Select Menu

Puisi

Kisah Inspiratif

Jodoh

Artikel Doa

Cinta Karena Allah

Dunia Muslimah

Seputar Remaja

Dunia Putri

Tanya Jawab


Ketahuilah Saudaraku, bahwasanya ada suatu penyakit yang apabila tidak diobati dapat merusak iman dan akal sehat penderitanya. Penyakit yang biasanya menimpa kawula muda ini bernama kasmaran.

Mengapa kasmaran dinamakan penyakit yang berbahaya dan harus diobati? Hal ini dikarenakan si penderita lebih sibuk mencintai dan mengingat makhluk sehingga lalai mencintai serta mengingat Allah. Si penderita juga akan merasakan tersiksanya hati karena makhluk yang dicintai. Siapa saja yang mencintai sesuatu selain Allah pasti akan tersiksa karenanya. Hidup orang yang kasmaran seperti halnya tawanan yang terikat. Sebaliknya, hidup orang yang terbebas pikirannya dari mabuk cinta adalah lepas dan merdeka. Seperti dikatakan penya’ir:
Ia bebas dalam pandangan mata, padahal sebenarnya tawanan
Yang sakit dan mengelilingi pusat kebinasaan
Ia adalah mayat yang terlihat hidup dan berjalan
Yang tidak akan bangkit meski tiba hari Kebangkitan
Hatinya hilang dalam gemuruh kesengsaraan
Yang tidak tersadarkan hingga kematian menjemput

Jika kasmaran kuat dan kokoh di hati penderita, niscaya ia akan merusak pikiran dan lalai dari kemaslahatan agama dan dunianya. Semakin hati itu dekat dengan cinta semu, ia pun akan semakin menjauh dari Allah sehingga syaiton pun mudah menguasai dirinya.

Dengan demikian, penyakit kasmaran perlu untuk diobati. Rasulullah bersabda,
Artinya: “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah.” (HR.Muslim)
Berikut beberapa trik mengatasi kasmaran:

Langkah pertama, Obat penyakit yang fatal ini dimulai dari kesadaran penderita bahwa cobaan yang menimpanya merupakan lawan dari tauhid. Hal ini terjadi karena kebodohan dan kelalaian hatinya kepada Allah. Oleh sebab itu, wajib baginya mengetahui hakikat tauhid kepada Allah, sunnah-sunnahNya, dan ayat-ayatNya.

Selanjutnya, dia harus melaksanakan seluruh ibadah baik lahir maupun batin supaya hatinya sibuk sehingga tidak berpikir tentang kasmarannya. Ia juga harus memperbanyak ketundukan hati dan bersandar kepadaNya untuk memalingkan perasaan cinta tersebut dengan mengembalikan hatinya kepada Allah. Tidak ada obat yang lebih bermanfaat daripada ikhlas kepada Allah. Inilah obat yang disebutkan dalam kitabNya sebagaimana firman-Nya :

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Artinya: “… Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.” (QS Yusuf: 24)

Hendaklah si penderita kasmaran berusaha dengan gigih untuk mengobati penyakit kasmarannya, karena kasmaran hanya manis pada awalnya tetapi pada pertengahannya menyebabkan kesulitan, kesibukan hati, bahkan penyakit jiwa lalu akhirnya adalah ‘kebinasaan dan pembunuhan’. Na’udzubillah.

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita agar kita senantiasa melakukan amalan ketaatan dan meninggalkan amalan yang sia-sia. (www.muslimah.or.id)

Penyusun: Dwi Pertiwi
Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Referensi : “Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’”. Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah
Kisah aneh baru saja terjadi di Yaman. Dalam acara lamaran, gadis yang sedang dilamar malah meminta dinikahi oleh ayah calon suaminya sendiri.

Seperti diberitakan El-Watan News, Selasa (14/10/2014) hari ini, seorang pemuda Yaman bercerita bahwa ayahnya (40 tahun) menawarinya menikah dengan seorang gadis (18 tahun). Pemuda itu belum mengenal sang gadis, tapi dia langsung menyetujui tawaran sang ayah.

Maka tibalah hari saat sang ayah berkunjung ke rumah gadis itu bersama ibu dan bibinya. Kunjungan itu adalah untuk menyerahkan mahar yang telah disepakati sebesar satu juga Riyal (sekitar Rp. 50 juta).

Pemuda itu melanjutkan ceritanya, “Ketika pulang, ibu mengatakan bahwa gadis itu menolak menikah denganku. Tapi dia malah meminta menikah dengan ayahku. Awalnya ibu mengira gadis itu sedang bercanda. Tapi gadis itu kemudian bersumpah bahwa dia tidak sedang bercanda.”

Seperti diceritakan sang ibu kepada anaknya yang gagal menikah ini, sang ibu berkata kepada gadis itu, “Kamu tidak tahu malu, ingin menikah dengan suamiku di depan mataku sendiri.” Gadis itu menjawab, “Aku ingin menikahinya sesuai dengan syariat dan atas persetujuanmu.”

Tidak hanya itu, bahkan sang gadis menurunkan nilai maharnya setengah, sehingga menjadi 500 ribu Riyal saja, bila menikah dengan ayah calon suaminya itu. (msa/dakwatuna)