirannya kembali kepadamu. Definisi ini mencakup:

Anak perempuanmu.
Anak perempuan dari anakmu (cucu perempuan).
Anak perempuan dari cucumu (cicit perempuan).
dan seterusnya ke bawah.

Ketiga, وَأَخَوَاتُكُمْ (saudara-saudara perempuan kalian). Saudara perempuan ini meliputi:

Saudara perempuan seayah dan seibu.
Saudara perempuan seayah saja.
dan saudara perempuan seibu saja.

Keempat, وَعَمَّاتُكُمْ (saudara-saudara perempuan dari ayah kalian). Yang termasuk dalam kategori saudara perempuan ayah adalah:

Saudara perempuan ayah dari satu ayah dan ibu.
Saudara perempuan ayah dari satu ayah saja.
Saudara perempuan ayah dari satu ibu saja.
Masuk juga di dalamnya saudara-saudara perempuan kakek dari ayah maupun ibumu.
dan seterusnya ke atas.

Kelima, وَخَالاَتُكُمْ (saudara-saudara perempuan dari ibu kalian). Yang termasuk dalam saudara perempuan ibu sama seperti yang termasuk dalam saudara perempuan ayah, yaitu:

Saudara perempuan ibu dari satu ayah dan ibu.
Saudara perempuan ibu dari satu ayah saja.
Saudara perempuan ibu dari satu ibu saja.
Saudara-saudara perempuan nenek dari ayah maupun ibumu.
dan seterusnya ke atas.

Keenam, وَبَنَاتُ الْأَخِ (anak-anak perempuan dari saudara laki-laki). Anak perempuan dari saudara laki-laki mencakup:

Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ayah dan satu ibu.
Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ayah saja.
Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ibu saja.
Anak-anak perempuan dari anak perempuannya saudara laki-laki.
Cucu perempuan dari anak perempuannya saudara laki-laki.
dan seterusnya ke bawah.

Ketujuh, وَبَنَاتُ الْأُخْتِ (anak-anak perempuan dari saudara perempuan). Ini sama dengan anak perempuan saudara laki-laki, yaitu meliputi:

Anak perempuan dari saudara perempuan satu ayah dan ibu.
Anak perempuan dari saudara perempuan satu ayah saja.
Anak perempuan dari saudara perempuan satu ibu saja.
Anak-anak perempuan dari anak perempuannya saudara perempuan.
Cucu perempuan dari anak perempuannya saudara perempuan.
dan seterusnya ke bawah.

Catatan penting

Tujuh poin yang tersebut di atas adalah mahram karena nasab, sehingga kita bisa mengetahui bahwa ada empat orang yang bukan termasuk mahram walaupun ada hubungan nasab. Mereka itu adalah:

Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ayah (sepupu).
Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibu (sepupu).
Anak-anak perempuan dari saudara perempuan ayah (sepupu).
Anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibu (sepupu).

Mereka ini bukanlah mahram dan boleh dinikahi.

Kedelapan, وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِيْ أَرْضَعْنَكُمْ (ibu-ibu yang menyusui kalian). Yang termasuk ibu susuan adalah:

Ibu susuan itu sendiri.
Ibunya ibu susuan.
Neneknya ibu susuan.
dan seterusnya keatas.

Catatan Penting

Kita melihat bahwa, dalam ayat ini, ibu susuan dinyatakan sebagai mahram, sementara menurut ulama, pemilik susu adalah suaminya, karena sang suamilah yang menjadi sebab istrinya melahirkan sehingga mempunyai air susu. Maka penyebutan ibu susuan sebagai mahram dalam ayat ini adalah merupakan peringatan bahwa sang suami adalah sebagai ayah bagi anak yang menyusu kepada istrinya. Dengan demikian, anak-anak dari ayah dan ibu susuannya, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, dianggap sebagai saudaranya (sesusuan). Demikian pula halnya dengan saudara-saudara dari ayah dan ibu susuannya, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, dianggap sebagai paman dan bibinya. Oleh karena itulah, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menetapkan dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhâry dan Imam Muslim dari hadits Aisyah dan Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ sebagai berikut.
إِنَّهُ يُحْرَمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يُحْرَمُ مِنَ النَّسَبِ

“Sesungguhnya, menjadi mahramlah dari susuan, segala apa yang menjadi mahram dari nasab.”

Kesembilan, وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ (dan saudara-saudara perempuan kalian dari susuan). Yang termasuk dalam kategori saudara perempuan sesusuan adalah:

Perempuan yang engkau disusui oleh ibunya (ibu kandung maupun ibu tiri).
Atau perempuan itu menyusu kepada ibumu.
Atau engkau dan perempuan itu sama-sama menyusu pada seorang perempuan yang bukan ibu kalian berdua.
Atau perempuan yang menyusu kepada istri yang lain dari suami ibu susuanmu.

Kesepuluh, وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ (dan ibu istri-istri kalian). Ibu istri mencakup, ibu dalam nasab dan seterusnya keatas, serta ibu susuan dan seterusnya keatas . Mereka ini menjadi mahram jika terjadi akad nikah antara kalian dan anak perempuan mereka, walaupun belum bercampur.

Tidak ada perbedaan antara ibu dari nasab dan ibu susuan dalam kedudukan mereka sebagai mahram. Demikian pendapat jumhur ulama seperti Ibnu Mas’ûd, Ibnu Umar, Jâbir dan Imrân bin Husain, juga pendapat kebanyakan para tabiin dan pendapat Imam Malik, Imam Syâfi’i, Imam Ahmad dan Ashhâb Ar-Ra’yi, yang mereka berdalilkan dengan ayat yang telah tersebut di atas. Oleh karena itu, kita tidak bisa menerima perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyatakan kebolehan seorang lelaki menikah dengan ibu susuan istrinya dan saudara sesusuan istrinya. Wallâhu A’lam.

Kesebelas,

وَرَبَآئِبِكُمُ اللاَّتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِنْ نِسَآئِكُمُ اللاَّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ (anak-anak istri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum bercampur dengan istri kalian itu (dan sudah kalian ceraikan), tidaklah berdosa kalian kawini). Ayat ini menunjukkan bahwa ar-rabâ`ib adalah mahram. Menurut bahasa arab, ar-rabâ`ib ini mencakup:

Anak-anak perempuan istrimu.
Anak-anak perempuan dari anak-anak istrimu ( cucu perempuannya istri).
Cucu perempuan dari anak-anak istrimu.
dan seterusnya ke bawah.

Namun, dalam ayat ini, ar-rabâ`ib menjadi mahram dengan syarat apabila ibunya telah digauli. Adapun kalau ibunya diceraikan atau meninggal sebelum digauli oleh suami sang ibu tersebut, ar-rabâ’ib ini bukan mahram dari suami ibunya, bahkan suami ibunya itu bisa menikah dengannya. Ini merupakan pendapat jumhur ulama seperti Imam Malik, Ats-Tsaury, Al-Auzâ’y, Ahmad, Ishâq, Abu Tsaur dan lain-lainnya. Hal ini berdasarkan zhahir ayat di atas,

مِّن نِّسَآئِكُمُ ٱلَّٰتِى دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُوا۟ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ

“Dari istri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum bercampur dengan istri kalian itu (dan sudah kalian ceraikan), tidaklah berdosa kalian kawini.”

Adapun yang tersebut dalam ayat pada kata dalam pemeliharaanmu (dari kata ar-rabâ`ib yang dalam pemeliharaanmu) bukanlah sebagai syarat agar ar-rabâ`ib dianggap sebagai mahram, karena semua ar-rabâ`ib, baik yang di dalam maupun yang di luar pemeliharaan, adalah mahram menurut pendapat jumhur ulama. Jadi kata dalam pemeliharaanmu hanya menunjukkan bahwa kebanyakan ar-rabâ`ib itu berada dalam pemeliharaan, atau hanya menunjukkan kedekatan ar-rabâ`ib tersebut dengan ayahnya. Dengan demikian, tampaklah hikmah mengapa ar-raba`ib ini menjadi mahram. Wallâhu A’lam.

Keduabelas, وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ (istri-istri anak-anak kandungmu [menantu]).

Ini meliputi:

Istri dari anak kalian.
Istri dari cucu kalian.
Istri dari anaknya cucu.
dan seterusnya kebawah, baik dari nasab maupun sesusuan.

Mereka semua menjadi mahram setelah akad nikah, dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini.[2]

Catatan

Demikianlah penjelasan tentang mahram dalam surah An-Nisâ`. Namun perlu diingat, pembicaraan dalam ayat ini, walaupun ditujukan langsung kepada laki-laki dan menjelaskan rincian tentang siapa yang merupakan mahram bagi mereka, tidaklah menunjukkan bahwa dalam ayat ini tidak dijelaskan tentang siapa mahram bagi perempuan, karena Mafhûm Mukhâlafah (pemahaman kebalikan) dari ayat ini menjelaskan hal tersebut.

Misalnya disebutkan dalam ayat, “Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian,” maka mafhûm mukhâlafah-nya adalah, “Wahai para ibu, diharamkan atas kalian menikah dengan anak-anak kalian.”

Permisalan lain, disebutkan dalam ayat, “Dan anak-anak perempuan kalian” maka mafhûm mukhâlafah-nya adalah, “Wahai anak-anak perempuan, diharamkan atas kalian menikah dengan ayah-ayah kalian,” dan demikian seterusnya.

Sebagai pelengkap pembahasan ini, kami sebutkan ayat dalam surah An-Nûr ayat 31,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ

“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki mereka yang tidak berkeinginan (kepada wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat.”

Demikianlah, mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat. Wa âkhiru da’wâna `anilhamdu lillâhi Rabbil ‘Âlamîn.
  • [1] Lihat Ahkâm An-Nazhar Ilâ Al-Muharramât hal. 32.
  • [2] Lihat pembahasan di atas dalam Al-Mughny 9/513-518, Al-Ifshâh 8/106-110, Al-Inshâf 8/113-116, Majmu’ Al-Fatâwâ 32/62-67, Al-Jâmi’ Lil Ikhtiyârât Al-Fiqhiyyah 2/589-592, Zâdul Ma’âd 5/119-124, Taudhîhul Al-Ahkâm 4/394-395, Tafsir Al-Qurthuby 5/105-119, dan Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân.(http://dzulqarnain.net?akhwat.com)
Eva Vergaelen tak menyangka, Nele, putinya akan memeluk Islam. Nele selanjutnya mengganti namanya menjadi Nawal. "Ia memilih nama itu sendiri," ungkap Eva, seperti dilansir onislam.net, Selasa (8/4).

Kabar keislaman Nele, merupakan hal mengejutkan. Eva tidak pernah menyadari Nele tertarik pada Islam. Awalnya, Eva merasa perlu menjaga jarak, namun pada akhirnya ia butuh mendekatkan diri dengan pilihan putrinya.

"Ketika saya mencoba itu, ia kenakan jilbab. Saya merasa tidak nyaman," ungkap dia. Eva mengungkap banyak orang menatapnya saat itu. Hal ini yang mempengaruhi komunikasi dengan Nele.

Berjalannya waktu, Eva kerap menjadi mediator antara putrinya dan keluarga. Eva merasa perlu memainkan peran itu dengan harapan, putrinya mendapat perlindungan terhadap hak-haknya. "Di luar saya melihatnya sebagai putriku, ia seorang Muslim dengan hati yang indah," kata dia.

Eva menyadari terkadang dalam praktek Islam seperti jilbab, memiliki simbol yang luar biasa yakni kesetaraan gender. Ini jelas berbeda dengan tradisi Kristen, yang memperlihatkan makna perjuangan gender itu terlihat dari gaya berpakaian yang serba terbuka.

Selain itu, lanjut dia, ada tradisi Kristen begitu mirip dengan Islam, seperti misal puasa, doa dan bermeditasi (dzkir). Perbedaannya jelas, Islam tidak membolehkan Muslim mengkonsumsi alkohol dan babi. Ini yang dilakukan Nele ketika berkumpul bersama keluarga.

"Ini yang membuat saya selalu berpikir. Saya khawatir Nele akan terisolasi dari masyarakat," kata dia. "Tapi saya bangga padanya, memilih Islam bukanlah hal yang mudah. Walau dia Muslim, ia tetap putriku," kata Eva.

Kisah Nabi Saleh

Nele, atau kini bernama Nawal ketika berusia 17 tahun selalu bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ia harus percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW.

"Ya aku percaya itu," kata Nawal.
Selang kemudian, Nawal membaca kisah Nabi Saleh. Nawal tertarik dengan kisah ini karena memperlihatkan bagaimana keimanan itu lahir. Ini yang mengetuk pikiran Nawal, apakah ia benar-benar sudah percaya dengan Allah dan Rasul-Nya.
"Alhamdulillah, saya mengubah hati dan pikiran saya untuk itu," kenang dia.
Beralih menjadi Muslim bukanlah hal mudah. Keluarganya tentu akan menolak keputusannya itu. Ini artinya ada perbedaan besar yang akan dihadappinya. "Saya sudah memperkirakan apa nyang akan terjadi. Meski mereka tidak memahami keputusan saya, mereka ingin mempelajari Islam dengan baik," kata Nawal.
Tak terasa, sudah sembilan tahun, Nawal menjaid Muslim. Banyak hal yang sudah dipelajarinya. Ilmunya kian bertambah dan temannya semakin banyak.
Syekh Ibnu Zhafar al-Makki mengatakan,

“Saya dengar bahwa Abu Yazid Thaifur bin Isa al-Busthami radhiyallahu ‘anhu ketika menghafal ayat berikut:
“Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil.” (QS. Al-Muzzammil: 1-2)
Dia berkata kepada ayahnya, ‘Wahai Ayahku! Siapakah orang yang dimaksud Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Yang dimaksud ialah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai Ayahku! Mengapa engkau tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya qiyamul lail terkhusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diwajibkan baginya tidak bagi umatnya.’ Lalu dia tidak berkomentar.”

“Ketika dia telah menghafal ayat berikut:
‘Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.’ (QS. Al-Muzzammil: 20)
Lalu dia bertanya, ‘Wahai Ayahku! Saya mendengar bahwa segolongan orang melakukan qiyamul lain, siapakah golongan ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Mereka adalah para sahabat –semoga ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu terlimpa kepada mereka semua.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai ayahku! Apa sisi baiknya meninggalkan sesuatu yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya?’ Ayahnya menjawab, ‘Kamu benar anakku.’ Maka, setelah itu ayahnya melakukan qiyamul lail dan melakukan shalat.”

“Pada suatu malam Abu Yazid bangun, ternyata ayahnya sedang melaksanakan shalat, lalu dia berkata, ‘Wahai ayahku! Ajarilah aku bagaimana cara saya bersuci dan shalat bersamamu?’ Lantas ayahnya berkata, ‘Wahai anakku! Tidurlah, karena kamu masih kecil.’ Dia berkata, ‘Wahai Ayahku! Pada hari manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya, saya akan berkata kepada Rabbku, ‘Sungguh, saya telah bertanya kepada ayahku tentang bagaimana cara bersuci dan shalat, tetapi ayah menolak menjelaskannya. Dia justru berkata, ‘Tidurlah! Kamu masih kecil’ Apakah ayah senang jika saya berkata demikian?’.” Ayahnya menjawab, ‘Tidak. Wahai anakku! Demi Allah, saya tidak suka demikian.’ Lalu ayahnya mengajarinya sehingga dia melakukan shalat bersama ayahnya.”(kisahmuslim)
Yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga ada dua amalan yaitu takwa dan akhlak yang baik.

Yang terakhir di atas yang amat jarang ditemukan, bahkan pada orang-orang yang sudah kenal agama. Ada yang sudah lama ngaji, sudah sekian duduk di majelis ilmu, namun ia adalah orang yang sering lalaikan amanat. Dengan tampilannya yang jenggotan, namun terlihat sangar (tidak murah senyum) dan kasar. Seolah-olah yang dipentingkan adalah penampilan lahiriyah tanpa memperhatikan akhlak yang santun, amanat dan lemah lembut. Padahal seharusnya dengan rajinnya menuntut ilmu dan sudah menjalankan ajaran Rasul semakin terbimbing pada akhlak yang baik. Karena takwa dan akhlak baik itulah yang mengantarkan pada surga.

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Maksud Takwa

Takwa asalanya adalah menjadikan antara seorang hamba dan seseutu yang ditakuti suatu penghalang. Sehingga takwa kepada Allah berarti menjadikan antara hamba dan Allah suatu benteng yang dapat menghalangi dari kemarahan, murka dan siksa Allah. Takwa ini dilakukan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi maksiat.

Namun takwa yang sempurna kata Ibnu Rajab Al Hambali adalah dengan mengerjakan kewajiban, meninggalkan keharaman dan perkara syubhat, juga mengerjakan perkara sunnah, dan meninggalkan yang makruh. Inilah derajat takwa yang paling tinggi.

Al Hasan Al Bashri berkata,

المتقون اتَّقَوا ما حُرِّم عليهم ، وأدَّوا ما افْتُرِض عليهم

“Orang yang bertakwa adalah mereka yang menjauhi hal-hal yang diharamkan dan menunaikan berbagai kewajiban.”

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

ليس تقوى الله بصيام النهار ، ولا بقيام الليل ، والتخليطِ فيما بَيْنَ ذلك ، ولكن تقوى اللهِ تركُ ما حرَّم الله ، وأداءُ ما افترضَ الله ،فمن رُزِقَ بعد ذلك خيراً ، فهو خيرٌ إلى خير

“Takwa bukanlah hanya dengan puasa di siang hari atau mendirikan shalat malam, atau melakukan kedua-duanya. Namun takwa adalah meninggalkan yang Allah haramkan dan menunaikan yang Allah wajibkan. Siapa yang setelah itu dianugerahkan kebaikan, maka itu adalah kebaikan pada kebaikan.”

Tholq bin Habib mengatakan,

التقوى أنْ تعملَ بطاعةِ الله ، على نورٍ من الله ، ترجو ثوابَ الله ، وأنْ تتركَ معصيةَ الله على نورٍ من الله تخافُ عقابَ الله

“Takwa berarti engkau menjalankan ketaatan pada Allah atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau mengharap pahala dari-Nya. Termasuk dalam takwa pula adalah menjauhi maksiat atas petunjuk cahaya dari Allah dan engkau takut akan siksa-Nya.”

Ibnu Mas’ud ketika menafsirkan ayat bertakwalah pada Allah dengan sebenar-benarnya takwa yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 102, beliau berkata,

أنْ يُطاع فلا يُعصى ، ويُذكر فلا ينسى ، وأن يُشكر فلا يُكفر

“Maksud ayat tersebut adalah Allah itu ditaati, tidak bermaksiat pada-Nya. Allah itu terus diingat, tidak melupakan-Nya. Nikmat Allah itu disyukuri, tidak diingkari.” (HR. Al Hakim secara marfu’, namun mauquf lebih shahih).

Yang dimaksud bersyukur pada Allah adalah dengan melakukan ketaatan pada-Nya.

Adapun maksud mengingat Allah dan tidak melupakan-Nya adalah selalu mengingat Allah dengan hati pada setiap gerakan dan diamnya, begitu saat berucap. Semuanya dilakukan hanya untuk meraih pahala dari Allah. Begitu pula larangan-Nya pun dijauhi. (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 397-402)
Maksud Akhlak yang Baik

Dalam hadits Abu Dzar disebutkan,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Ibnu Rajab mengatakan bahwa berakhlak yang baik termasuk bagian dari takwa. Akhlak disebutkan secara bersendirian karena ingin ditunjukkan pentingnya akhlak. Sebab banyak yang menyangka bahwa takwa hanyalah menunaikan hak Allah tanpa memperhatikan hak sesama. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 454).

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan akhlak yang baik sebagai tanda kesempurnaan iman. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud no. 4682 dan Ibnu Majah no. 1162. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Akhlak yang baik (husnul khuluq) ditafsirkan oleh para salaf dengan menyebutkan beberapa contoh. Al Hasan Al Bashri mengatakan,

حُسنُ الخلق : الكرمُ والبذلة والاحتمالُ

“Akhlak yang baik adalah ramah, dermawan, dan bisa menahan amarah.”

Asy Sya’bi berkata bahwa akhlak yang baik adalah,

البذلة والعطية والبِشرُ الحسن ، وكان الشعبي كذلك

“Bersikap dermawan, suka memberi, dan memberi kegembiraan pada orang lain.” Demikianlah Asy Sya’bi, ia gemar melakukan hal itu.

Ibnul Mubarok mengatakan bahwa akhlak yang baik adalah,

هو بسطُ الوجه ، وبذلُ المعروف ، وكفُّ الأذى

“Bermuka manis, gemar melakukan kebaikan dan menahan diri dari menyakiti orang lain.”

Imam Ahmad berkata,

حُسنُ الخلق أنْ لا تَغضَبَ ولا تحْتدَّ ، وعنه أنَّه قال : حُسنُ الخلق أنْ تحتملَ ما يكونُ من الناس

“Akhlak yang baik adalah jangan engkau marah dan cepat naik darah.” Beliau juga berkata, “Berakhlak yang baik adalah bisa menahan amarah di hadapan manusia.”

Ishaq bin Rohuwyah berkata tentang akhlak yang baik,

هو بسطُ الوجهِ ، وأنْ لا تغضب

“Bermuka manis dan jangan marah.” (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 457-458).

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sifat takwa dan akhlak yang mulia. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.(Rumaysho.Com)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Diceritakan oleh Ubadah bin Shamith, suatu ketika Rasulullah SAW berada di tengah-tengah para sahabatnya, dan beliau bersabda, “Jual belilah kalian kepadaku dengan tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak melakukan kebohongan yang kalian sertai dengan kaki dan tanganmu, tidak bermaksiat dalam kebaikan, siapa saja yang menepati hal ini maka Allah akan memberinya pahala. Dan, siapa saja yang tidak melakukannya maka akan diazab di dunia dan dia akan kafir. Tetapi, siapa yang telah melakukannya dan benar maka Allah akan menutupinya. Itu semua kembali kepada Allah. Beliau lebih berhak mengazab dan memaafkan.”

Maraknya dekadensi moral saat ini sangat jauh dari pesan yang disampaikan Rasulullah SAW seperti bunyi hadis di atas. Yang dapat dipetik dari riwayat Ubadah adalah ada beberapa tindakan yang digarisbawahi karena dampak negatifnya sangat besar dan membahayakan.

  • Allah SWT juga berfirman dalam QS al-Isra 31-37. Kemudian Allah menutupnya dengan berfirman, “Dan semua kejahatan yang telah disebutkan merupakan perbuatan yang paling dibenci oleh Allah.” (QS Al-Isra 38).

Tetapi, sangat biasa bagi umat Islam menemui tragedi kejahatan sebagaimana yang telah terlarang. Semua ini mengindikasikan tindakan kotor yang sangat ditakuti umat Islam justru menjadi suatu perkara lumrah dan telah biasa dilakukan oleh orang Muslim sendiri. Bahkan, tidak malu-malu ketika tertangkap membunuh, mencuri, atau berzina. Mereka berusaha mengelak dengan membawa nama Allah.

Tindakan tersebut tidak jauh berbeda dengan langkah Fir’aun ketika dia telah tersudut dalam kekalahannya menghadapi kebenaran yang dibawa Musa AS.

  • Allah SWT berfirman, “Dan kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas Bani Israil. Ketika Fir’aun hampir tenggelam dia berkata, ‘Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang Muslim’.” (QS Yunus 90).

Tenggelam merupakan suatu contoh cobaan berbahaya yang tak satupun orang dapat mengingkari. Namun, intisari yang dapat dijadikan pelajaran adalah bagaimana Allah tidak menerima taubat Fir’aun, padahal telah bertaubat sebanyak tiga kali dalam redaksi di atas.

Imam Fakruddin Arrazi menguraikan beberapa alasan, di antaranya karena taubat dalam keadaan terpaksa ketika ketetapan telah datang.

Fir’aun menjadi salah satu sosok yang dijadikan contoh dalam Alquran dengan membawa karakter yang senonoh dan pada akhir hayatnya ingin kembali kepada Tuhan. Namun, Allah menjadikan keinginan Fir’aun berbalik karena dampak dari perbuatannya yang ingkar dengan kebenaran.

  • Allah SWT berfirman, “Keadaan mereka seperti pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka yang mendustakan ayat-ayat Kami. Allah menyiksa mereka karena dosa-dosanya. Allah sangat berat hukuman-Nya.” (QS 3:10).

Yang dapat dipetik dari tulisan di atas adalah karakter Fir’aun yang dijadikan objek dalam Alquran kini semakin tampak kentara melingkupi perilaku Muslim. Wallahu a’lam.(Khoirul Anwar Afa)
Bukan mudah untuk kita melupakan kekasih lama . Kekasih yang telah kita kenal sejak lama , tiba - tiba pergi begitu saja . Hubungan yang dibangun selama ini , putus seperti tidak ada apa yang pernah terjadi .

Meskipun hidup harus diteruskan , tetapi hati dan pikiran masih tetap teringat pada si dia . Orang yang pernah kita sayang , orang yang pernah kita gaduh , orang yang pernah kita mengusik dan bermanja . Bukan mudah untuk melupakan semuanya , kan ?

Tetapi jika Anda benar - benar ingin melupakan si dia , di sini saya kongsikan 12 cara bagaimana untuk melupakan kekasih lama .

1 . Daftar hal - hal yang Anda ingin lakukan selama ini yang Anda tidak pernah lakukan : Selama Anda berkenalan dengan kekasih lama , Anda memiliki banyak hal yang ingin Anda lakukan . Tapi karena kendala waktu dan komitmen dalam hubungan membuat Anda tidak berkesempatan untuk melakukannya . Dengan mencantumkan hal - hal yang Anda ingin lakukan ini akan membuat Anda dapat melihat betapa banyaknya hal lain yang dapat Anda lakukan selain mahal kekasih lama yang tidak lagi bersama Anda .

2 . Ceriakan diri Anda : Memang sulit untuk melalui hari - hari tanpa si dia di sisi . Diri terasa sepi , sunyi tanpa teman . Tapi hidup harus diteruskan . Meskipun berbagai dugaan yang dilalui , Anda harus kuat untuk melanjutkan kehidupan Anda . Mulai sesuatu yang baru . Setidaknya Anda akan merasa senang karena memiliki pengalaman baru .

3 . Jumpa dengan teman - teman lama : Atau bertemu dengan teman - teman baru Anda . Salah satu cara untuk Anda berkenalan dengan teman baru adalah dengan bergabung asosiasi atau klub yang sama minat dengan Anda . Mungkin Anda minat pada kucing . Jadi apa kata Anda cari fanpage penggemar kucing di Facebook seperti Dunia Kucing misalnya , dan berkenalanlah dengan penggemar kucing yang lain .

4 . Brainwash dan gunakan akal logis untuk menghilangkan perasaan sedih : Jika pasangan Anda sebelum ini menyusahkan hidup Anda , jadi mudah untuk Anda melupakannya . Apa yang perlu Anda lakukan adalah imbas kembali benda - benda negatif yang menyakitkan hati yang pernah si dia lakukan . Itu akan membuat Anda semakin menyampah untuk ingat pada kekasih lama itu . Tetapi , jika si dia adalah seorang yang baik , mungkin sedikit sulit untuk Anda melupakannya . Anda harus senang karena Anda diberikan kesempatan untuk bertemu dan berkenalan dengan seorang kekasih yang baik hati . Setiap hal yang terjadi pasti ada hikmahnya . Mungkin kebaikan yang Anda terima dari si dia selama ini adalah untuk membuat Anda lebih kuat untuk hubungan Anda yang akan datang .

5 . Hargai dirinya : Walau apapun yang pernah terjadi antara Anda dengan si dia , maafkanlah segala kesalahan dan kesalahannya . Jika Anda berani , bertemu dan berhadapan dengan dia . Nyatakan kepadanya yang selama ini sangat terasa hati ketika bersama dengannya . Tapi , katakan juga yang Anda telah memaafkan segala kesalahan yang telah si dia lakukan . Ini akan membuat diri Anda merasa lebih lega karena telah memaafkan dan membebaskan perasaan dendam yang tersimpan dalam diri Anda selama ini .

7 . Pandanglah jauh ke depan : Ingatlah , kehidupan ini adalah untuk memberi dan menerima . Tidak selalu dengan bercinta hanya akan membuat diri Anda ceria . Ada banyak lagi hal lain yang memungkinkan Anda untuk pergi jauh ke depan . Jadikan segala apa yang terjadi pada diri Anda selama ini sebagai pelajaran yang berarti dalam diri Anda . Secara tidak lansung , perasaan sedih dan kekhawatiran Anda akan hilang dengan sendirinya .

8 . Kuatkan semangat : Jangan mudah putus asa dan berhenti berharap . Anda harus kuatkan semangat Anda . Meskipun si dia telah pergi meninggalkan Anda , tetapi Anda sebenarnya masih memiliki hal lain yang bisa menyenangkan hati Anda . Kembalilah kembali mengingat Allah Yang Maha Esa . Mungkin selama ini Anda lalai dan lupa kepada siapa yang harus Anda curahkan perasaan dan derita . Kembalilah kepada , dan bersyukurlah karena Allah masih menyanyangi Anda dengan memberikan tes - tes seperti ini agar Anda tidak menyimpang jauh dariNya .

9 . Hindari dari bercerita tentang kekasih lama Anda : Benda yang berlalu , usahlah dikenang . Yang pergi , biarkan ia berlalu pergi . Janganlah Anda asyik berceritakan tentang kekasih lama Anda ke teman - teman Anda . Semakin banyak Anda ceritakan kisah - kisah lama dengan teman , semakin meluat dan pengap mereka rasa . Jangan pula sampai teman meninggalkan Anda pula . Bila Anda sendirian , semakin sukarlah untuk Anda melupakan pasangan Anda itu nanti .

10 . Hapus semua : Ya , padamkan segala pesan - pesan SMS , panggilan telepon , atau no phone si dia dari handphone Anda . Ini mungkin menyakitkan , mungkin sulit , tetapi itu adalah kebaikan untuk Anda untuk melupakannya . Setelah semua , Anda tidak membutuhkannya lagi , kan ? Tidak guna untuk Anda menyimpan segala kenangan itu semua dalam handphone dan laptop Anda . Lempar saja .

11 . Hindari sendirian : Bila Anda sendirian , Anda akan cenderung untuk mengingat kembali kekasih lama Anda . Untuk itu , adalah lebih baik jika Anda melakukan hal - hal lain atau berkonsultasilah dengan teman Anda . Jangan duduk sendirian dan memasang lagu - lagu romantis yang biasa Anda berdua dengar bersama - sama pada suatu ketika dahulu . Saya tahu , setiap pasangan pasti memiliki " lagu tema " mereka masing - masing . Jika Anda ingin melupakan si dia sepenuhnya , hindari dari mendengar lagu tema Anda berdua .

12 . Menyingkirkan segala benda yang membuat Anda ingat pada si dia : Ini mungkin satu tindakan yang drastis , tetapi ianya satu cara yang paling terbaik untuk Anda melupakannya . Menyingkirkan segala benda yang membuat Anda ingat pada kekasih lama . Jika si dia pernah berikan Anda jam tangan , boneka beruang , baju , atau apa saja , buang saja ke dalam tong sampah . Jika Anda masih ada perasaan belas kasihan , pulangkan kembali barang - barang itu kepada si dia . Anda tidak membutuhkannya lagi . Anda ingin melupakannya . Jadi buang saja benda - benda tersebut yang tidak lagi berarti dalam hidup Anda .

Ingatlah , walau apapun yang terjadi dalam hidup kita , pasti ada hikmahnya . Cuma kita saja yang belum menemukan dan merasakan kebaikan atas apa yang telah terjadi pada diri kita .

Hidup tidak semstinya selalu indah . Kadang - kala kita di atas , terkadang kita di bawah .

Memang sulit untuk melupakan orang yang kita sayang , tetapi demi diri kebaikan diri sendiri jugalah kita harus berusaha melupakan kekasih lama .

Saya doakan agar Anda tabah , dan kuat menghadapi tantangan liku - liku kehidupan dalam percintaan . :) (tentangcinta)